"Wah, ini dia orangnya yang dicari-cari! Kami boleh gabung, ‘kan?”
Dinar terbatuk ketika seseorang menepuk punggung gadis itu dengan keras. Ia langsung menoleh dengan mata berair. Kendati tidak rela waktu istirahatnya tersita, Dinar tak kuasa menolak setelah mengetahui si pelaku adalah kakak tingkat. Di mana-mana, mahasiswa junior harus mengalah pada senior. Lebih baik Dinar tidak macam-macam atau sisa kehidupan kampusnya bakal tidak tenang.
Dinar jadi menyesali keputusannya berada di kantin sekarang. Untuk memulihkan diri dari ketegangan setelah diusir dari ruang kuliah, ia merasa perlu menenggak yang segar-segar. Nyatanya, di sini ia malah terjebak bersama dua orang cewek yang terkenal dengan label “Pemburu Konten Receh". Tercetak jelas di wajah para biang gosip itu kalau mereka sedang tertarik kepadanya. Lantaran sebab apa? Dinar curiga, jangan-jangan ….
“Kamu betulan tidur pas kuliahnya Mister Killer?” Wah, Dinar langsung kena todong. Wajah gadis itu pun memerah bata ketika salah seorang dari mereka menunjukkan sebuah video TikTok yang memuat insiden kesialan dirinya di ruang kuliah barusan. Astaga, ada saja oknum yang diam-diam merekam kejadian tadi lantas mengunggahnya! Tidak habis pikir, deh, zaman now …, apa-apa dijadikan konten siaran. Tanpa andil media sosial pun, kabar miring tentang pengusiran dirinya pasti sebentar lagi akan jadi viral di kampus.
"Epik, Sodara-sodara! Mahasiswi tetiba teriak waktu Dosen Killer kasih materi kuliah! Best timing ever ….” Dinar menelan ludah pahit tatkala membaca isi takarir video. Beragam komentar kocak langsung membanjiri posting tersebut. “Tips nomor satu agar wajah diingat dosen untuk selama-lamanya …,” dan seterusnya. Pembuluh darah pada kulit wajah Dinar seakan mau pecah saking panasnya.
“Anu, Kak-” Dinar tidak sempat membela diri karena omongannya langsung dipotong.
“Sumpah. Keren banget, kamu, Nar! Baru kamu seorang yang berani merusuh di kuliahnya Mister Killer. Kita jadi punya trending topic buat isi kolom berita kampus.”
Kedua pembawa kabar tak sedap itu terus mencerocos tanpa meminta izin atau klarifikasi lebih dulu darinya. Dinar bengong, tidak tahu mesti berbuat apa. Ia juga baru tahu kalau diusir dari ruang kuliah bakal dianggap keren oleh sebagian orang. Tentu saja, karena bakal jadi konten yang bagus. Uh ….
“Kayaknya, kamu bakal jadi maskot dies natalis angkatan kamu tahun ini. Yakin!”
Apa? Dinar bahkan tidak menduga kabar seperti itu!
“Kak, ini hoaks, ya?” tanya Dinar nelangsa.
Keduanya mengangkat bahu dan mencebik dengan kompak. Alamat bakal jadi kenyataan, malang sekali nasib Dinar. Sebelum masuk kampus, Dinar sudah menyiapkan mental, termasuk menyikapi selentingan soal guyonan anak-anak FK yang rada gila. Namun, siapa sangka kalau ia sendiri yang bakal terseret jadi korban.
Tamatlah riwayatnya! Jika sudah meraih popularitas di tingkat fakultas, maka ia harus pasrah privasinya bakal menjadi konsumsi seantero civitas academica, dan hanya ada dua cara untuk mengakhiri kegilaan itu. Cara mudah: keluar dari FK. Cara sulit: oplas wajah, lalu mendaftar dengan identitas baru. Namun, tampaknya, Dinar tidak punya pilihan selain opsi ketiga, yakni membiarkan nasibnya menggelinding seperti bola, lalu berharap mudah-mudahan ia masih waras hingga saat kelulusan. Oh, ia hanya seorang gadis romantis biasa dengan mimpi sederhana. Kembalikan hidupnya yang damai dan berada di luar sorotan ....
-=-
Sepeninggal dua tukang rusuh tadi, Dinar masih membenamkan wajah di tepi meja dengan lengan terkulai di samping badan. Dinar sadar kalau kelakuannya sedang menjadi tontonan para pengunjung kantin yang haus hiburan, tetapi peduli amat. Toh, ada yang lebih penting dari sekadar jadi bahan gunjingan, yakni nilai mata kuliahnya yang terancam kebakaran pasca diusir oleh Mister Killer.
“Hai.”
Tanpa belas kasihan, gangguan masih saja datang bertubi-tubi. Dinar mengangkat wajah, lantas kerongkongan gadis itu seolah tersumbat karena ternyata yang menyapa dia barusan adalah Gathan. “Kebetulan ketemu kamu di sini,” imbuh cowok itu tampak senang. Aneh, seringai jahat yang biasa membuat Dinar ketakutan, kini lenyap digantikan oleh sebuah senyum manis. Gathan terlihat normal tanpa tanda-tanda kebuasan. Uh, Gathan kok jadi so sweet?
Tidak, tidak. Yang manis itu Luz, si tampan unyu-unyu tercinta Dinar.
“Mau pesan apa? Aku traktir.”
Dinar menggeleng. Ia sedang tidak butuh kebaikan Gathan. Sungguh.
“Boleh aku duduk di sini?” Cowok itu meminta izin.
Eh? Tumben Gathan sopan. Dinar masih larut dalam keterpanaan ketika Gathan menarik kursi di samping. Selama ini, ia dan Gathan hanya sibuk bermain petak umpet. Belum ada perdamaian resmi yang tercetus di antara mereka, maka heran saja.
“Aku perhatikan, belakangan ini kamu banyak pikiran, ya, Nar?” Gathan memanggil nama kecil Dinar hingga membangkitkan nostalgia yang sudah sekian lama tercecer dari memori. Dinar menarik napas panjang. Baik hati sekali Gathan menanyakan kabarnya segala. Biasanya, langsung main serang tanpa mau tahu perasaan dia. Dinar pun menyahut pelan. "Enggak ada, kok ….”
“Dinar ...,” panggil Gathan lembut. “Kamu sedang jatuh cinta?”
Dinar tersedak. Di antara sekian banyak orang dan alih-alih mengungkit topik berbeda, kenapa harus Gathan yang bertanya? Intuisi Gathan mampu membuat Dinar merinding. Ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh si cowok penuh modus itu. Namun, Dinar sedikit bersyukur karena mereka sedang tidak membicarakan soal mata kuliahnya yang berada di ujung tanduk.
“Aku-ah, enggak!”
"Enggak perlu disembunyikan. Kelihatan jelas, kok.” Kerutan di sudut mata Gathan seolah-olah menghakimi.
Wajah Dinar merona. Ketahuan sedang kasmaran itu memalukan dan membicarakan topik itu dengan Gathan terasa lebih mengerikan. Gadis itu melengos menghindar dari tatapan sang sepupu yang mendadak perhatian.
“Siapa dia? Pangeran Torri?”
Dor. Kontan Dinar kembali menoleh, terkejut.
"Yang pasti, bukan aku, 'kan?” Gathan terkekeh. Dari bingkai mata Dinar yang melebar, gadis itu pasti bingung dari mana Gathan tahu soal tokoh rekaan tersebut. Andaikan Dinar sadar kalau dunia ini sempit, apalagi Indonesia. Gathan bisa langsung mengenali identitas Dinar ketika menemukan akun gadis itu di sebuah media kepenulisan daring. Dinar lebih memilih menggunakan nama asli karena berasumsi ia bukan tokoh terkenal, jadi tak ada yang perlu dicemaskan. Namun, Gathan tidak akan pernah memberi tahu bagaimana detail penguntitan yang dilakukan cowok itu. Si sepupu adalah silent reader setia, bahkan membeli buku Dinar yang terbit indie, jadi ia tahu persis betapa Dinar tergila-gila pada sosok Pangeran Torri pujaan Dinar.