Bertemu dalam Buku

Efa Butar butar
Chapter #2

2

William menapakkan kaki di garbarata memandang jauh ke depan lewat kaca bening yang membatasi lorong. Persis di depan, tulisan "Kualanamu International Airport" terbentang bebas. Tarikan napasnya panjang melepas rindu. Belahan Bumi lain yang sudah ia tinggalkan dalam 10 tahun belakangan kembali ia lihat lagi. "Long time no see..."

Perjalanan panjang lebih dari 20 jam di udara dan proses imigrasi yang ribet emang jelas bikin pusing kepala. Belum lagi perbedaan waktu 11 jam lebih cepat memaksa badan harus kembali beradaptasi. William mengambil stretching tipis mengembalikan sedikit rasa nyaman pada tubuhnya. 

Suara riuh terdengar dari berbagai arah. Beberapa penumpang memberi kabar kepada sanak keluarga bahwa pesawat mereka telah mendarat di bandara, beberapa memastikan jemputannya sudah tiba, beberapa sibuk memindahkan barang bawaannya dari tangan kiri ke tangan kanan dan sebaliknya. 

Sambil terus melangkah, ia menikmati pemandangan yang sudah lama tak ia lihat dan bahasa yang sudah jarang menyapa telinga. 

"Pesawat ges, pesawat! Tengok ini haa..." Penumpang lain dengan ponsel di tangannya sedang berupaya mengabadikan momen untuk dikenang di masa mendatang. Ia memastikan berbagai angle terabadikan dengan baik. 

William tersenyum tanpa menoleh. 10 tahun lalu, orang itu adalah dirinya. Anak muda yang pertama kali naik pesawat untuk melihat langsung luasnya dunia. Kakinya terus berjalan ke arah pengambilan bagasi. 

Belum juga conveyor belt berputar, penumpang sudah berkeliling di sepanjang rute bersama troli di sisi mereka masing-masing yang diletakkan agak jauh ke belakang, bersiap menunggu bagasi. William juga di sana menunggu hal yang sama saat Melisa duduk manis di area tunggu, 

Sesekali keduanya bertukar pandang saling melempar senyum. Kalau tatapan itu bisa bicara, orang akan dengar keduanya sedang memberi kode untuk sabar. 

Conveyor mulai berputar setelah 10 menit. Kerumunan mulai merapat, menatap awas pada setiap benda yang keluar dari lubang mesin. 

Koper Proxis extra large spinner dari Samsonite meluncur di atas karet pengantar bagasi itu. William cekatan mengambil saat koper tersebut persis di depannya kemudian menaruhnya di atas troli yang sudah ia siapkan sejak tadi.

Ia menatap Melisa di kejauhan. Jari telunjuk kanannnya terangkat di depan wajah "One more" bibirnya bergerak memberi tanda disambut anggukan lembut dari kekasihnya. 

Kepulangan William kali ini bukan hanya dengan koper semata, ia juga menggandeng seorang perempuan berambut pirang yang berhasil merebut hatinya di negeri Paman Sam. 

Perempuan itu, Melisa. Perempuan yang dengan tegas ditolak oleh mamanya. "Tidak bisa, Will! Harus orang Batak." Begitu katanya. 

Memang betul buah jatuh tak jauh dari pohonnya. William menolak keras aturan dan bersikukuh dengan pilihan hatinya. Sekarang, ia bahkan membawa perempuan itu langsung ke depan keluarga. 

Lamunannya pecah saat koper dari jenama dan ukuran yang sama berwarna petrol blue melintas. Ia sigap mengambilnya dan meletakan di troli yang sama. Koper terakhir yang ia tunggu, milik kekasihnya, sebelum mereka meninggalkan bandara. 

Bunyi gemeretak intens dari suara tumburan roda troli dengan lantai bandara samar terdengar tertutupi pengumuman yang menggunaan pelantang suara dan riuhnya pengguna di sepanjang bandara. 

Kedua tangan Will, begitu ia dipanggil, sibuk berpegang pada gagang troli. Di belakang, ia menggendong travelbag, sedang di depan, mini slingbag juga menempel kokoh di dadanya. Sekali lihat saja, crowdednya sangat terasa.

"Mel, you ready?"

Melisa lincah berdiri. Ia berjalan di sisi kiri Will, sedikit berjarak agar troli bisa bergerak dengan leluasa dan keamanannya juga terjaga. 

Pemandangan yang kontras cukup terlihat antara mereka. Ketika Will berjibaku dengan berbagai barang bawaan, Melisa justru terlihat berjalan anggun hanya dengan dufflebag yang menggantung di bahunya. 

Melisa memandang jarak yang tumbuh di antara mereka. Matanya memicing nakal. 

"Kata orang, salah satu ciri ketika kekasihnya tak lagi cinta itu, ya seperti ini." Kata Melisa tiba-tiba tanpa basa-basi. 

Lihat selengkapnya