Beyond Theta

Ravistara
Chapter #7

Withdrawal

Luz tidak memercayai isi pikiran Dinar sebelum jatuh terkulai di lengannya. Sempat-sempatnya gadis itu berimajinasi romantis tentang ciuman seorang pangeran setelah berhasil diselamatkan! Rupanya, ia sedang berurusan dengan seorang pemimpi kelas berat.

Kegusarannya lantas buyar ketika ia menemukan ceruk terbuka di bawah bukit cadas. Ia membawa Dinar ke sana untuk berjaga-jaga dari apa pun yang bisa muncul di langit kemudian. Tempat itu cukup terlindung, tetapi tidak gelap maupun pengap, sekaligus nyaman untuk melakukan proses pengobatan. Ia sandarkan punggung gadis yang tak sadarkan diri itu pada dinding yang cukup datar.

Luz tidak membuang banyak waktu. Ia segera memindai seluruh cedera di tubuh gadis itu dengan cekatan dan teliti. Sebagian besar energinya hanya mendeteksi luka lecet dan memar, tetapi Luz menemukan masalah cukup serius pada tempurung lutut yang retak dan ada perdarahan dalam rongga perut yang mengkhawatirkan. Ia pun memutuskan untuk memulai dari lutut terlebih dahulu. Alhasil, Dinar terbangun dan memekik tertahan.

“Sakit?”

Samar-samar, Dinar mendengar suara seseorang bertanya padanya. Tatkala berhasil membuka mata, wajah Luz yang berlumuran bercak darah kering hingga tampak coreng-moreng adalah hal pertama yang ia lihat. Warna rambut Luz yang semula cerah laksana jahe pun turut berubah menjadi kehitaman. Iris cokelat terang milik Pangeran Torri terlihat kontras di antara semua warna gelap itu.

“Ini bukan darahku.” Luz menimpali suara di kepala gadis itu.

Dinar mencoba mengingat semuanya. Serangan monster, kelebatan cahaya, hingga kecelakaan yang menimpanya. Lalu, ia merasakan nyeri tajam pada perut dan kaki. Dinar pun mengerang pelan.

“Bertahanlah sebentar. Aku sedang mengobatimu.”

Dinar menoleh ke sumber rasa sakit tadi dan baru menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Luz. Kesatria itu tengah berkonsentrasi memusatkan energi pada lututnya—Dinar mencoba menyimpulkan dari sensasi hangat berdenyut yang sedang ia rasakan. Apakah kesatria ini Baymax? Ia sendiri tidak habis pikir kenapa dirinya bisa terluka dan juga bisa merasakan sakit sungguhan.

“Apakah kamu perlu melakukan ini?” Dinar menahan dengan risi tangan Luz yang mulai bergerak ke bagian atas lututnya. Agaknya, bagian itu sudah pulih karena sekarang terasa jauh lebih baik.

“Aku tidak akan berbuat aneh-aneh,” kata Luz singkat karena waktunya tidak tersisa banyak. Kekuatannya telah mencapai batas, beruntung jika ia bisa bertahan sedikit lagi. Ia akan memaksa gadis itu bila memang harus.

“Aku bisa menyelesaikan ini dengan cara yang lebih cepat, tetapi kau mungkin tidak menyukainya.” Luz memberikan pilihan.

“Apa itu?”

"Cara yang pernah dilakukan Ikram kepadamu.”

Telinga Dinar memerah mendengarnya. Ia tahu apa arti kata-kata Luz barusan hingga diam terpaku. Kejadian dengan Ikram adalah lain hal, ia masih belum tahu apa-apa, tetapi sekarang situasi mereka jelas berbeda. 

“Bukankah sebelum jatuh pingsan, kau berharap begitu?” Luz setengah mengejek. 

Ya, waktu itu ia “Sekarat” dan mungkin saja sedang berhalusinasi hingga pikiran tercela itu sempat singgah dalam benaknya. Namun, akal sehatnya sekarang sudah kembali. Lagi pula …, Dinar bergidik memandang sekujur tubuh Luz. Ia takkan mau dicium oleh seseorang yang berlumur darah anyir kering menjijikkan. Tidak. Refleks Dinar menutup mulut sempurna dengan jemari bundar berisi miliknya.

Baiklah, itu terlalu berlebihan, pikir Luz antara geli dan sedikit terluka akibat reaksi Dinar, tetapi kini bukan saatnya untuk bermain-main. Ia harus mengobati gadis itu. Sekarang. Juga. 

Dinar kembali menghentikan aksi Luz, tetapi ia malah dipiting dengan satu tangan. Tubuhnya didekap erat hingga menempel pada sang kesatria.

Dinar sangat terkejut dengan penguncian drastis yang dilakukan oleh Luz, tetapi ia kalah tenaga untuk berontak. Ia pun tidak berdaya ketika tangan Luz bergerak naik dengan cepat ke bagian perut, lalu timbul desakan nyeri yang begitu hebat hingga Dinar menjerit kencang. Seluruh tubuhnya mengejang kesakitan. Di sela-sela perasaan buruk, Dinar pun menyesal karena telah menolak pilihan yang lebih mudah dari Luz. Sakit yang ia rasakan ini sungguh tidak tertahankan bagai sedang dipanggang dalam bara.

Lihat selengkapnya