Beyond the broken smile

Alifia Ananda
Chapter #2

Chapter 2 : Kehidupan Fia dari TK sampai lulus

Edan tak menyangka bayi perempuan itu cantik banget dan semoga saja sesuai dengan harapan mereka bayi itu jadi anak yang didoakan oleh keluarganya.


Sesampainya di rumah, Mela disuruh istirahat dan bayi itu ditaruh dalam box bayi kayu tapi dilarang oleh Mela yang ingin dekat sama anaknya.


Jadi ditaruh di atas ranjang secara pelan karena bayi itu masih tertidur. Sedangkan suaminya juga ikutan melihat anak pertama mereka itu yang di bedong dengan motif polos warna biru.


Mereka memandang bayi perempuan pertama mereka sembari ngobrol.


"Tak disangko anak kito lahia prematur. Apa inyo bisa tumbuah dengan baik, uda?" Tanya Mela dengan sendu.


"Insya Allah pasti bisa kok Mel" balas Edan.


"Inyo ketek bana dan takuik bana jika anak kito pertumbuhannya indak baik apalagi kito miskin bana uda. Anak iko mano mahal bana perlengkapan bayi tapi inyo rancak" balas Mela dengan tersenyum sendu.


"Kito usahakan anak kito jadi anak sehat, pintar dan elok. Kito kan lah karajo jualan dakek rumah tuh mano tahu bisa membiayai hidup anak kito iko" balas Edan dengan tersenyum hangat memandang bayinya dan Mela pun tersenyum simpul.


Pada saat usianya 3 bulan masih di bedong, Fia pernah diajak ke kampung Payakumbuh karena adiknya Mela menikah dengan pria orang Jawa Tengah.


Keresahan mereka terhadap anak perempuan pun sudah sirna karena mereka terus bekerja membanting tulang bahkan Mela sampai menjual emas seperti kalung dan gelang ketika Fia berusia setahun.


Kalung dan gelang itu hadiah ultahnya ke satu tahun dari sanak saudara Mela sedangkan untuk saudara Edan ada cuma abang kedua yang dipanggil pak uwo Dani.


Pak uwo Dani ini punya 2 anak yaitu laki-laki dan perempuan serta tentu saja sudah menikah. Istrinya dipanggil mama untuk Fia. Mereka dari keluarga yang berkecukupan di kampung Sarilamak.


Yang paling miris, ketika Fia berusia 1 tahun dia tak merayakan ultahnya karena tak ada biaya dan dia tak bisa ngomong di usia anak seumurannya mana badannya paling kecil.


Tapi untuk wajah anak seumurannya, anak itu selalu dipuji cantik karena punya hidung mancung seperti ibunya meskipun punya motorik yang lemah tapi anak itu punya senyuman yang ramah ketika menyapa orang-orang.


Sampai pada usia ketiga tahun, dia yang masih bayi yang sudah bisa berjalan itu diajak jualan sama orang tuanya tapi dia hanya melihat-lihat saja sembari duduk.


Anak itu tidak tantrum ataupun menangis melihat orang tuanya jualan yang berbeda seperti Edan jualan pop ice dan Mela jualan tahu Sumedang.


Serta pada usianya yang ketiga tahun, akhirnya dia merayakan ultahnya bersama orang tuanya dan teman-temannya serta sanak saudara dari pihak ibunya.


Gadis kecil itu terlihat cantik memakai dress putih selutut dan topi kerucut di atas kepalanya serta orang tuanya berada di sisi kanan dan kirinya.


Selain itu ada anak ketiga Henry yang bernama Fikri yang disebut om Apit oleh Fia nantinya. Anak cowok yang berusia lebih tua 3 tahun darinya itupun duduk disamping kanan Fia.


Berasa banget Fia punya abang padahal seorang om muda.


Perayaan ultah Fia itu dilakukan secara sederhana di rumah mereka yang berpetak 2 alias mereka masih kontrak.


Selesai merayakan ultah Fia, mereka kembali melakukan aktivitas seperti biasa serta tak lupa untuk membuka kado dari teman-teman Fia dan sanam saudara yang datang.


Kebanyakan mainan, buku, dan uang. Untuk yang berhadiah uang, disimpan oleh ibunya untuk sebagai simpanan nantinya.


Setahun kemudian, Mela hamil anak kedua pada bulan November ini dan tentu saja jadi kabar bahagia sekaligus kekhawatiran karena menambah biaya lagi.


Jadi Edan selain kerja jualan, dia juga sebagai mekanik yang seorang jasa memperbaiki elektronik dari rumah ke rumah.


Mereka tidak mau kelahiran anak kedua mereka mengutang lagi. Dan pada tanggal 20 Agustus tahun 2005, lahirlah anak kedua dari Edan dan Mela berjenis kelamin laki-laki bernama Arya Mohan Syahputra atau yang dipanggil Mohan dengan lahiran normal bukan sesar seperti Fia.


Kelahiran anak kedua mereka di rumah sakit di kota Duri. Sebelum kelahiran Mohan, Mela khawatir jika anak keduanya lahir sebagai anak perempuan lagi dan ketika diperiksa di USG oleh bidan yang ternyata masih berjenis kelamin perempuan.


Membuat Mela khawatir dan dirinya langsung sholat dhuha supaya dapat anak laki-laki dan akhirnya dapat ketika anak keduanya lahir. Ternyata bidan yang memeriksa jenis kelamin anak Edan dan Mela salah memeriksa.


Kelahiran anak kedua Edan dan Mela disambut dengan baik oleh keluarga ibunya. Bahkan Henry membuat candaan tentang wajah Mohan yang berkulit hitam beda dengan Fia yang berkulit putih dan cantik ketika lahir.


Yang artinya jika berkulit hitam tidak dianggap menarik orang-orang sana alias dekil padahal belum tentu sejelek itu.


Meski agak tersinggung tapi mereka bersikap biasa saja dan akan membuat anak keduanya tidak sejelek itu.


Dan pada usia 5 tahun di tahun 2006, anak seusianya harus masuk TK tapi tidak dengan dirinya karena badannya kecil jadi dia tidak bisa masuk TK.


Pada usia 5 tahun, gadis itu diajarkan belajar membaca dari buku-buku yang dibeli oleh Mela padahal Mela ngurus Mohan yang masih berusia setahun.


Jika tidak ada waktu urus anak karena kerja, kadang-kadang Fia bermain dengan sepupu dari pihak ibunya jika sore setelah Fikri pulang sekolah. Atau dia mengajak adiknya yang bisa jalan itu untuk bermain meskipun agak canggung bermain dengan adiknya.


Setahun kemudian, akhirnya Fia bisa masuk TK pada saat usianya keenam tahun sedangkan adiknya, Mohan berusia 2 tahun. Nama TK-nya adalah TK R.A Amanah. Dan di TK itu diwajibkan memakai hijab pendek serta seragam yang sudah dibayar oleh orang tuanya.


Pada saat Fia masuk TK, Edan sang ayah sudah kerja di PT Swakarya Insan Mandiri dengan jabatan sebagai teknik sesuai pekerjaannya.


Di masa TK, gadis itu punya 1 teman yang cantik dan manis bernama Puja. Mereka itu sekelas jadi apa-apa mereka selalu bersama.


Tapi Fia punya teman cowok si kembar yang menyebalkan tapi tidak dengan ibunya si kembar yang baik dan ramah kepada Fia.


Bahkan yang paling menyebalkan, salah satu si kembar menuduhnya meniru warna gambar ketika lomba mewarnai.


Fia yang dituduh itupun membalas dengan kata-kata sengit.


"Lah kan memang warna rumput itu hijau wajar sama tapi aku tak niru kamu ya, Yoga"


Mendengar balasan gadis itu, Yoga dan yang lainnya serta wali kelas mereka itu terdiam karena tak menyangka Fia yang dikenal pendiam tapi ceria dan ramah itu bisa membalas tuduhan dari anak cowok itu.


Wali kelas Fia itu namanya ibu Titik yang dikenal tegas tapi baik hati dan lembut. Ketika Yoga menuduh Fia meniru warna gambarnya diam-diam ibu Titik itu tersenyum bangga ke gadis itu yang tidak membiarkan dirinya di bully dan malah membalasnya dengan kata-kata sengit  di balik pendiamnya gadis itu.


Yang paling sedihnya, gadis itu pernah menangis ketika tidak dijemput ayahnya pulang TK jadi ada gurunya yang menenangkan gadis itu sampai gadis itu akhirnya dijemput oleh ayahnya.


Bukannya marah tapi Edan suka menggoda anak gadisnya sedangkan Mela marah kepada suaminya untuk tak iseng lagi kepada putri mereka.


Dan jika belum jemput lagi, kadang-kadang Fia merenung dengan wajah murung dan tak ceria lagi sampai ayahnya menjemputnya ke TK-nya, wajahnya kembali ceria.


Pada akhir tahun 2007, keluarga Edan dan Mela pindah rumah ke jl. Jati 7 masih dengan mengontrak rumah meskipun Fia dan sepupunya dekat bahkan tetanggaan.


Nama sepupu Fia itu adalah Intan yang lahir tahun 2002 dan Zalfa yang lahir tahun 2004. Meskipun Fia dan Intan terpaut setahun tapi Intan masih memanggilnya dengan sebutan uni.


Mereka itu pindahan dari Payakumbuh karena Intan lahir di sana sedangkan Zalfa lahir di Lampung. Mereka juga akrab satu sama lain dan suka bermain bersama.


Sebelum kedua sepupunya datang ke kota Duri untuk pindah, Fia sering merengek ke ayah dan ibunya ingin bertemu dengan kedua sepupunya itu.

Lihat selengkapnya