Seisi ruangan terdiam akibat jeritan Dinar yang seperti orang kesurupan. Sementara di depan, dosen pengajar menunjukkan raut wajah tidak senang karena menangkap basah seorang mahasiswi ketiduran saat jam kuliah, membuat keributan pula.
Deg.
Dinar terbelalak. Tadi ia sedang bersama Luz di Theta, kenapa ia mendadak ada di kampus?
“Siapa nama Anda?” tanya dosen tersebut, seorang profesor sepuh yang disegani oleh seluruh civitas academica.
“Dinar. Ferizal,” jawab Dinar mengkeret karena menyadari betapa serius masalah yang ia hadapi.
“Apakah tadi Anda tidur?” Sang dosen menginterogasi.
“Maafkan saya, Prof!” imbuh Dinar buru-buru. Duh, gawat.
“Apakah cara saya mengajar membuat Anda bosan?”
Bagaimana mungkin Dinar bisa menjawab kalau ia sendiri tidak ingat kenapa tiba-tiba berada di tempat itu? Jadi, Dinar hanya menggeleng biar aman.
“Nah, sekarang …, Dinar Ferizal,” Astaga, daya ingat untuk pria seumuran beliau kuat juga, "coba Anda rangkum apa inti materi kuliah kita hari ini.”
Otot mulut Dinar terpaku seketika, sementara lututnya terasa lemas. Sekilas, ekor mata gadis itu melirik ke arah pantulan proyektor. Pada salindia, tampak sebuah grafik untuk mengukur kemajuan proses persalinan yang disebut partograf, tetapi Dinar tidak tahu apa yang dikuliahkan hanya berdasarkan dari sana: apakah mereka sedang membahas kasus persalinan normal atau bermasalah? Alhasil, ia pun terdiam seribu bahasa. Di saat genting, Dinar malah berharap Luz akan memanggil dia kembali ke Theta. Namun, harapan itu sama sekali tidak membantu.
“Dinar Ferizal, silakan keluar, cuci muka Anda, dan jangan masuk ruang kuliah sebelum saya beri izin. Paham?”
Oh, jam kehadiran Mata Kuliah Pengantar Reproduksi yang berharga .... Ia berharap bisa bangun dari mimpi buruk itu sekarang juga!
-=-
Sebelumnya ....
“AAA!”
Dinar menjerit nyaring karena Luz baru saja melakukan sesuatu yang aneh. Keributan itu turut membangunkan Kiara yang sedang tidur di samping Dinar.
“Ada apa!” Kiara terlonjak bangun saking kagetnya. Dengan mata setengah terpejam, gadis malang itu menyalakan lampu nakas, sementara Dinar duduk bergeming dengan ekspresi syok dan jantung berdebar kencang. Ia masih bisa merasakan lidah yang basah masuk ke rongga mulutnya, ia lupa pada Kiara yang sedang kesal karena terganggu oleh jeritan di tengah malam.
“Kamu mengigau, ya!” Kiara menggerutu, Dasar gemblung!
"Cuma mimpi buruk, Ra!” sahut Dinar ketika sudah sadar dan kembali ke alam nyata. Ia tidak tahu mimpi tadi termasuk kategori yang mana. Tahu-tahu, ia telah membangunkan Kiara hingga sahabatnya itu menatap dengan mata merah.
“Tidur lagi, yuk!” Buru-buru ia mengajak Kiara kembali berbaring. Untunglah, gadis itu menurut dengan patuh karena kendali alam sadarnya belum pulih. Kiara pun memejamkan mata dengan damai di atas bantal.
Fiuh …, selamat!
Tangan Dinar langsung menjangkau untuk memadamkan lampu di dekat kepala Kiara, lalu menyusul gadis itu ke pulau kapuk.
“Hola!”