"Halo semua, namaku Elleanor Nauli Manurung, panggil saja aku Uli. Aku ambil alih dari sini, ya. Kasihan yang nulis pusing mikirin POV. Lagipula, cerita ini memang cuma isi kepalaku yang tahu."
Warga berkerumun di tengah halaman. Di kampung kecil, pertikaian keluarga memang bisa jadi bahan tontonan. Mau gimana lagi, di sana tidak ada hiburan.
Keributan itu akan dikemas dalam cerita berbeda, ditambah dikurangi versi mereka, yaa sesuai kebutuhan bersama biar makin panas ceritanya.
Lalu cerita itu nantinya jadi makanan warga dan topik bahasan di sepanjang pertemuan dengan tetangga. Kemudian ketika orang yang terlibat keributan melintas, mereka pura-pura ceria, berbincang seolah-olah barusan tidak membicarakannya saja.
Tak kuduga, keributan itu jadi awal luka yang hingga kini belum beres urusannya.
Aku baru berusia 8 tahun saat itu, tidak tahu menahu soal urusan orang dewasa berantemnya karena apa. Matahari masih menyisakan sedikit warna. Saat itu, halaman rumah selalu jadi arena bermain yang paling asik untuk anak seusia kami.
Aku enggak tahu bagaimana kalian menyebutnya, tapi di daerahku, dulu ada mainan disebut kuaci, main karet sampai alep cendong atau petak umpet nama familiarnya.
Hari itu tak seperti biasa, tak ada anak-anak yang bermain di sana, hanya kami bertiga saja.
Di depan rumah panggung reot yang warna kayunya terus memudar dimakan waktu. Lamat-lamat aku ingat, aku dan kakak hanya bermain di depan rumah. Adikku juga di sana bermain kegiatan berbeda dan mama sibuk dengan tampian beras barunya tak jauh dari kami.
"Mulai sadarion da bere, unang gora au tulangmu!" - Sejak hari ini, jangan panggil aku tulangmu! Begitu kata tulang ke si bungsu sambil mengusap kepala adikku. Adik kecil yang tidak mengerti apa-apa. Jangankan dia yang usianya masih 5 tahun, aku saja enggak paham!
Dia lupa atau mungkin tidak tahu, seorang anak bisa menyerap memori dengan begitu ngerinya, membawanya hingga tua.
Entah datang dari mana, tiga laki-laki dewasa dengan masing-masing senjata datang ke depan rumah kami. Tidak usah bayangkan senjata yang mereka pegang adalah senjata api, di sana, benda itu tidak terbeli. Boro-boro, buat beli lauk yang harganya Rp25.000 saja ngutang, kok.
Mereka datang dengan menggenggam bambu, ada juga yang memegang parang. Dua dari mereka melempari rumah kami sambil terus berteriak "Kaluar si Manurung!"
Bapak, si Manurung yang ia maksud, harus keluar dari rumah itu. Kami diusir. Baginya, rumah reot yang kami tinggali sekarang haram ditempati oleh marga lain. Rumah itu milik Nainggolan. Padahal, mamaku juga Nainggolan, putri Ompung Doli, kakek kami, yang sudah duluan pergi ke keabadian.
Di suku kami, Batak, boru atau anak perempuan tidak terlalu diperhitungkan soal warisan. Ada jatahnya, tapi bukan rumah. Rumah adalah hak si anak laki-laki bontot. Tulang kami yang juga sudah berpulang.
Jadi mestinya, rumah ini pun bukan milik laki-laki tua ini. Tapi ia gigih, rumah itu adalah hak anak laki-laki pertamanya.
Bapak perantau ulung. Bahkan hingga aku melepaskan seragam SMA, ia masih berstatus sebagai perantau. Ia bekerja di berbagai kota; Jakarta, Medan, terakhir di Riau sana.
Berbeda dengan kami semua, tinggi bapak bisa diadu, 178Cm. Tergolong tinggi di tengah keluarga mama yang 160 saja untuk laki-laki sudah syukur.
Badannya tegap, tangannya besar dan kokoh. Wajar, sehari-hari, bapak bekerja sebagai welder. Dari besi di kendaraan roda delapan, hingga besi di pembangunan jalan tol, semua dilibas. Kata bapak, tidak ada besi yang tidak takluk di tangannya.
Dulu aku tidak begitu paham artinya, tapi ternyata sekarang itu adalah kesombongan yang kusuka. Bapak punya passion yang berbeda dari bapak-bapak lain di sekitarnya.
Sebutir batu melayang kembali ke seng rumah yang telah berkarat. Lemparan dan teriakan berulang agar si Manurung keluar dari sana.
Bapak datang, keluar dari rumah bawa parang. Parang yang ia bikin dengan tangannya sendiri. Belakangan aku tahu, bapak melakukan itu setelah melihat kedua abang yang ikut menyerang di luar memegang bambu.