Beyond Brief

Kurniati Putri Haeirina
Chapter #2

Chapter 2: Mohon Bimbingannya, Pak!

Dengan tangan kiri yang masih tertempel kain kasa bekas infusan, aku sesekali menutup mulut, takjub melihat perubahan kampus yang sudah lama tak aku tengok.

Semuanya tiba-tiba jadi lebih estetik.

Koridor dicat ulang, chandelier menjuntai heboh  di lobby. Tapi yang paling mencolok adalah Galeri Notable Alumni yang tiba-tiba muncul di salah satu dinding utama kampus.Banyak wajah-wajah sukses terpampang di sana. Entrepreneur muda, tokoh media, termasuk teman seangkatanku, beauty influencer dengan 1 juta followers  yang rate card 30 menit jadi pembicaranya aja dua kali lipat dari gajiku.

Mataku terpaku pada fotonya. Frame ukiran gold membingkai senyumnya yang sempurna terasa seperti tamparan.

Dia masuk daftar alumni berpengaruh, aku masuk daftar mahasiswa buronan.

Tapi ya sudahlah.

Aku menarik nafas dalam. Misi utama hari ini lebih penting.

Dengan langkah berat, aku menuju student corner, berdoa dalam hati mempersiapkan diri kayak mau di sidang malaikat maut.

Sudah berapa semester ya aku menghilang dari radar?

Kalau bukan karena ancaman drop out di depan mata, nggak mungkin aku rela meruntuhkan ego dan kembali menghubungi dosen pembimbing yang, entah gimana, masih berbaik hati menerima aku hari ini.

Sebenarnya, bahkan keputusan ambil S2 ini bahkan bukan keputusanku sendiri. Aku sudah cukup nyaman dengan gelar sarjana dari kampus biasa-biasa dan kerja di creative agency yang nggak kalah biasa.

Tapi karena bodohnya aku yang kecintaan sama orang yang salah, setiap ngobrol dengannya selalu diisi dengan diskusi soal masa depan, pencapaian, dan bagaimana aku sebagai pasangannya harus selevel dengan dia.

Dulu aku percaya. Sekarang? Dia sudah berada di puncak kemakmuran, sementara aku masih berjuang menyelesaikan tesis yang hampir terbengkalai. Ah, konsekuensi budak cinta.

Dari kejauhan, terlihat sosok yang sedang duduk sendirian. Seperti ada magnet, aku otomatis menghampirinya. Rasanya kayak berhadapan dengan hantu dari masa lalu.

“Halo, Pak! Udah lama nggak ketemu.” Aku nyengir sambil menyalaminya, seakan nggak ada masalah.

Laki-laki setengah baya itu tersenyum ramah, tapi sorot matanya tajam.

“Maaf ya, pak. Baru sempet ketemu lagi buat bahas penelitian”.

“Ya, belum sempat nya sampai hampir dua tahun sih” Ujarnya santai menyerempet ke nyindir.

Lihat selengkapnya