Kota Pematangsiantar tak lagi sama dengan ingatanku 1,5 dekade lalu. Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, tapi aku ingin mengatakannya lagi. Banyak hal yang berubah.
Maksudku, benar-benar banyak! Pepohonan di kiri kanan jalanan, meskipun ada, tapi tak sebanyak dulu lagi.
Jejeran cafe mudah sekali kau temukan di kota kecil ini. Sajiannya kurang lebih sama, mulai dari kopi-kopian, duplikasi dari berbagai minuman beken di kota-kota besar, hingga makanan berat yang sebetulnya menawarkan menu yang kurang lebih sama.
Sebagian dari mereka cenderung bermain dengan design cafenya. Ada yang menawarkan indoor, outdoor, ada yang menawarkan hanya indoor semata dengan design yang dibuat chic dan cocok untuk tempat nongkrongnya anak-anak muda, ada juga yang memilih tema outdoor dengan live music. Enggak kebayang, deh, kalau hujan.
Maksudku, Siantar, Simalungun dan sekitarnya itu identik dengan makanan khas Batak. Kenapa enggak bikin cafe yang relate dengan itu saja?
Desain cafe menarik yang menjual makanan Ikan Naniarsik, Dali ni Horbo, Kacang sihobuk, Babi Panggang Karo, Naniura, Tuak Tangkasan, atau saksang. Banyak sekali menu yang bisa dijual.
Kalau mengingat banyaknya perantau yang pulang di penghujung tahun dan ingin menikmati makanan khas daerahnya di tempat yang super nyaman macam di cafe-cafe ini, tentu saja tempat tersebut jadi rebutan banyak orang, bukan?
Well, aku paham banyak tempat makan dan minum yang tumbuh di daerah ini menyesuaikan dengan pasar halal sebagai salah satu upaya untuk menggaet turis yang berkunjung ke daerah Toba, tapi maksudku, di antara cafe yang menjamur, kayaknya perlu, deh, ada cafe atau tempat makan yang menyajikan makanan khas daerah barang satu atau dua saja buat kami para akamsi alias anak kampung sini ini.
Apa aku bikin saja, ya?
Sebetulnya bisa saja di lapo, hanya, lapo itu entah kenapa identik sekali dengan bapak-bapak. Banyak asap rokok, orang-orang keluar masuk dengan kondisi mabuk - tidak semua, tapi ada -, tak jarang mereka sambil nyanyi juga berteman gitar dan pecah suara yang digemari banyak orang se-Indonesia.
Coba, kalau kondisinya seperti ini, gimana seorang perempuan dewasa mau masuk ke dalamnya?
Jarang sekali ada seorang perempuan di dalam sebuah lapo, kecuali pemilik itu sendiri atau kaum ibu yang diserang hujan saat musim bertanam. Itupun sangat jarang terjadi.
Kalau di cafe dengan kondisi nyaman, bersih, bebas asap rokok, dan di-setting work from cafe-able, bakal tinggi tuh pengunjungnya. Bukankah tren pasar sedang tinggi-tingginya menyediakan cafe WFC?
Setelah memastikan mama istirahat dan mengonsumsi obat, aku ijin ke kakak untuk keluar mencari angin sekalian melawan kantuk agar tubuhku pelan-pelan bisa menyesuaikan diri dengan jam di sini.
Di atas motor matic bapak, aku menyusuri jalanan Jl. Gereja memilih salah satu cafe yang bisa jadi tempatku mencari ide tulisan hari ini.
Meski kecewa karena tidak menemukan cafe yang nyaman untuk work from cafe dengan menu-menu Batak, aku memutuskan masuk ke dalam salah satu cafe random yang menawarkan design taman dan penuh bunga - artifisial - dari luar.
Aku bahkan tak lagi melihat namanya.
Kupesan hot chocolate dan goreng gadong - jangan salahkan aku! Mereka menulis namanya begitu di buku menu alih-alih fried cassava - lucu juga.
Kuanggap ini sebagai pelipur lara dari semesta atas harapanku yang tak terwujud. Kenapa enggak semua menu aja dikasih nama pakai Bahasa Batak seperti ini, ya?
***
Suara jangkrik nyaring terdengar. Wajar saja, jam 10 malam di perkampungan saat mungkin 50% warga sudah mulai ketiduran.
Siapa tahu kau belum tahu, jangkrik itu salah satu indikator bersihnya kondisi lingkungan di suatu wilayah. Jadi meski berisik, bersyukur saja jika kau mendengar 'teriakannya.'
Aku tak banyak bicara di meeting lewat Microsoft Teams tadi malam. Sejujurnya, Max juga complaint kenapa aku harus masuk ke ruang meeting saat kondisi mamaku sedang tidak begitu prima dan statusku sedang dalam masa cuti. Ia memaksaku untuk pulang, aku memaksa untuk tetap ikutan. Kontradiktif, tapi aku menang.
Untuk orang yang hari-harinya diisi dengan pekerjaan, tidak melakukan sesuatu rasanya seperti kosong dan terasa ada yang kurang.
"What do you mean, Max? Aku sudah jauh-jauh datang ke sini - Well, enggak terlalu jauh - . Ka Ati juga sudah pulang. Aku tak seberani itu pulang sendirian di tengah rengekan jangkrik dan lolongan anjing yang panjang."