Beyond Theta

Ravistara
Chapter #6

Insecure

“Eh, Gendut.”

Dinar sedang termenung di tepi danau dekat area kampus seraya memikirkan mimpi aneh semalam, lalu seseorang memanggil dengan maksud mencemooh. Tatapan penuh permusuhan menyorot jelas pada wajah sang pemilik suara yang sedang berdiri di hadapan. Kiara, teman kuliah Gathan. Tampaknya, gadis itu sengaja datang jauh-jauh mencari dia untuk sebuah urusan penting.

Baiklah, Dinar tidak keberatan dipanggil begitu. Namun, Dinar tidak suka cara Kiara menatap setiap kali mereka bertemu seakan-akan ingin mencabik dirinya saja. Ah, sorot mata cemburu yang gagal ditutup-tutupi.

“Kamu berani modus ke Gathan karena kamu sepupu dia, 'kan?” Kiara langsung bicara ke inti masalah dan berhasil membuat Dinar tersinggung.

“Tolong, jangan ganggu aku. Aku enggak punya urusan sama kamu, ya, dan aku enggak mau terlibat masalah Gathan,” pinta Dinar sopan walaupun menyiratkan nada gusar.

“Kamu pikir bisa segampang itu? Lalu, kenapa tinggal di apartemen sebelah Gathan segala? Kamu sebenarnya mengincar dia, 'kan? Sok jual mahal.”

“Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri sama Gathan? Dia yang terus menggangguku!” protes Dinar dengan suara meninggi, terpancing.

"Eh, jadi sekarang kamu mau bilang Gathan yang salah? Bukannya kamu yang selalu menghindar walau dia sudah nembak kamu?” 

Mata Dinar bulat sempurna mendengarnya. “Sebetulnya, masalah kamu apa, sih? Kalau kamu memang suka Gathan, kenapa bukan kamu saja yang PDKT ke dia? Jangan melampiaskan kekesalan padaku.”

Kalimat Dinar seolah menghunjam jauh ke lubuk hati Kiara yang lantas terdiam walau masih menatap sengit. Gadis itu menghela napas sejenak, terlihat jelas dilema sedang membayangi sebingkai wajahny yang muram kehilangan cahaya. Entah kenapa, Dinar justru merasa kasihan pada gadis itu. Andai Kiara tahu bagaimana Gathan sebenarnya ....

“Jujur, aku bingung, ya. Kenapa Gathan menolak cewek sesempurna kamu?” Dinar bicara blakblakan. Ya, cowok normal tidak mungkin melakukan itu. Gathan memang tidak normal. Dengan warna kulit cerah dan pancaran mata indah khas mojang priangan, Kiara amatlah manis. Perawakannya juga semampai dan proporsional, amat serasi jika berada di sisi Gathan.

“Terima kasih, aku tidak butuh simpati darimu, Tukang Cari Muka!” 

Dinar geram. Gadis ini sudah dikasih hati malah ngelunjak. Kedongkolannya makin menjadi-jadi ketika speak of the devil muncul mengambil alih perhatian. Gathan. Cowok itu tampak sedang menata napas yang naik turun. Pasti habis joging, pikir Dinar sinis. Terus terang, horor rasanya Dinar dibayangi oleh penguntit satu itu. Dinar berdiri merapat tanpa sadar ke arah Kiara seakan ingin bersembunyi.

“Kenapa kamu di sini?” Kiara melontarkan pertanyaan bodoh. Tentu saja gadis itu tahu bahwa Gathan sering menemui Dinar. Oleh karena itulah sekarang ia ada di sini, berusaha menangkap basah mereka berdua.

“Kaget? Apa senang?” Gathan malah menggoda Kiara sehingga memerah tersipu, tidak menyangka kalau gadis itu bakal disosor balik, sementara Dinar merasakan deja vu karena Gathan juga sering menggoda dia seperti itu.

“Nar, kamu cemburu?” Gathan menyalahartikan tatapan lekat Dinar yang tertuju padanya.

“Hah?” Dinar menahan rasa jengkel. Cemburu dari mana? Benci, sih, iya.

“See ya, aku cabut dulu.” Kiara bermaksud segera menarik diri, tetapi langkahnya tertahan oleh bentangan lengan Gathan.

“Kok buru-buru? Dinar jarang punya teman mengobrol, lho.”

“Masa? Kan, ada kamu ...,” ujar Kiara dengan nada miris sekaligus salah tingkah akibat perlakuan yang ia terima. Lagi-lagi, Gathan tersenyum licik dan membuat Dinar merasa muak.

“Gathan, kamu balik aja, deh, sama Kiara. Aku nggak mau diganggu hari ini,” tukas Dinar dingin dan berhasil menciptakan ketegangan di udara. Kiara memandangnya dengan tatapan mencela, sedangkan Gathan pura-pura menunjukkan ekspresi merana.

Apa? Dia adalah penjahatnya sekarang?

"Okelah, kalau begitu nanti kita ketemu di apartemen. Kamu sekarang sombong sekali sama aku, Dinar.” Gathan memasang tampang memelas penuh kepalsuan selagi Dinar meremas jemari sampai sakit. Ia berusaha menyembunyikan semua perasaan yang bercampur aduk dalam hati karena kata “Apartemen" menimbulkan efek yang sangat traumatis baginya. Ingin sekali rasanya ia memusnahkan cowok itu, tetapi Gathan adalah sepupunya sendiri dan Dinar bahkan tidak tahu caranya.

“Gathan, aku harus menegaskan sesuatu sama kamu.” Dinar memberanikan diri. “Aku nggak mau kamu datang menemuiku setiap hari. Kamu juga nggak perlu sok baik kasih perhatian ke aku lagi. Aku akan pindah secepatnya. Jadi, tolong hentikan semua kesalahpahaman ini!” 

Dinar merasa lega, akhirnya ia mampu mengutarakan isi hati. Gathan pun terang-terangan menunjukkan ekspresi tidak suka karena ia seolah menguak topeng cowok tersebut. Selama ini, Gathan selalu meremehkan dia. Namun, sekarang keberaniannya mendadak muncul karena ada Kiara bersama mereka. Mungkin, Dinar harus berterima kasih kepada gadis itu karena telah menguatkan posisinya tanpa sadar. 

“Kok kamu ngomongnya gitu? Ayo kita bicara!” Gathan rupanya belum menyerah juga, kemudian mengincar tangan Dinar.

"Enggak mau!”

Dinar menepis. Ia tidak ingin diperlakukan seperti yang sudah-sudah. Gathan tidak punya hak untuk mendikte dan terus melecehkannya.

“Aku tetap ingin bicara sama kamu!” Gathan menggenggam tangan gadis itu lebih erat hingga Dinar meringis kesakitan.

“Gathan, lepaskan Dinar! Bukankah dia sudah bilang tidak mau?” Ajaib, Kiara angkat bicara. Namun, Gathan segera menyergah dengan ketus.

“Bukan urusanmu. Pergi dari sini!” Kiara terpaku karena Gathan tanpa sungkan melayangkan tatapan terganggu padanya. Sikap Gathan berbeda seratus delapan puluh derajat.

“Kamu sudah keterlaluan, Gath. Kamu menyakiti Dinar!” tegur Kiara lebih keras dengan sorot mata penuh penghakiman. Gathan justru tertawa geli dan lantas berbisik di telinga Dinar dengan kata-kata yang cukup jelas didengar oleh Kiara di samping.

“Selamat, kamu punya pendukung sekarang! Tapi, aku belum selesai denganmu, Sayang ....” Ia melepaskan tangan Dinar, lalu telunjuk cowok itu mencolek ujung dagu Dinar dengan kasar sebelum pergi, sementara Kiara tampak terpukul.

“Dinar …, aku ....” Kiara serba salah. Kini, gadis itu tahu siapa Gathan dan pasti sedang dilanda kebingungan bagai kompas rusak, meski akal sehatnya masih bekerja.

“Lupakan saja.” Dinar mendesah.

“Maaf, soal kata-kataku tadi.” Gadis itu tanpa ragu mengajukan gencatan senjata hingga Dinar sempat tidak percaya. Kiara sungguh tidak terduga!

“Tidak apa-apa.” Dinar tidak ingin memperpanjang masalah. “Terima kasih sudah membelaku tadi.”

“Apa Gathan biasanya menyebalkan begitu?” tanya Kiara heran. Dinar mengangkat bahu dan menghela. Sepertinya, ini adalah awal kesepakatan damai mereka, tetapi Dinar sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

Begitulah. Ia tidak ingin membicarakannya.

-=-

Meskipun masalah dengan Kiara sudah selesai, jujur Dinar tidak tahu bagaimana kelanjutan nasib hubungan mereka bertiga: dirinya, Gathan, dan Kiara. Jangan lupa, sekarang juga ada Luz.

Uh, Dinar mencengkeram kepala sambil berbaring di atas ranjang. Pertemuan dengan Luz sungguh tidak masuk akal. Dinar tidak tahu kenapa sosok itu terasa begitu nyata dalam benak dan ia dapat mengingat jelas setiap detail dalam mimpi kemarin malam.

Cukup menjadi dirimu sendiri dan jadilah gadis yang baik. Nasihat Luz seolah mengejek. Dinar merasa sudah melakukan segala hal dengan benar selama ini. Ataukah itu anggapan dia saja?

Tok, tok.

Terdengar ketukan singkat di pintu yang membuat Dinar bangkit terkejut. Gathan? pikir gadis itu galau. Ia tidak akan heran bila Gathan akan berkunjung secepat ini. Cowok itu pasti merasa kesal dengan apa yang terjadi tadi siang di kampus. Namun, apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia sendirian.

Lihat selengkapnya