Beyond Theta

Ravistara
Chapter #12

Deep Dive 1

Dinar berusaha untuk berdiri tegak karena kepalanya seperti ditindih oleh berkilo-kilo barbel. Pagi ini, ia bangun dengan energi terkuras. Ia bertanya-tanya, apakah ini efek samping yang wajar?

"Wajahmu kusut banget. Nggak bisa tidur gara-gara mikirin aku?”

Lingkar hitam panda yang menghias wajah Dinar menarik perhatian seseorang. Gathan. Tahu-tahu, cowok itu telah berdiri menyambut di pintu apartemen, saat ia keluar untuk berangkat ke kampus.

“Lha, kamu kenapa, sih?”

Cowok itu bergumam heran karena godaannya lantas tidak memperoleh tanggapan seperti biasa. Bahkan, ketika Gathan melakukan sesuatu yang lebih berani dengan mengelus lengan gadis itu, Dinar tidak bereaksi sama sekali. Kepercayaan diri Gathan pun amblas karena dianggap takkasatmata. Dinar berlalu begitu saja dari hadapannya. Sial, pasti ia terlihat bodoh tadi.

Dinar sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya hari itu. Ia mengalami disorientasi parah hingga dunia terasa berputar. Ketika di kantin, ia bergeming menatap sepiring siomai yang masih utuh di atas meja. Akal sehatnya menyuruh untuk makan karena ia belum sarapan apa pun sejak pagi, tetapi tubuhnya membandel, kehilangan selera. Dinar hanya menelan beberapa teguk dari botol air mineral dan itu pun terasa pahit di tenggorokan.

"Wah, ada makanan menganggur, nih.” Tiba-tiba saja, Gathan duduk di samping Dinar, lalu mencomot siomai tersebut. Rupanya, kepercayaan diri Gathan yang sempat hilang pagi tadi telah kembali.

“Kamu sakit?” Gathan meraba kening Dinar dengan punggung tangan dan menilai suhu kulit gadis itu. Hangat. Mulai masuk akal sekarang penyebab sikap Dinar yang aneh.

“Mau kuantar pulang? Aku punya waktu sebentar sebelum praktikum,” tawar Gathan berbaik hati. Namun, Dinar hanya menatap kosong. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut gadis itu dan Gathan mulai merasa khawatir.

“Kalau tidak mau bicara, nanti kucium, lho,” ancamnya serius.

Lagi-lagi, tidak ada jawaban. Ah, seperti sedang berbicara dengan kadaver saja. Gathan menatap gadis itu gusar karena merasa kehilangan sumber hiburan terbaik. Bagaimanapun juga, ia lebih menyukai Dinar yang mudah panik daripada Dinar yang apatis.

“Permisi, aku mau bicara sama Dinar!” Kiara muncul dan langsung mengusir cowok itu dengan ketus. Sudah lama ia mengawasi keduanya dan tidak tahan untuk tidak ikut campur. Gadis itu menyepak kaki panjang Gathan yang melintang di hadapannya. Gathan pun sedang tidak ingin mencari masalah dengan gadis itu. Jadi, ia menurut saja, lantas tersenyum sinis sebelum minggat terusir.

“Kamu ini kenapa, sih, Nar? Kamu mulai suka sama Gathan, ya?” Kiara mencecar sembari menarik kursi hingga berderit.

“Hah?” Dinar tampak bingung dengan kehadiran Kiara yang tiba-tiba.

“Dari tadi Gathan menggoda kamu. Apa kamu enggak sadar?” Nada suara Kiara meninggi tanda tidak sabar.

"Oh, ya?”

Kiara mulai merasa ada yang tidak beres dengan Dinar. Pikiran gadis itu seakan mengambang. Caranya bersandar di kursi juga seperti boneka marionette yang didudukkan dengan canggung, sementara sorot matanya hampa tanpa cahaya.

“Kamu sedang sakit?” Gadis itu bertanya serupa dengan Gathan, lantas memeriksa suhu badan Dinar. Keningnya berkerut.

“Habis aku praktikum nanti, kamu ikut ke kosku, deh. Kamu selesai kuliah pukul berapa?”

“Satu.”

“Tunggu aku di apartemen kamu, nanti aku jemput, oke?”

“Iya,” jawab Dinar luar biasa patuh.

“Jangan lupa, kunci kamarmu sebelum aku datang—Ah, tapi Gathan juga praktikum bareng aku. Sekadar jaga-jaga, sih, kalau si sadis itu punya rencana bolos hanya untuk mengganggumu. Mmm, tapi kayaknya enggak, deh. Hari ini dia kena piket. Yah, pokoknya lakukan saja pesanku ini!” Kiara memborbardir Dinar dengan instruksi panjang lebar yang entah bakal dimengerti atau tidak oleh gadis itu.

-=-

Kiara bersungut-sungut karena Gathan membayangi perjalanannya ke apartemen Dinar. Mereka tadi sama-sama naik ojek sampai ke gerbang kompleks. Sepasang kaki panjang cowok itu langsung menjajari langkah Kiara begitu turun dari motor.

“Kamu dulu beneran suka sama aku, 'kan?” tanya Gathan tidak tahu malu. Mau tidak mau, pikiran Kiara bernostalgia ke masa-masa awal pertemuan mereka. Tidak ada yang salah dengan cowok ini, kecuali isi otaknya yang tercela jika berhubungan dengan Dinar. Ibarat sekarang dikasih gratis plus bonus pun, ia bakal menolak! Ganteng, sih, ganteng. Pintar pula. Kurang apa coba?

Kurang normal saja.

“Kamu baik sama Dinar bukan karena ada maunya, 'kan?”

Tuh, kurang sopan juga sikapnya di belakang. Kiara lantas berkacak pinggang menghadang langkah Gathan.

“Gathan, Gathan, Gathan.” Kiara menyebut nama cowok itu sinis hingga Gathan meringis. “Bagiku, kamu itu masa lalu. Aku cuma kasihan sama Dinar karena dia itu hopeless.”

“Perhatian banget kamu.”

“Masalahmu?”

“Seharusnya kamu jadi comblang kami berdua saja.”

“Kebagusan! Introspeksi diri dulu kalau otakmu mesum!”

Gathan terbahak-bahak menanggapi omongan Kiara yang blak-blakan.

Lihat selengkapnya