Between (When we find that way)

Rosi Risalah
Chapter #2

Team Work

Hari yang dijanjikan tiba, kelompok tugas Pengantar Sosiologi urutan ke-3 itu berkumpul di tribun fakultasnya. Cuaca cerah. Langit biru. Walaupun Sabtu, kampus masih tetap ramai. Ya… Namanya tugas tiada henti, bukan? Apalagi tugas kelompok. Zidny baru tiba ketika melihat Duma dan Nala sudah datang. Mereka berdua terlihat asyik mengobrol entah apa di salah satu sudut tribun. Duma yang melihat Zidny langsung mengajaknya untuk gabung.

Nala ini hampir sama cerianya dengan Duma. Rambutnya sebahu, menggambarkan definisi gadis cantik dan punya senyum yang indah seperti sunshine. Matanya berbinar-binar saat sedang berbicara. Satu hal first impression Zidny pada Nala, dia orangnya pasti mudah disukai! Zidny jadi ragu apakah dia bisa akrab dengan Nala?

“Eh, by the way, Zidnay ngekos dimanaaa?” tanya Nala mulanya. Langsung punya panggilan zidnay kepada Zidny.

“Aku ngekos di Pogung. Kalau Nala?”

“Wah dekat sama si Duma, dong! Aku di condong catur. Tapi, nanti pulangnya bareng aku saja, yuk? Aku mau ke Jakal,”

“Boleeeh. Terima kasih Nala…” Zidny tersenyum tulus. Nyatanya ketakutannya tidak terbukti. Nala orangnya sangat humble dan punya energi yang sangat positif. Pembawaannya juga sangat antusias, suka bercanda dan berwawasan luas. Nala banyak bercerita sambil menunggu Juna datang.

"Kamu pernah denger banana war, nggak?" tanya Nala tiba-tiba.

"Apa itu?" Zidny menjawab dan ikut penasaran.

Nala pun kemudian bercerita tentang apa yang ditemukannya saat browsing di internet. Tentang perang yang disebabkan oleh keserakahan orang-orang terhadap pisang. Duma juga langsung menambahi. Obrolan mereka kesana-kemari dengan seru. Sampai merutuki elit-elit global yang menguasai hampir 2/3 kepemilikan dunia. Pembicaraan terus berlanjut dengan cerita-cerita Nala yang tiada habisnya.

Zidny senang mendengarkan Nala berceloteh macam-macam, dia pun mencoba menimpali agak panjang agar obrolan menjadi seru. Tapi, jujur saja, energinya tidak sebanyak itu untuk mengimbangi semangatnya Nala dan Duma. Zidny kadang bingung membuat obrolan menjadi lebih asyik dan panjang. "Sepertinya memang energiku tidak bisa menyamai energi Nala atau Duma saat berinteraksi dengan orang-orang." Kata Zidny dalam hati.

"Kok lama juga ya, Juna?" Nala tiba-tiba menghentikan obrolannya. Duma mengangguk, ia melihat handphonenya namun tidak ada info apa-apa dari Juna.

Tiba-tiba seorang anak lewat di depan mereka, Duma langsung memanggil anak itu. Kalau Zidny tidak salah ingat, dia juga salah satu dari kumpulan anak laki-laki yang datang bersama Duma saat terjebak hujan beberapa hari lalu.

"Git! Sigit! Lihat Juna, nggak?" tanya Duma pada anak bernama Sigit itu.

"Lah, mana aku tahu! Aku bukan baby sitternya,"

"Kamu kan tetangganya!"

"Nggak tahu egee... aku udah berangkat dari tadi pagi, nggak ketemu Juna."

"Oh iyasih…, oke-oke," Duma memberi isyarat Sigit untuk pergi. Membiarkan bocah itu melanjutkan aktivitasnya.

"Dum, kamu nggak pulang kampung minggu ini?" tanya Nala.

Lihat selengkapnya