“Selamat datang kembali di Theta, Dinar.”
Ia mengerjap tidak percaya. Apakah Luz baru saja menyebut namanya?
Ya. Namaku adalah Dinar Ferizal, baru berulang tahun kesembilan belas, anak tunggal, dan aku jatuh cinta pada Luz.
Luz menyeringai ketika membaca isi pikiran gadis itu dan memutuskan untuk tidak mengungkit bagian terakhir.
“Luz, apa yang terjadi?” Dinar kebingungan akibat percikan sensasi aneh di kepalanya. Ia merasa seolah baru terlahir kembali.
“Tidak perlu khawatir, memang terasa aneh saat pertama kali dibangkitkan. Sekarang kau adalah bagian dari Theta, Dinar. Aku telah membawa kesadaran dan memorimu masuk secara penuh ke dunia ini.”
Dibangkitkan? Bagian dari Theta? Apa artinya? Dinar berdebar menyimak penjelasan dari Luz dan berusaha mencerna dengan cepat. Maka, setelah semua alur pemikiran tadi terangkum dalam kepalanya, mulut Dinar terbuka lebar. Dunia fantasi yang selama ini ia kenal, musnah sudah.
“Luz, kenapa kamu melakukan ini padaku? Mimpilah satu-satunya tempat persembunyianku dan kamu mengacak-acak tempatku!” protes Dinar tidak terima. Ia merasa sangat kesal karena Luz telah membuat dirinya mengingat semua hal tidak menyenangkan yang sama sekali tidak ingin ia bawa ke alam tidur.
“Dinar, tenanglah.” Luz bermaksud meraih pipi gadis itu, tetapi Dinar menepis tangan sang kesatria dengan kasar. Dinar tidak pernah merasa semarah itu sebelumnya. Bahkan, aura kegelapan sekarang bercokol di mata bundar miliknya yang biasa berbinar cerah.
“Aku pernah bilang padamu bahwa ada tiga hal yang kuinginkan dari hidupmu—”
“Kamu menginginkan diriku, rahasiaku, dan masa depanku!” Dinar menyambung kalimat Luz. Ia masih ingat, sekaligus tersengat.
“Apa untungnya bagimu? Kamu hanya menyakitiku,” cerca Dinar kecewa karena beragam memori buruk yang telah ia kubur dalam-dalam kini terkuak. Ia takkan pernah bermimpi indah lagi.
“Aku yang akan mengobatimu.” Luz memberi jaminan singkat tanpa rasa ragu. “Setiap kali kau terluka, kau bisa menemukanku di sini.”
Dinar terperangah. Secara tidak langsung, sama saja dengan Luz bermaksud membuat dirinya bergantung pada sang kesatria. Omong kosong! Namun, tatkala melihat sinar kesungguhan di mata Luz, Dinar terpaksa menelan ludah.
“Bagaimana caranya? Apakah dengan caramu yang biasa seperti menaruh tangan di kepalaku, lalu mencuci isi otakku?” tanya Dinar sangsi. Luz malah tertawa geli dan nyaris tidak bisa berhenti. Mungkin pertanyaan tadi terdengar amat lucu dan bodoh.
“Tolong, berhentilah menganggapku sebagai manusia pemindai dan pemulih super. Aku akan memulihkanmu dengan cara yang sangat normal, Dinar. Aku akan mencintai dan membahagiakanmu.”
Eh? Mata Dinar membulat mendengar kata-kata klise dan gombal itu. Luz tidak mau tahu, ia merengkuh wajah sang gadis nyaris tidak berjarak sehingga Dinar bisa melihat bayangannya sendiri dalam iris pucat yang melingkari manik sang kesatria.
“Sumber ketidakbahagiaan itu berasal dari dirimu sendiri. Ketika orang-orang yang kaucintai pergi, apa lantas kaubiarkan kebahagiaanmu lenyap bersama mereka? Aku telah melihat mimpimu dan kupikir, kau telah lama tersesat di bagian masa kecilmu. Berhentilah berfokus pada ketidakbahagiaanmu, Dinar.”
Dinar terpukul karena Luz menyentuh topik paling sensitif baginya: cinta dan kehadiran ayah-ibunya. Memang, apa yang Luz tahu tentang perasaannya? Hanya ia yang tahu bagaimana selama ini menjalani kehidupan penuh rasa sepi dan kerinduan. Jadi, tidak seorang pun boleh menghakimi!
“Luz, kamu tidak akan mengerti ....” Luka di hati Dinar menganga kembali.
“Aku sangat memahami luka dan rasa kesepianmu.”
“Tahu apa kamu?” Dinar melangkah mundur hingga kakinya tergelincir. Luz segera merengkuh pinggang gadis itu erat. Barulah Dinar sadar kalau mereka sedang berada di atas elang raksasa yang terbang rendah di atas bentang Laut Delta. Kilap perak memantul di permukaan air akibat sengatan lentera di Langit Alpha yang berpijar bagaikan nyala obor raksasa berwarna putih cemerlang.
“Aku juga punya kehidupan yang sulit di luar sana, bahkan mungkin tidak memilikinya.” Luz menguak sedikit rahasia tentang dirinya.
Kesulitan macam apa yang dimaksud oleh Luz? Apakah kesatria itu adalah bagian dari organisasi terlarang ataukah sedang terbaring koma di suatu tempat untuk waktu yang lama? Dinar mencoba mencari jawaban dari sorot mata Luz yang berubah kelam. Ah, Dinar merasa familier. Itu adalah tatapan yang menyimpan kepedihan.
“Aku tidak bisa bercerita banyak kepadamu. Anggap saja itu bukan suatu kebohongan.”
“Luz, bagaimana aku bisa percaya kata-katamu?”
“Ibaratkan sekarang kau tenggelam dan aku hanya bisa memberikan setengah pelampungku padamu. Jika kau tidak menerima pertolongan, maka kau tenggelam. Jika kau menerima pun, kau tetap berisiko tenggelam karena pelampung itu tidak cukup untuk kita berdua. Mana yang akan kaupilih? Tenggelam sendirian atau tenggelam bersamaku?”
Dinar terpaku. Contoh yang diberikan oleh Luz terdengar mengerikan dari berbagai segi. Apa bagusnya dari perumpamaan tenggelam?
“Luz, aku benci jika kamu selalu menakut-nakutiku,” protes Dinar tidak mau memilih satu pun dari skenario tadi.
“Pilihlah untuk tidak tenggelam.”
“Apa?”
“Pikirkanlah sendiri caranya.”
“Hei—”
“Kekasihku, berpikirlah di luar kotak.”
Kekasih? Grrr. Belum cukup juga kesatria itu memberi teka-teki yang sulit, Dinar sudah disuguhi rayuan gombal.
“Meow, sudah ketemu jawabannya?”
“Luz, berhentilah bercanda!”