Beyond Brief

Kurniati Putri Haeirina
Chapter #19

Chapter 18: Martabak Guys!

Keyword bulan ini adalah: Suwarji Kusumah.

Baru beberapa waktu lalu manajemen Karina Intan nolak mentah-mentah tawaran Freemium, sekarang tiba-tiba setuju bahkan excited banget buat kolaborasi bareng komposer legendaris ini. Katanya sih, ini mimpi jadi kenyataan buat Karina. Buat aku? Ini mimpi buruk yang harus dijalani dengan sukarela.

Pre-production meeting kita jalanin hampir tiap hari buat nyatuin isi kepala antara Karina, tim Banyu, juga tim kreatif Freemium. Jangan tanya isi email serta permintaan tambahan dari A sampe Z yang nggak ada habisnya dari semua pihak.

Sialnya, di tengah situasi kantor yang riuh, Gian malah terbang ke Penang dengan alasan paling Gian sedunia.

"Zy, kayaknya gue harus medical check-up deh. Perut gue kembung terus, takut ada apa-apa".

Imun orang kaya tuh kenapa sih manja banget? Dikit-dikit harus terbang keluar negeri. Dengan absennya Gian, otomatis aku yang handle semua koordinasi ini.

Sebenernya, sesi brainstorming antara Karina, Suwarji, dan Pam udah jalan beberapa kali. Setiap mereka bertiga ngobrol, rasanya kayak nonton live podcast Menteri-Menteri. Kagum iya, minder juga iya. Yang jelas, tiap keluar ruangan, aku ngerasa IQ ini turun sepuluh poin.

Karina sibuk ngatur soal gaya, pose, dan wardrobe. "Untuk warna, gue prefer earth tone, biar nyatu sama vibe Banyu" jelas Karina pede. Pam dengan gampangnya nangkep ide itu, langsung nerjemahin ke visual. Sementara Suwarji ngangguk santai, ngomongin soal beat elektronik yang bisa nyambung sempurna dari konsep dusk ke dawn.

Aku? Jangan tanya. Manggut-manggut aja sambil pura-pura sibuk ngecek email.

Masalahnya, email yang aku cek isinya tetep permintaan tambahan dari manajemennya Karina yang nggak pernah habis. Dari permintaan makan siang salad dengan dressing dipisah, jus buah fresh no sugar no milk, sampe ukuran baju cadangan berbagai ukuran buat jaga-jaga adegan aktif nanti.

Sebagai AE profesional (alias babu korporat), aku bolak-balik pantry, OB, ke tim wardrobe, buat mastiin semua permintaan itu terpenuhi. Udah nggak kehitung berapa kali aku ngejelasin sabar:

“Mas, daunnya jangan ada keju, jangan ada kacang, pokoknya daun-daunan sama tomat aja ya”

"Mbak, ukurannya ada S, M, L nggak? Biar aman, siapa tau tiba-tiba ukurannya berubah pas hari H”.

Tapi tiap kali berhasil centang satu tugas, muncul lagi permintaan baru. Dalam hati aku ngedumel, ini tim Karina sebenernya lagi nyiapin shooting apa kondangan royal wedding sih?

Aku istirahat bentar di pantry, rehat sambil inget obrolan sama Kirika kemarin.

Karina tuh kayak Disney Princess. Jadi model sukses, punya pacar yang dulu mantanku, sekarang semua orang sibuk nyenengin dia, termasuk aku. Sementara aku bahkan nggak punya ruang buat sekadar mikirin sakit hati.

Lihat selengkapnya