Tugas laporan diskusi PBL (Problem-Based Learning) Sistem Reproduksi yang sedang ia garap nyaris rampung. Sudah berkali-kali Dinar mendongak gelisah. Begitu laporan selesai dicetak, Dinar mematikan laptop dan membereskan kertas-kertas yang terserak.
Rak di atas meja belajar itulah yang mencuri perhatian Dinar sedari tadi. Dinar tidak membuang waktu. Jari-jemarinya dengan cekatan memilah isi rak, mengambil beberapa judul, lalu menggelar setumpuk buku bacaan ke atas ranjang. Ia segera berganti dari mode belajar ke mode berimajinasi. Ya, hanya ini satu-satunya cara agar Dinar bisa menjalani dua sisi kehidupan miliknya tanpa saling mengorbankan.
Fantasi adalah dunia Dinar. Ia mencintai cerita dongeng sama halnya seperti kala membenamkan kepala pada bantal untuk rehat sejenak melepas lelah dari morat-marit kehidupan kuliah. Dunia tersembunyi nan menawan dan petualangan menghanyutkan.
Terdengar kekanakan memang, tetapi Dinar tidak peduli. Ia hanyalah seorang gadis romantis biasa dengan sebuah mimpi sederhana, yakni bertemu sang pangeran. Maka, sudah tidak terhitung berapa buku yang ia lahap dan beragam cerita yang ia hafal. Meskipun pada intinya begitu-begitu saja, Dinar tidak pernah bosan. Inilah rumah singgah dari segala masalah, termasuk gangguan monster yang tinggal di kamar sebelah.
Ah, lupakan dia! Dinar mengalirkan napas kesal melewati tepian bibir yang penuh dan tebal. Waktunya terlalu berharga untuk hidup ketakutan dalam bayang-bayang Gathan. Sekepal tinju lantas teracung ke arah dinding kamar cowok itu sebagai bentuk pelampiasan. Hanya sebuah simbol, karena Dinar tak akan pernah berani menghadapi si berengsek itu langsung hingga kapan pun.
Detak waktu lantas bergulir senyap selagi Dinar tenggelam berimajinasi. Bantalnya telah melesak mencetak kepala dan sepasang jarum jam dinding baru saja berpisah setelah bersua sejenak dalam reuni satu detik ketika jarinya membuka lembar terakhir, bab bersatunya dua kerajaan dari buku yang ia baca. Kelopak matanya nyaris segaris akibat rasa kantuk, tetapi Dinar tetap ngotot bertahan sampai baris penghabisan. Tahu-tahu, ia telah jatuh tertidur.
Bukan keinginannya, apalah daya, kepala Dinar terasa berat seperti menanggung berkilo-kilo barbel. Oh …, bising sekali suasana di sekitar. Denging menyakitkan memaksa sudut bibir Dinar tertarik meringis tanpa sadar. Mendadak, segala sesuatu hening dan tubuhnya kehilangan pancaindra.
-=-
Ada di awang-awang, sensasi itulah yang pertama kali Dinar sadari. Cakrawala hitam pekat dan iluminasi beragam spektrum cahaya memaksa matanya bekerja ekstra. Tangan dan kakinya utuh, tetapi tidak bisa bergerak. Bukankah tadi ia sedang asyik membaca dongeng di kamar? Lantas, di mana ia berada sekarang? Kalau ini mimpi, rasanya seperti berada dalam lucid dream. Namun, jika ini nyata, pastilah ia sudah ….
Mati! Satu kata itu otomatis menggema tatkala Dinar merasa tubuhnya ditarik oleh sebuah gravitasi mahakuat. Iluminasi di luar dirinya seakan memanjang seiring kecepatan tubuh yang meluncur deras ke satu arah. Sudah tidak jelas lagi ke mana, semua persepsi seakan lebur jadi satu.
Kemudian, kanvas biru malam terbentang di hadapan Dinar. Makin lama, warna itu larut seperti ombre dan berlari cepat menjauh hingga Dinar tersadar bahwa bukan kanvas itu yang memelesat ke depan, tetapi dialah yang sedang mundur ke belakang. Astaga, ia jatuh. Penala keseimbangan Dinar telah kembali dan justru inilah bagian ngerinya.
Ia panik. Kristal-kristal es tajam dan beku menusuk kulit saat tubuh Dinar menembus petala awan tipis. Otot-otot mulut gadis itu pun kaku dicengkeram udara hingga tidak mampu bersuara. Itu belum seberapa. Dinar kemudian mendengar suara gemuruh tidak asing yang berasal dari bawah sana.
Dinar memaksa untuk menoleh lantas mendapati lautan berombak keperakan telah siap menyambutnya. Tidak. Tidak. Bangunlah! Napasnya megap-megap berusaha memupus belenggu mimpi buruk. Namun, terlambat. Pikiran Dinar telah membeku.
Begitu pula dengan dia. Dinar kini mengambang di angkasa, lalu sesuatu yang mencengangkan terjadi. Lautan di bawahnya tiba-tiba saja lenyap berganti latar hamparan padang rumput luas keemasan. Apakah ia masih terbuai oleh mimpi? Dinar takjub. Di antara ribuan mimpi yang pernah ia alami, tetapi kenapa yang ini sungguh terasa nyata seperti dunia virtual?