Bertemu dalam Buku

Efa Butar butar
Chapter #4

4

Taksi online pesanan Ka Ati tiba di depan lobby rumah sakit. Tanganku sigap memasukkan berbagai barang bawaan ke bagasi mobil. Pengemudi juga dengan baik hati lekas turun dari posisinya, ia mengangkat koperku lincah. 

"Di tengah aja, di tengah" kata mama saat Ka Ati memandunya duduk di depan. Lagian, orang lemes dibikin di depan. 

"Kakak aja di depan. Biar aku yang temani mama di tengah."

Enggak banyak diskusi, kami memapah mama sampai benar-benar duduk dengan nyaman. Aku duduk di sisinya, memeluk lembut. Belum banyak yang kami bicarakan setelah bertemu. 

Mobil berbelok ke kanan menapaki jalanan kecil berbatu. Mama menutup mata, sepertinya guncangan yang timbul akibat bebatuan tersebut membuatnya sedikit tidak nyaman. Kuelus pundaknya menenangkan. 

Dari kejauhan, terlihat ramainya ibu-ibu yang berkerumun di depan rumah. Privilege yang bisa didapat hanya jika kau hidup dalam kebaikan di sebuah perkampungan. 

Ka Ati bilang kemarin group padus memang menanyakan update soal kondisi mama dan kemungkinan pulang. Semula ibu-ibu ini ingin datang berkunjung ke rumah sakit, tapi Ka Ati menolak agar mama bisa full istirahat. Alasan lainnya, besok pagi juga sudah pulang. 

So, that's why. 

"Bah, si Uli! Na ro do ho, Nang?" Aku tersenyum lebar, memeluk salah satu ibu yang mendekat menyapa begitu kakiku menapak tanah. "Ai dang dohot dope calon hela i?" 

Here we go. Dari banyaknya topik yang bisa dibahas di pertemuan pertama, pasangan selalu masuk dalam list 3 besar pertanyaan prioritas. Entah di mana urgensinya. 

"Sehat do au, Nantulang" kusindir halus. 

Tidak kurang dari 9 ibu yang menunggu di depan rumah, sebagian dari mereka kelompok paduan suara ibu-ibu gereja dari Ina Pararikamis, sebagian lagi yang tergugah hatinya untuk memastikan setiap warga dalam kondisi baik-baik saja.

Semua mulai bersuara, mengeluarkan kalimat dan pertanyaan mereka masing-masing. 

"Ai nga piga taon ho tahe dang mulak, Li?" 

"Lam Uli do ho ate, Inang." 

Terlalu ramai, aku enggak tahu pertanyaan mana duluan yang harus kujawab. "Oma majo, Nantulang, Oma." Aku menunjuk mama sambil terus mempertahankan senyum. 

Tidak perlu menunggu aba-aba, beberapa dari mereka memapah mama turun dari mobil, aku sendiri bergegas ke bagasi membantu pengemudi menurunkan barang bawaan kami. Ka Ati sudah lebih dahulu berlari ke rumah untuk menggelar tikar. 

Aku sempat diam sebentar. Di arah Timur Laut dari rumah, ada lapo yang dicat putih. Aku ingat betul, dulu itu rumah panggung. Tinggi sekali. 

Dari rumah, aku suka duduk di depan jendela menatap langsung ke rumah ini karena di belakangnya, kau bisa menyaksikan langsung keindahan jejeran Bukit Barisan. Pemandangan yang jarang kutemukan di perantauan.

Dari banyaknya wajah bapak-bapak yang sudah nongkrong di sana di pagi hari, aku mengenali wajah itu dari kejauhan. 

Wajah yang secara frontal mengusir kami dari rumah ini sejak usiaku masih belia. 

Paska memastikan mama sudah nyaman, begitupun para tamu, aku mendorong koperku bergegas ke kamar, mengeluarkan beberapa kudapan yang memang sudah kusiapkan untuk dinikmati kalau-kalau ada tetangga yang datang berkunjung. 

Ralat, pasti akan berkunjung. 

Kubawa kudapan-kudapan tersebut ke dapur dan mempercayakannya pada Ka Ati. Hatiku yang semula bermaksud membantu, urung kulakukan. Ka Ati bilang aku ke depan saja. Maksudnya duduk nemenin mama di depan. 

"Tu jolo ma ho, Li. Buan on, nah!" Camilan itu dibagi-bagi dalam beberapa wadah untuk kusajikan di depan. 

"Sambil ate, Nam." Satu per satu wadah kudapan kuletakkan di depan tamu. "Oleh-oleh, Nangud, Nantulang."

***

Aku bergegas ke ruang HR begitu dengar berita soal Mama masuk rumah sakit, mengambil jatah cuti yang tak pernah kugunakan selama bekerja di sini. 

Lihat selengkapnya