Bertemu dalam Buku

Efa Butar butar
Chapter #1

1

Suasana di ruangan perlahan kontra dari luar. -2°C yang hampir membuat seluruh tubuh membeku berangsur hangat seiring kaki yang terus melangkah masuk melewati lorong cukup panjang penuh tumpukan kertas. 

Ini sudah bulan kedua Broadway dan seluruh penjuru New York, diguyur salju. Ramalan cuaca yang disampaikan di berita pagi tadi juga bilang kemungkinan suhu ini masih akan terus turun hingga pertengahan Februari. 

Bagi warga Amerika, hari-hari berteman salju dari Desember hingga akhir Febuari bahkan kadang ditutup di bulan Maret, sudah biasa. Suka atau tidak, harus tetap diterima. Pekerja bekerja dan para siswa tetap berangkat ke sekolah seperti biasa. 

Belum ada tanda-tanda 'Snow day,' atau libur sekolah yang sengaja diadakan karena badai salju yang dianggap terlalu berbahaya bagi anak-anak. 

Uli melepas scarf dan coat hitam yang dikenakannya pagi itu meninggalkan crewneck knitted sweater berwarna caramel. Ia mengibas lembut beberapa salju yang tampak masih menempel di sana sebelum disampirkan di kursi kerjanya. 

Sebetulnya di area receptionist, perusahaan telah menyediakan coat rack. Tapi butuh waktu untuk mencari milik sendiri saat jam pulang tiba. Apalagi banyak pekerja yang menggunakan coat dengan warna yang sama. Merepotkan. 

Ia melipat syal tebalnya yang berwarna senada dengan crewneck yang ia tampilkan kini, lalu disimpan di dalam laci meja kerjanya. 

Di bawah, ia mengganti snow boots yang tadi ia kenakan menembus tumpukan salju dengan sneaker putih yang sengaja disiapkan di kantor sebagai cadangan.

Gadis itu melangkah ke pantry. Belum ada pekerja yang datang selain dirinya. Masih terlalu dini memang, tapi justru itu yang ia suka, momen mempersiapkan diri menghadapi pekerjaan tanpa harus antri dengan koleganya yang juga ingin menikmati kopi pagi. 

Ia mencuci tangan setelah tadi mengganti sepatunya. 

Sebungkus Swiss Miss Instant Hot Cocoa Mix disobek, dituang ke dalam gelas berwarna putih. Dari luar, gelas itu bertuliskan "Uli" dengan gambar perempuan rambut panjang big wavy berwarna hitam pekat yang tersenyum manis. Gelas yang sudah dimilikinya sejak 3 tahun lalu sejak bekerja di perusahaan penerbit ini.  

"Sssrrr...." Suara air panas menghantam bubuk coklat di dalam gelas, memaksa aroma menguar ke penyeduhnya, menyebar ke sebagian penjuru pantry. Uli menikmati momen itu. Ia menutup mata dan membiarkan aroma coklat kental panas menyapa ramah ke hidungnya. Menenangkan sekali. 

Perempuan itu menggenggam gelas dengan kedua tangannya. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari transfer hangat gelas berisi coklat panas ke kulit telapak tangan manusia yang kemudian disentuhkan pada kulit wajah. 

Ia melakukan kembali ritual menghirup aroma coklat panas itu, menghembuskan napas panjang lalu beranjak ke meja kerjanya. 

"Selamat pagi, Li. Sudah di sini rupanya?" Salah satu rekan kerja Uli yang baru saja tiba, menyapa sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan karena angin di luar yang berhembus cukup kuat.

"Hi! Selamat pagi, Max! Tumben sekali kau sampai secepat ini?"

"Iya, aku harus segera kirimkan naskah final novel penulis baru itu kepadamu untuk meeting dengan Mr. Alex nanti. Aku belum sempat mengirimkannya kemarin."

Uli mengangguk. "Hot chocolate , Max!" Katanya basa basi sambil melanjutkan perjalanan ke mejanya. 

Coklat panas ia letakkan di sisi kiri meja. Uli memandang nanar ke arah jendela ruangan kerjanya. Sejauh mata memandang, salju masih turun semena-mena. Di kejauhan, suara kendaraan halus terdengar. Kerlip lampu rem kendaraan yang merah menyala tampak kecil dan sedikit pudar bersaing warna dengan salju yang terus menutupi semua permukaan yang tampak di bawah sana. 

"Sudahlah... Kita tahu jarak ini tidak akan pernah berhasil menyatukan kita, Li. Kau punya hidup sendiri yang sepertinya sangat bahagia di sana. Aku juga begitu. Perempuan itu yang bikin hari-hariku lebih berwarna, Li, saat kau masih berurusan dengan banyak hal dan banyak orang di meja kerjamu..." 

Sial! Sudah empat tahun berlalu, tapi pesan teks itu masih terus menghantui Uli. Kepalanya berat tiap kali teringat. Bodohnya, kenangan itu rajin sekali muncul di ingatan. 

Uli menghela napas. Mengembalikan pandangannya ke Macbook yang sudah ia buka meski belum nyala. 

"Srrrupp..." Suara sesapan coklat panasnya terdengar cukup nyaring. Hangat melegakan. Ia mengikat rambutnya berbentuk ekor kuda, tanda jam kerjanya akan segera dimulai saat itu juga. 

Uli memang punya kebiasaan itu, mengikat rambutnya berbentuk ekor kuda sebelum memulai bekerja. Ia tak suka helai rambut jatuh di wajah atau menggelitik lembut di lehernya. 

Sebuah pop up e-mail muncul di layar laptopnya yang baru saja menyala. Nama Max tertera di sana. 

"Liii, sudah kukirimkan ke e-mailmu. Periksalah!" Max berteriak sambil berjalan ke pantry. 

"Sssttt...!" Uli lekas meletakkan jari telunjuknya ke bibir agar Max berhenti berteriak. Ia berdiri memastikan Max melihat responnya. Kepalanya celingak celinguk melihat ke berbagai sudut memastikan tidak ada orang lain yang terganggu dengan situasi ini. 

Satu lagi tentang Uli yang baru saja kita ketahui, ia tak suka seseorang berteriak saat memberikan informasi. 

Di kejauhan Max hanya tertawa kecil sebelum akhirnya benar-benar hilang di tikungan ruangan menuju Pantry. 

Uli memandangi naskah novel di depannya. Tulisan ini sebetulnya draft kiriman dari literary agent yang sudah mereka terima sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu. Namun antrian yang tak kunjung habis serta proses finalisasi buku dari penulis yang sudah deal, membuat tulisan ini baru bisa didiskusikan sekarang. 

Max bilang naskah ini membawa napas baru dalam novel genre romansa yang masuk ke mereka. "Aku tahu selera naskahmu cukup bagus, Max. Tapi aku perlu membacanya terlebih dahulu." Kata Uli bulan lalu ketika timnya membahas penulis baru yang potensial untuk diangkat. 

Lihat selengkapnya