"Ucapkan sandinya, maka kau akan masuk ke dalam memoriku.”
“Apakah ini sebuah mantra?”
“Bukan, Princess. Ini cuma aktivasi memori biasa yang sudah kutanam dalam kepalamu.”
Dinar mencoba mengingat apa yang telah diajarkan oleh Luz kepadanya, terdengar gampang. Lebih baik ia buktikan sekarang juga, tidak peduli dengan Kuliah Pengantar Reproduksi yang sedang berlangsung di depan ruangan.
Dinar memejamkan mata, lalu mengucapkan sandi itu dengan lantang dalam kepala, “Resonansi Dinar-Luz diaktifkan.”
Hore, Luz memberi ia sandi dalam bahasa Indonesia! Namun, Dinar agak malu untuk mengakui bahwa kombinasi nama mereka berdua terdengar cukup aneh kala disandingkan.
Bulu kuduk Dinar meremang. Ia kemudian terjaga dalam suasana gelap gulita, sementara layar-layar persegi berisi kilasan optik mulai bermunculan mengitari dirinya hingga menjelma menjadi panorama menakjubkan. Luz telah melakukan sesuatu yang luar biasa dengan otaknya! Dinar terpukau kala melihat setiap pratinjau memori kesatria itu beredar di depan mata. Tubuhnya pun gemetar saking bersemangat, sekaligus bahagia karena bisa merasakan percikan kehidupan Luz secara nyata. Dinar tinggal memilih bagian mana yang ingin ia kunjungi pertama-tama.
Sebuah kamar .... Tangan Dinar terentang bermaksud menggapai layar transparan di hadapannya yang otomatis mengubah latar sekitar. Bagaikan melompat ke dalam layar televisi, ia kini berada dalam sebuah adegan.
Sensasi pertama, segala sesuatu tampak kabur seakan retinanya sedang menyesuaikan diri akibat berpindah dari kegelapan ke ruang bermandikan cahaya. Ia kini berada dalam ruangan luas dan putih. Di seberang, terlukis peta besar dunia bernuansa monokrom menghiasi dinding. Keren.
Akan tetapi, di mana Luz?
Dinar mencoba merasakan tubuh yang sekarang ia tempati. Ia coba mengangkat telapak tangan yang kini adalah telapak tangan Luz, sang pemilik memori. Namun, tangan itu tidak bergerak mematuhi perintahnya. Seperti orang bodoh, Dinar lantas tersadar bahwa ia sedang berada dalam rekam jejak, bukan realitas virtual. Perannya sekarang hanya sebagai penonton, tetapi dalam sudut pandang si empunya memori. Maka, yang bisa ia lakukan kemudian hanya pasrah menunggu segala sesuatu terjadi.