Kuda Troya, itulah rencana Dinar untuk masuk ke dalam Theta yang kini jatuh ke tangan Celica. Namun, sepertinya bakal lebih sulit dari perkiraan. Atmosfer Alpha yang semula mendengkur tenang, kini berubah beringas, siap menyambut mereka dengan perisai badai terestrial ganas.
“Aku tidak mau berurusan dengan itu.” Ikram bersikeras. “Lupakan soal perisai atau senjata penghancur, energi kita hanya akan habis untuk bertahan dalam badai. Taruhan, kita bahkan tidak akan berhasil mencapai permukaan Theta dalam kondisi utuh.” Ia mengemukakan kemungkinan terburuk jika mereka tetap nekat menerobos. Bisa saja tubuh mereka bakal berlubang.
Baiklah, mereka perlu perubahan rencana, lalu Ikram mengusulkan sebuah ide. Kata si cyborg, lebih baik jika mereka mengambil jalan pintas lewat portal alias lubang hitam yang pernah Dinar saksikan menelan tubuh Luz dulu. Namun, tetap ada masalah. Portal itu kini dikelilingi oleh tiga pasang cincin yang berotasi acak. Sebuah pilihan yang tak kalah sukar, tetapi butuh lebih sedikit energi, juga lebih banyak perhitungan atau tubuh mereka bakal tercabik-cabik seperti spageti.
Dinar menggigit bibir pasrah di akhir perdebatan. Bagaimanapun, kini, mereka berdua adalah tim, maka Dinar hanya bisa pasrah dengan memercayai Ikram. Lagi pula, mereka tetap akan menggunakan separuh rencana pertama, yakni Kuda Troya yang ia usulkan sebelumnya.
“Siap?” Ikram memberi aba-aba. Keduanya kini berada dalam kendaraan tempur berwujud bola raksasa. Ikram menyebutnya Cybership dan Dinar tidak ambil pusing. Memang, ia yang menciptakan, tetapi Ikramlah yang mengendalikan, jadi terserah cyborg itu saja ingin menamai pesawat mereka dengan apa. Pikirannya justru dipenuhi oleh kata-kata Luz. Si Tuan Kesatria pernah bilang bahwa seorang penyusup tak punya kuasa atas mimpi orang lain, tetapi Dinar mengabaikan nasihat tersebut. Kini ia harus membebaskan kesatria itu dari cengkeraman Celica, anggap saja sebagai balas budi karena Luz pernah menolongnya. Namun, lihatlah siapa sekutunya sekarang. Dinar merasa agak ironis kala menoleh pada Ikram di sisinya.
“Kau siap?” Kepala Ikram terteleng tak sabar pada Dinar yang sedang melamun memandangi sosok berseragam pelindung pada kilap Cybership--bayangan gadis itu sendiri. Dinar pun terkesiap, lantas mengacungkan jempol. Pikirkan nanti saja, batinnya.
Ikram mulai mengaktifkan pesawat tersebut setelah yakin bahwa fokus Dinar telah kembali. Tak lama kemudian, Cybership berdengung samar, menandakan pesawat itu siap untuk dipacu. Namun, mencari celah di antara tiga cincin yang mengorbit portal dalam kecepatan tinggi ternyata tidak mudah. Mereka harus menunggu hingga saat yang tepat.
Makin lama, dengung Cybership semakin nyaring seiring akselerasi energi yang meningkat, hingga membuat ngilu telinga. Lalu, kesempatan terbuka saat ketiga cincin berada pada posisi terjauh. Cybership langsung menerobos peluang genting tersebut. Segera saja pesawat itu ditelan, teraduk-aduk dalam saluran portal menyerupai umbai cacing, dan di tengah kekacauan visual tersebut, Ikram dengan jeli melihat sebuah lubang cahaya berkelip-kelip di tengah turbulensi energi yang berpusar tanpa henti. Cybership pun meluncur masuk ke dalamnya.
Sementara itu di Theta, seorang gadis berambut perak dan bermata elang sedang tidur-tiduran di atas hammock yang melayang di udara, lalu sebuah bola raksasa menggelinding di dekat pembaringannya. Dengung samar dari benda itu segera menarik perhatian sang gadis untuk membuka kelopak mata. Ia segera bangkit, lantas hammock pun lenyap.
Gadis itu bergerak dengan hati-hati menuju si bola misterius karena semua objek yang masuk ke dalam Theta sekarang adalah ancaman baginya. Ia amati bola itu dari segenap penjuru, lalu mengernyit ketika mencoba menyentuh dengan ujung jari karena benda itu langsung bergetar dalam frekuensi tinggi. Penasaran, ia ketuk-ketuk hingga terdengar bunyi resonansi yang berdenging. Ia pun lekas menarik tangan saat sadar kalau benda itu tidak pejal, tetapi berongga. Ada sesuatu di dalamnya.
“Tunggu sebentar,” pinta Dinar ketika Ikram berniat menyerang si gadis yang sedang bermain-main dengan pesawat mereka. Tak urung, ia dilanda gugup karena itu adalah Celica, bagian dari Luz. Apa yang akan terjadi pada Luz jika gadis itu dicelakai?
“Tidak ada waktu untuk ragu.” Ikram mengingatkan Dinar akan risiko permainan mereka.
Dinding bagian dalam Cybership kembali berkedip, tanda seseorang di luar baru saja menyentuhnya. Lewat layar monitor berupa hologram di hadapan mereka, terlihat Celica mengeluarkan rantai yang menggeliat-geliat bagai memiliki kesadaran sendiri.
Nyaris saja mereka celaka karena rantai Celica mendadak menyerang membabi buta. Lalu, kejutan! Bola raksasa bertransformasi secepat kilat menjadi pesawat menyerupai manta berekor lima. Bagian itu bukan sekadar angka atau aksesori belaka. Desing bersahutan ketika formasi ekornya terlibat pertempuran sengit dengan rantai Celica.
"Carilah Luz, biar aku yang mengurus gadis ini!” perintah Ikram selagi matanya berfokus membaca serangan Celica. Dinar segera mengalihkan perhatian pada layar kecil yang tiba-tiba muncul di depan wajahnya, lalu meluncurkan sebuah satelit pengintai kecil berbentuk peluru yang keluar dari sisi Cybership. Rantai Celica mencoba menangkap benda itu, tetapi salah satu ekor Cybership telanjur melibasnya.
Setelah berhasil lolos dari sergapan rantai Celica, satelit pengintai terbang menjelajah tanpa tujuan. Sensor visualnya yang kini menjadi sepasang mata kedua bagi Dinar, memindai cepat kawasan berupa prairi dengan bukit-bukit terjal dan tandus memenuhi lanskap. Luz bisa ada di mana saja.
“Terrascan ....” Dinar menyalakan pemancar sinyal ultrasonik yang mampu menyapu permukaan lebih luas. Usahanya pun menemui titik terang. Perangkat sensor tersebut lantas menangkap sebuah medan energi kuat berjarak satu mil yang Dinar yakini adalah kurungan Luz. Ia harus bicara pada Ikram.