Sore itu, Zidny, Duma, Nala dan Juna berkenalan dengan beberapa anak di daerah Pakem. Ada Obi, si ceria yang suka sekali susu yang dibawa Duma. Dia bertemu dengan Duma saat menjual tisu di halte bus dan jadi akrab karena sering mengobrol banyak dengannya. Usianya tujuh tahun, tapi sudah punya mindset jadi pebisnis tangguh. Dia terpaksa berjualan untuk membantu perekonomian di keluarganya. Ayahnya tidak ada dan dia hanya tinggal dengan ibu dan kakaknya, Ain. Duma sepertinya sangat menganggap Obi sebagai adiknya sendiri.
“Nanti kalau kamu sudah gede, jangan lupain Om.”
“Katanya nggak mau dipanggil Om?”
“Ohiya, kakak. Jangan lupakan Kakak Duma,” Duma melakukan akting sedih dan disambut tawa oleh Obi dan kawan-kawannya.
Selanjutnya ada Eri, teman sekelas Obi. Dia juga suka berjualan kue buatan mamaknya setelah pulang sekolah, bersama Murni adiknya. Eri dan Murni hanya berbeda selisih 1 tahun. Murni berusia 7 tahun seperti Obi, namun belum masuk sekolah. Eri ini lebih pemalu daripada Obi, tetapi memiliki senyum secerah matahari pagi.
“Kamu sukanya apa?”
“Hm… Eri suka masak.”
“Kalau besar mau jadi chef?” pancing Duma.
“Engga kak. Saya mau jadi Guru, biar bisa mengajar anak-anak.”
“Bagus sekali! Kakak doakan Eri pasti mencapai cita-citanya!” Duma mengangkat jempol. Eri tersenyum malu-malu.
“Kalau dek Murni?”
Anak bermata belo itu bersembunyi di belakang punggung kakaknya.
“Masih malu-malu, Kak Duma.” Eri menyenggol-nyenggol adiknya supaya berbicara dengan Duma tapi dia tidak mau. Tidak banyak informasi bisa diceritakan dari dua bersaudara itu. Mereka sangat pemalu namun tidak menolak obrolan dari Duma.
“Ih, lucunya adikkk!” Duma malah memberikan ekspresi gemas kepada Murni yang bersembunyi di belakang punggung kakaknya. Murni sedikit tersenyum malu-malu.
Ada lagi Mika, Keke, Dito dan Ain kakaknya Obi. Semuanya bermain dan mengobrol bersama sambil menyeruput susu rasa strawberry itu. Kemudian satu persatu pamit untuk berjualan kembali. Kehidupan jalanan yang keras menunggu mereka. Memaksa untuk tidak banyak bermain-main.
Dengan berat hati Duma membiarkan.
“Besok ngobrol-ngobrol lagi yaa. Kita ketemu di rumah ituu, kalian bisa dateng kapan aja. Nanti Kakak ada di sana.”
“Oke kak!”
Setelah semuanya pergi, Zidny memperhatikan raut wajah Duma yang agak sendu. Seperti tengah mengingat sesuatu.
“Kenapa?” tanya Zidny hati-hati
“Eh, enggak.” Sepersekian detik kemudian senyum Duma muncul lagi. “Aku udah nemu beberapa poin tujuan proyek kita. Yuk diskusi!”