Between (When we find that way)

Rosi Risalah
Chapter #3

His Act of Kindness

Hari-hari dengan aktivitas penuh bagi Zidny dan kawan-kawan. Mereka berempat sudah survey, dan Duma menemukan tempat yang strategis untuk jadi rumah singgah mereka. Mereka berencana membuat sekolah informal kecil-kecilan untuk anak-anak di sekitar situ.

Rumah singgah mereka dekat Pasar Pakem, Sleman, Yogyakarta. Banyak makanan dijual di sana. Mereka memarkirkan motor berdekatan, sehingga Zidny bisa melihat Duma terlihat kesal melihat Nala yang memarkirkan motor sembarangan. Nala sambil bersungut-sungut merapihkan parkir motornya dan tidak lama Duma pun ikut membantu memarkirkan motor Nala lebih cepat daripada tukang parkir. Mereka berdua kadang kala seperti tom and jerry. Zidny bertanya-tanya, ada hubungan apa antara mereka berdua? Berteman sejak dulu? atau...

Kemudian Duma kembali membagi-bagi tugas. Nala dan Juna diminta untuk survey kepada warga sekitar terkait perizinan. Sementara Zidny dan Duma fokus mencari anak-anak di sekitar sana. Katanya ada beberapa kenalan Duma yang memang bisa dijadikan partner untuk ikut rumah singgah ini.

"Kamu aslinya orang mana, sih, Jun?" tanya Nala setelah selesai memarkirkan motor. Dia masih memikirkan kemiripan Juna dengan orang terkenal di luar sana.  

"Solo,"

"Wah, mas-mas Solo toh... Nggih..." Nala langsung pose namaste. Tapi dia masih tidak terpikir sama sekali. Mirip siapa Juna ini?

“Kamu tahu nggak tentang urban legend di Solo? Yang kereta jatuh itu?”

Juna menggeleng,

“Kok nggak tahu…” Nala terlihat kecewa

“Hehe…aku tinggal di Yogya kok sudah lama, dan nggak terlalu suka horror.” jawab Juna lagi.

Nala mangut-mangut, “Baiklah.”

"Kalau gitu kita kesana dulu, ya, Dum." ucap Juna pada Duma dan Zidny. Duma mengangguk. Mereka memang berjanji berpencar, lalu nanti bertemu lagi di depan (calon) rumah singgah mereka. Tempat kosong bekas parkiran sebuah rumah di dekat sana.

"Aku mau cari my brothers," jawab Duma. Zidny bingung, namun dia mengikuti saja.

Kemudian ada seorang anak perempuan berbaju lusuh, membawa satu keranjang besar. Matanya beradu dengan mata Duma dan Zidny. Dengan ragu-ragu dia menjajakan dagangannya.

"Ka… ma-mau beli kue?" tawarnya hati-hati. Suaranya sedikit bergetar.

Biasanya, kalau menghadapi kondisi seperti ini, banyak orang yang menolak dan kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Zidny juga sempat ragu untuk membalas ucapan anak itu. Namun Duma justru tersenyum ramah dan mengajak anak itu untuk duduk di pinggir toko yang tutup.

"Wah! Kayaknya enak nih. Siapa yang buat, dek?"

"Ini buatan ibu saya kak... aku juga bantu sih, hehe"

"Wahhh!" Duma lalu memilih-milih kuenya. Ada banyak jajanan pasar. Duma mengambil dua kue sus, dan dua risol sayur. Duma menawarkan jajanan itu pada Zidny dan Zidny langsung ikut mengambil kue sus.

"Ini kakak beli lima. Tiga kue sus, dua risol yaa..."

Lihat selengkapnya