Bagi Juna, ibunya adalah dunianya. Namun selain pusat kehidupan, dunia ini juga sungguh menyesakkan baginya. Ibunya jarang mengapresiasi dan membanggakannya, karena menurut Juna, Ibunya selalu tidak merasa cukup akan kehadirannya. Selalu takut hal buruk terjadi sebab kehadirannya.
Sehabis dari rumah singgah, Juna langsung mengerjakan beberapa proyek konsep yang belum usai. Ia membersihkan serpihan sampah dari penghapus di sisi bukunya. Sebetulnya… senang sekali dia diamanahi menjadi tim kreatif untuk membuat mural di rumah singgah itu. Proyek yang memang membahagiakannya karena bisa mengeksplorasi hal-hal yang dia suka. Apalagi berinteraksi dengan anak-anak yang sangat menyenangkan. Hidupnya tidak lagi sesepi dulu. Teman-temannya sangat percaya padanya, apalagi Duma.
"I trust you, Jun! Bikin seru aja loh…” Duma menepuk-nepuk bahu Juna. Duma tahu kalau Juna suka menggambar dan dengan santainya memercayakan hal itu kepada Juna.
"Bagus banget gambarmu!" Zidny dan Nala juga mengomentari coretan dalam buku Juna. Apresiasi-apresiasi kecil yang membuat Juna lebih bersemangat.
Nala bahkan memberikan dua jempol yang membuat cowok sipit itu langsung menutup buku sketsanya malu.
Selain jarang mendapatkan apresiasi, hal-hal yang dia sukai selalu bertentangan dengan keinginan ibunya. Padahal, dia berjuang sejak dulu untuk menyenangkan dan memenuhi ekspektasi ibunya.
Selama ini Juna hanya tinggal bersama ibunya yang single parent. Perempuan yang tangguh, cantik, dan tegas mirip gambaran independent woman yang dibicarakan orang-orang. Juna besar bersama pengasuhannya tanpa sosok ayah.