Between (When we find that way)

Rosi Risalah
Chapter #1

Zidny: A Luminous Hello

Zidny tidak begitu suka hujan. Ada kenangan masa sekolah yang membuatnya membenci hujan. Namun, hari ini dia tidak punya banyak pilihan. Berlari terburu-buru tanpa payung, Mahasiswi Sosiologi tingkat pertama itu terus memikirkan tugas presentasi yang harus dikumpulkannya.

Saat sampai, ia melihat ruangan yang akan ditempatinya makin padat daripada biasanya. Oke, Zidny baru ingat. Khusus mata kuliah hari ini, kelasnya akan disatukan dengan kelas C. Ia terlihat agak ragu untuk masuk ke ruangan yang sudah terisi oleh banyak mahasiswa itu—mungkin lebih dari 50 orang banyaknya.

Pyuh... Zidny menarik nafas lega.

"Untungnya belum mulai." Kembali dirapikannya kerudung dan tas yang sedikit basah karena terkena hujan

Buru-buru Zidny duduk di kursi baris depan dekat jendela. Aneh memang orang-orang meluangkan kursi barisan depan untuk tidak terisi. Kalau tidak barisan depan, tentu barisan belakang yang masih tersisa.

Tak lama dari itu, sekumpulan anak laki-laki mulai masuk. Wajah mereka tidak familiar bagi Zidny. Kehadiran anak-anak kelas sebelah itu cukup menghentikan sebentar aktivitas Zidny yang sedang mengeluarkan barang-barang. Pandangan Zidny sedetik beradu pada salah satu dari kumpulan itu, lalu berganti begitu saja karena dia pun cepat-cepat menuju kursi kosong di barisan belakang.

Zidny mulai mengeluarkan peralatannya ke atas meja. Ia harus bersiap. Dia sudah bertekad untuk menjadikan masa kuliahnya kehidupan yang lebih cerah! Jika masa SMP dan SMA harus ia lalui dengan sedikit berat, Zidny berharap saat kuliah semuanya dapat berjalan lancar. Ini benar-benar kesempatan dia mengeksplorasi banyak hal, walaupun kadang ia merasa takut. Takut kejadian di masa sekolahnya dulu terulang lagi.

Zidny lahir dari keluarga utuh seperti kebanyakan orang. Orang tua yang sibuk bekerja dan dua kakak laki-laki yang terpaut jarak jauh dengannya. Sehingga walaupun sebagai anak bungsu dan perempuan satu-satunya, ia terbiasa melakukan banyak hal sendirian. Masa perantauannya kini, menjadi sebuah tantangan sekaligus sesuatu yang membuatnya penasaran. Toh, biasanya dia juga sendirian, bukan? Zidny mencoba membuat dirinya terbiasa dengan banyak hal-hal baru.

“Baiklah kita mulai ya." Ibu Anggita, Dosen mata kuliah Sosiologi itu masuk dan menyapa mahasiswa di kelas. Ia mulai menyiapkan setiap media pembelajaran dan menatap para mahasiswa itu dengan tajam.

"Silakan, selanjutnya saya beri kesempatan presentasi kepada…” Ibu Anggita mulai memberi sinyal mara bahaya kepada para mahasiswa.

 Dag... dig... dug...

“Ini-nih yang menegangkan,” batin Zidny.

Zidny menunduk sambil memain-mainkan pulpennya. Hatinya berdegup, takut bila harus dipanggil maju urutan pertama. Tapi Zidny harus menetralkan raut mukanya. Kadang kala semakin ditolak suatu hal, justru semakin besar peluang untuk dirinya dipanggil.

 "Ah itu prinsip dari mana sih?!" Zidny menggeleng-gelengkan kepala. Ia berusaha bersikap biasa saja. Jangan panik Zidny. Jangan panik.

Zidny menarik nafas panjang. Tarik nafas... buang....

Batin Zidny mencoba menyiapkan mental sebaik mungkin. Sudah belasan tahun dia hidup, tetapi masih sering malu untuk berbicara di depan umum. Gugup. Tidak terbiasa. Kadang membuatnya dapat tiba-tiba sakit perut dan merasa mual.

“…Duma!” Sebuah nama dipanggil oleh Ibu Anggita.

Syukurlah bukan aku!” sorak Zidny dalam hatinya.

Saat Zidny melihat ke arah depan untuk memastikan siapa sosok yang akan presentasi, laki-laki bernama Duma berdiri dengan membawa lembaran tugasnya. Dia memakai kemeja polos berwarna hijau army. Duma adalah salah satu anak laki-laki yang baru masuk bersama kumpulan anak-anak tadi. Ia anak yang tadi Zidny lihat!

Duma memaparkan tugasnya dengan baik. Zidny melihat Duma terlihat tidak gugup sama sekali. Walaupun rambutnya sedikit kebasahan oleh air hujan, Duma merapikan sedikit, tersenyum kepada Ibu Anggita, lalu menjelaskan tugasnya.

Public Speakingnya bagus. Penyampaiannya tertata. Substansinya ada!” puji Zidny dalam hati. Ia benar-benar kagum pada ketenangan Duma dalam menyampaikan tugasnya. Berbanding terbalik dengan dirinya yang terkadang gugup dan jadi kurang jelas dalam menyampaikan sesuatu.

Lihat selengkapnya