Tuhan, apakah Engkau ada?
Mata kelam itu menengadah mencoba mencari jawaban di langit malam berpadu gemerlap cahaya kota. Di balik jendela, ia berkelana melarung pandang. Pertanyaan serupa dalam dirinya terombang-ambing arus waktu yang tidak sudi menunggu apalagi kembali.
Ia rapatkan kelopak mata sejenak, berlari dari dunia penuh sesak. Berkali-kali mencari jawaban, tetap juga tidak ia temukan. Pada akhirnya, rasio dalam dirilah yang berbicara. Mata hatinya sudah terlalu kebas untuk merasa. Namun, kenapa pertanyaan itu senantiasa mendera?
Tuhan, bila Engkau sungguh ada, maka tunjukkan padaku