Kelopak mata Dinar bergetar kala seberkas pendar menimpa wajahnya. Merasa janggal, ia membuka mata perlahan untuk mengintip. Tampak segala sesuatu di luar sana menghablur seperti kilap pada cermin, lalu ia menyadari sesuatu. Kini, ia tak lagi mengambang di air, tetapi berada dalam kubah tembus pandang di kedalaman bawah laut.
“Tidur pulas?” Suara Luz terdengar cukup dekat.
"Wajahmu saat tidur sangat manis dan betah untuk dipandangi berlama-lama.”
Wajah Luz muncul di rembang penglihatan. Segenap sensoris Dinar terhimpun, ia lalu tersadar kalau sedang berbaring di atas pangkuan sang kesatria. Dinar pun bangkit dengan gerakan superkilat. Salah tingkah. Sudah berapa lama Luz menonton adegan saat ia mengiler? Lekas ia usap sudut bibir.
“Tidak perlu sungkan. Mulai sekarang, mari kita menjadi teman tidur.” Luz menopang dagu santai sambil bersedekap.
Kenapa Luz mengajukan kesepakatan aneh begitu? Secara pribadi, ia tidak bersedia jika Luz senantiasa menjadikannya bantal guling.
“Aku yakin kau pasti punya banyak pertanyaan.” Luz membaca kebingungan di wajah Dinar.
“Kamu ingin aku bertanya secara verbal atau kusampaikan saja lewat telepati?” tanya Dinar tanpa maksud menyindir.
“Kau baru saja melakukan yang pertama.” Luz tertawa.
Oh. Dinar menutup mulut. Ia malah menjadikan dirinya bahan tertawaan. Ya sudahlah, itu tidak penting karena yang ia inginkan sekarang hanyalah jawaban.
“Pertama.” Dinar memulai sesi pertanyaan dan bersila di hadapan Luz. Mereka seperti sepasang teman piama yang sedang berdiskusi. “Tempat apa ini? Kenapa kita ada di sini?”
“Kita sekarang berada di Delta, area yang paling tenang. Tentu saja untuk tidur.”
Luz menjelaskan lebih lanjut karena Dinar mendelik tidak paham. Jemari kesatria itu turun dari dagu lantas terbuka selagi berbicara. “Saat berada di Theta, otakmu terus aktif bekerja, meskipun saat ini motorikmu tidak reaktif dan dalam kondisi terlelap. Jadi, untuk memulihkan seluruh energimu, kau harus menyelam mencapai Delta. Itu artinya, sekarang kau sedang tertidur pulas di luar sana.”
Dinar memperhatikan Luz dengan cermat, lantas mencoba menghubungkan antara penjelasan dan penampilan kesatria itu sekarang. Awalnya, ia tidak mengerti kenapa kini Luz ada dalam piama. Terlalu modern dan tidak cocok untuknya. Namun, pengetahuan yang dimiliki Luz jelas berasal dari zaman yang lebih maju dari abad pertengahan.
Luz pun tersenyum geli membaca pikiran gadis itu. Dinar pasti menyangka bahwa ia berasal dari zaman gotik atau renaisans.
“Aku berada di zaman yang sama denganmu, begitu pula Ikram. Ia bukan berasal dari masa depan. Secara ilmiah, perjalanan waktu itu tidak ada dan takkan pernah ada. Hukum fisika takaan berubah meskipun kau sedang berada di alam mimpi.”
Oh. Penjelasan yang cukup masuk akal. Dinar kini merasa sedang berada dalam kuliah fisika yang dibawakan oleh Guru Luz nan misterius.
“Luz, kamu pengendali Theta?” Dinar bertanya langsung ke inti dan Luz tidak menduga kalau gadis itu cepat juga mengorelasikan berbagai hal.
“Bukan begitu cara kerjanya, Princess. Theta adalah gelombang otak kita yang mengatur kreasi dan imajinasi. Apa yang terjadi di Theta, sebenarnya adalah hasil dari pikiran alam bawah sadarmu sendiri. Itulah sebabnya aku tidak bisa menjadi diriku sendiri saat berada dalam mimpimu. Sebagai Pangeran Torri, sebenarnya aku tidak punya kemampuan untuk menolongmu. Karena masalah itu, kau jadi kesal, bukan?”
Ah, ya, Dinar ingat. Ia mengira waktu itu Luz hanya bermain-main saja dan sekarang ia merasa bersalah karena telah berprasangka buruk pada sang kesatria.
“Apa itu ada hubungannya dengan monster nagaku yang menjadi makhluk aneh?”
"Ya.”
“Kenapa cerita fantasiku bisa berubah?” tanya Dinar, ngeri membayangkan kalau suatu saat insiden semacam itu akan terulang kembali. “Apa ini berkaitan dengan dirimu?”
“Mungkin, secara tidak langsung. Entah kenapa, gelombang tak kita beresonansi dan menghasilkan perubahan yang sangat kuat. Itu mungkin bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan monster rekaanmu.”
“Tapi, kamu berhasil menolongku. Bagaimana caranya? Semua penjelasanmu membingungkan, Luz.”
Luz terdiam sejenak. Ini adalah batasan pertanyaaan yang tidak ingin ia jawab. Belum saatnya bagi Dinar untuk tahu.
“Sebuah tikaman tepat di jantung naga ...,” kilah Luz serius. Oke, mungkin kedengarannya tidak cukup meyakinkan, tetapi semoga gadis itu puas.
“Luz, apa kamu seorang dreamwalker?” Dinar tidak tahu kenapa pertanyaan itu tercetus begitu saja dari mulutnya.
“Hm.” Luz bergumam geli. “Lupakah kau, siapa yang pertama kali tersesat dalam mimpi siapa?”
Dinar terperanjat. Itu adalah dirinya sendiri.
“Itu berarti, kaulah yang dreamwalker di sini.” Satu alis Luz terangkat miring, tampak menyebalkan. Kesatria itu jelas sedang menggodanya.
Tidak, tidak mungkin. Pasti ada kesalahan. Dinar segera merangkum kesimpulan. Ia bukanlah seorang dreamwalker. Ia hanya seorang gadis pemimpi biasa dengan daya imajinasi yang sedikit berlebihan. Selain itu, ia tidak punya kemampuan apa-apa.
“Lalu, bagaimana dengan Ikram?”
“Kenapa kau begitu tertarik dengan semua hal tentang Ikram?” Luz merasa terganggu.
“Aku tertarik dengan sebab keberadaan Ikram dalam mimpimu, bukan tertarik pada dirinya!” Dinar membela diri. Terdengar bunyi keras dari telapak tangannya yang protes dengan menepuk lutut.
“Kau boleh bertanya apa pun selain Ikram untuk saat ini.”
"Oh, baiklah.” Dinar menggerutu sambil mengangkat bahu.
“Pertanyaan kedua?” Luz menunggu.
Sebuah pertanyaan langsung terlintas di kepala Dinar. “Siapa namamu sebenarnya?”
“Pass.”
“Luz!” Kekesalan Dinar membuncah.
“Harga untuk mengetahui namaku sungguh mahal. Seluruh hidupmu harus menjadi milikku.”
Dinar terpana. Hanya untuk mengetahui rahasia sebuah nama? Kalau begitu, ia langsung ke pertanyaan berikut saja.