Bertahan atau Hancur

ravella han
Chapter #34

35. [END]

Beberapa tahun kemudian...


Langit sore itu mendung tipis, tidak gelap, tidak pula benar-benar cerah. Angin berembus pelan di area pemakaman elit yang tampak sangat tenang, dengan rumput hijau berpangkas dan nisan-nisan batu marmer berdiri teratur seolah di sana tidak menyeramkan, justru terasa hening dan terhormat-seperti tempat yang sengaja disiapkan untuk mereka yang pernah dicintai dengan sungguh-sungguh.


Zefanya duduk di depan makam Ibunya, Valeria. Kedua tangannya bertumpu di paha, jemarinya saling mengait, sementara pandangannya tak lepas dari nama yang terukir di nisan itu.


Valeria Anya Serafina. 


Tidak ada hiasan berlebihan. Hanya sebuah vas kecil berisi bunga segar-lily putih-yang jelas baru diletakkan sore itu.


"Maaf Zef datang telat, Mommy," ucap Zefanya pelan, suaranya hampir larut bersama angin. "Zef baru saja masuk SMA, bareng sama Liora."


Ia tersenyum tipis sambil menyentuh nisan di depannya, senyum yang tidak sepenuhnya bahagia, tapi juga tidak lagi terluka seperti dulu.


"Liora dan Kakak Nara, mereka saudara Zef. Mommy tahu itu, kan. Mereka, baik sama Zef, baik banget. Begitupun dengan Mama Willa. Mama... rawat Zef selama ini, anggap Zef seperti anak Mama sendiri, seperti Kakak Nara dan Liora tanpa sedikitpun membedakan Zef." Air mata itu perlahan turun, tanpa Zefanya sadari. Cepat-cepat tangannya mengusap. 


Willa yang menyadari pun memperhatikan wajah anaknya itu, ia mengusap punggung Zefanya pelan dan tulus.


"Zef sangat berterima kasih pada Mama. Begitupun juga Mommy pasti, kan?" lanjut Zefanya, bibirnya masih mengukir senyum itu. "Papa pun sama, Papa menepati janjinya ke Mommy. Papa jaga Zef sampai sekarang, dan selalu sayang sama Zef."


Zefanya menarik napas panjang, seolah ada beban yang selama ini bertengger di dadanya, perlahan ia turunkan satu per satu di hadapan makam itu.


"Mommy, jujur walaupun begitu... Zef tetep sering kangen sama Mommy," batinnya. "Tapi Mommy jangan khawatir, Zef juga sekarang punya Mama Willa yang sayang banget, dan selalu ada untuk Zef. Kakak Nara dan Liora pun juga, kami selalu sama-sama dan saling sayang, saling menjaga, dan melewati semuanya sama-sama apapun yang terjadi."


Willa lalu bersuara, lembut, seperti biasa.


"Valeria," ucapnya pelan, menatap makam Valeria. "Kamu gak perlu khawatir, Zefanya baik-baik saja bersama aku dan Zenan. Dia selama ini tumbuh bersama Nara dan Liora dengan baik, dia sekarang juga udah makin pinter, dan anaknya-pengertian banget..."


Zefanya tersenyum tipis menatap perempuan di sampingnya, perempuan yang menurutnya sangat tulus dan berhati luas selama beberapa tahun ini terutama kepadanya.


"Aku mungkin tidak bisa menggantikan posisi kamu sebagai ibu kandungnya. Tapi aku berjanji... selama aku masih bernapas, Zefanya akan selalu punya tempat untuk pulang. Aku sudah sangat menyayanginya, sama seperti Nara dan Liora. Dan aku serta Zenan juga akan memastikan dia selalu baik-baik saja bersama kami, tidak ada yang berbeda dengan Nara ataupun Liora."


Tangannya kini menggenggam tangan Zefanya.


"Zef anak yang kuat," lanjut Willa sambil menoleh. "Anak yang baik, dan tidak pernah mengeluh. Zef sudah bertahan sejauh ini."


"Zef akan selalu bertahan selama ada Papa dan Mama, juga Liora dan Kak Nara." Zefanya tersenyum.


Zefanya kembali menoleh melihat makam Mommynya, matanya memerah, tapi sorotnya hangat.


"Kalau Mommy lihat kita sekarang," katanya lirih. "Zef harap Mommy tenang. Karena ada perempuan sebaik Mama Willa yang hatinya sangat luas, untuk Zef."


Angin berembus lagi, kali ini sedikit kencang, membuat daun-daun kering berdesir pelan. Seolah menjadi jawaban yang tak terucap.


"Mommy tenang di sana ya. Karena Zef baik-baik saja selama ini," lanjut Zefanya. "Walaupun, kangen ke Mommy sesekali itu hal yang wajar, kan?" batinnya sambil menatap makam itu dengan senyum yang sejak tadi tak luntur dari bibirnya.


"Tenang di sana, Valeria," ucap Willa lirih, namun penuh ketulusan.


Ia kemudian berdiri lebih dulu, lalu membantu Zefanya bangkit. Ia merapikan baju anak itu sebentar, gerakan kecil yang penuh kebiasaan.


"Ayo kita pulang, Ma. Tapi, Zefanya laper," ucap Zefanya.


Willa tersenyum, membenarkan rambut anak itu. "Sampai rumah kita makan, mau beli atau masak aja?"


Zefanya tampak berpikir sebentar. "Mau Mama yang masak," ucapnya lalu memeluk manja Willa sebentar, lalu kembali berdiri tegak karena kini dirinya sudah lebih tinggi.


"Tapi nunggu dong, gapapa?" tanya Willa sambil berjalan dan saling memeluk pinggang dengan Zefanya.


Zefanya mengangguk cepat. "Makasih ya, Mama udah temenin aku ketemu Mommy."


Lihat selengkapnya