Between (When we find that way)

Rosi Risalah
Chapter #7

Every No Leads Somewhere

Awalnya Duma bersiul-siul senang sambil menyiapkan banyak media pembelajaran. Dia sapu-sapu dan berjalan kesana kemari, tak sabar untuk kegiatan hari ini yang akan bertemu lagi dengan anak-anak. Temanya tentang bicara di depan umum. Bahkan Nala punya rencana mengajak anak-anak belajar membuat konten di media sosial dan bagaimana menyikapi informasi yang mereka dapatkan di ranah digital.

Namun sampai sore ini belum ada satupun anak yang datang.

"Apa mereka nggak akan datang ya, hari ini?" tanya Nala khawatir.

Duma menggeleng, tak tahu juga. IIa kembali sedikit khawatir.

"Ehhh ada Obiiii!" sahut Zidny.

Duma kembali berbinar. Segera dihampirinya Obi yang datang dengan barang bawaannya.

"Akhirnya Obiii! Kemana aja kamu? Yang lain mana?"

"Biasa om.. di jalanan.."

“Kok belum pada pulang?” tanya Duma khawatir.

"Yang lain mau dateng juga, kan?" tanya Nala.

"Eng... itu... Obi ndak tau hehe..."

Duma merasa ada yang aneh. Seperti ada yang ditutup-tutupi Obi.

"Mungkin yang lain ada kesibukan?" sela Zidny mencairkan suasana. Karena Obi terlihat takut-takut dan gugup saat ditanya.

Duma lalu mengangguk. Mulanya raut wajahnya terlihat resah. Namun pembelajaran harus terus dilakukan dan sedetik kemudian dia kembali menjadi ceria. Mereka pun tetap melaksanakan pembelajaran walaupun yang datang hanya Obi.

Selesai acara, Juna dan Nala pamit pulang duluan karena ada urusan lainnya. Duma sendiri berniat mengantar Obi ke rumahnya sambil hendak mencari tahu sesuatu. Sementara Zidny, baru sadar bahwa dompetnya ketinggalan saat ia sudah di shelter bus.

“Waduh dompetku!” Zidny mencari-cari di tasnya dan memang tidak ditemukan.

Karena baru ketahuan di shuttle bus, Nala merasa bersalah sebab tidak bisa mengantar Zidny untuk kembali ke rumah singgah. Ia mencoba menyuruh Zidny untuk ikut pada Duma karena sepertinya Duma belum pulang.

“Maaaaf bangeet!” kata Nala heboh di depan shuttle bus.

“Nggak apa-apa Nalaa. Aku justru yang sering ngerepotin kamu… nggak apa-apa duluan aja. Nanti gampang aku mah. Kamu kan ada kerjaan. Okeoke?” Zidny menenangkan Nala.

Nala cemberut, namun urusannya saat ini memang mendesak. Maka dengan berat hati, ia harus meninggalkan Zidny.

“Okey! Nanti sama si Duma ajaaa dia kayaknya belom balik juga. Aku duluan yaaa!”

“Hati-hatiii!” balas Zidny.

Sebenarnya Zidny tidak masalah pulang sendiran. Dia juga sudah terbiasa sendirian. Saking parahnya, dia pernah sendirian saat study tour SMA dulu dan tidak bergabung dengan teman-temannya untuk menaiki wahana. Kemana-mana ia sendiri dan Zidny tidak mempermasalahkan hal itu—malah sudah jadi kewajaran. Memang dulu Zidny masih sulit menerima dan sering tertekan tentang masalah pertemanannya. Namun sekarang dia melihatnya hanya sebuah proses pendewasaan karena setiap teman tidak selalu bisa bersama-sama, bukan? Memangnya kenapa kalau dia terbiasa jalan-jalan sendiri?

Namun Zidny bersyukur, sekarang teman-temannya sangat baik padanya, khususnya Nala. Nala suka memberikan informasi-informasi baru, mengapresiasinya dan peduli pada setiap kondisi Zidny. Nala orangnya sangat positif dan itu memberikan Zidny kekuatan juga untuk punya mindset yang lebih positif.

Zidny segera kembali ke rumah singgah dan mencari dompetnya. Ketemu! Dompetnya ada tertinggal di dekat rak sepatu di depan rumah singgah. Untungnya masih ada disana! Ceroboh sekali.

Eh tapi Duma kemana?

Zidny melihat ke kanan dan kiri. Duma sudah tidak ada di rumah singgah. Apa dia sudah pulang?

Oh iya.

Zidny teringat bahwa tadi Duma bilang memang mau mengantar Obi dulu.

Zidny agak ragu, tapi dia mencoba menyusuri gang-gang di sekitar situ, berniat untuk pamit jika bertemu dengan Duma. Zidny memang melihat Duma di salah satu kios bakso di dalam gang. Saat dia hendak menyapa, Zidny agak ragu karena sepertinya Duma terlibat pembicaraan yang serius dengan… salah satu orang tua anak-anak disana? Atau warga sekitar?

Zidny memutuskan pamit pada Duma lewat chat saja.

Saat Zidny selesai mengetik pesan dan mengirimkan pesan itu. Duma sudah ada di depannya.     

“Hoi Zidny!”

“Eh-hei!”

Treingg!

Lihat selengkapnya