Beyond Theta

Ravistara
Chapter #18

Void

Dinar terbangun penuh rasa bersalah. Setelah berjibaku dengan pikirannya semalaman, Dinar memutuskan untuk menyanggupi permintaan Gathan soal ajakan makan malam. Jadi, ada satu hal yang masih bergelayut dalam benak Dinar. Hari itu, ia harus menemui Kiara. Bagaimanapun gadis itu berhak tahu karena ada semacam hubungan yang aneh antara mereka bertiga. Suka atau tidak suka.

Mengejar seseorang ternyata tidak enak, Dinar baru tahu seperti apa rasanya ketika ia mengalami kesulitan melacak jejak keberadaan Kiara di kampus. Entah bagaimana Gathan melakukan hal yang sama terhadap Dinar dulu. Berempati? Dinar tidak tahu. Hanya saja, sungguh melelahkan dan menguras pikiran. Apalagi jika ia berada di posisi Kiara, gadis itu pernah mengejar Gathan yang malah mengejar dirinya. Pasti berkali-kali lipat lebih menyakitkan bagi Kiara.

Di mana, sih, gadis itu? Dinar merasa Kiara sedang bermain kucing-kucingan dengannya. Sesekali, Dinar melirik arloji karena ia juga sedang mencuri waktu sebelum praktikum anatomi dimulai. Mestinya sekarang Dinar sedang bersiap menghadapi pre-test, bukan malah keluyuran ke fakultas sebelah. Dengan perasaan galau, Dinar pun menyerah, lalu ia kebetulan berpapasan dengan orang yang dicari-cari di lobi.

“Kiara!”

Dinar menangkap basah gadis itu ketika bermaksud hendak melarikan diri. Oh, yang benar saja. Ia harus berolahraga sebelum praktikum dimulai, yang ada nanti malah ia kecapekan sebelum bertempur di pre-test.

“Ra, kamu kenapa, sih?” tanya Dinar heran dengan tingkah Kiara yang mendadak kekanakan. Kiara menatap Dinar dengan kesal.

“Aku sedang malas ketemu kamu hari ini. Bukan hari ini saja, besok-besok juga,” elak gadis itu enggan.

“Kenapa?”

“Kemarin aku lihat kamu sama Gathan di kantin,” sembur Kiara kecewa.

Oh, begitu ternyata. Pantas saja.

“Jangan salah paham ya, Dinar. Aku bukannya cemburu, juga tidak punya hak. Hanya saja, aku merasa bodoh. Sebenarnya, apa, sih, yang sedang aku lakukan? Dari awal, kita juga enggak saling kenal kalau bukan karena Gathan. Anggap saja semuanya enggak pernah terjadi.” Kiara mengibaskan sebelah tangan di depan wajah.

Dinar dapat merasakan pelupuk matanya mulai memanas. Kata-kata Kiara seolah menghantam segenap kesadaran. Apakah pertemanan mereka adalah kesalahan?

“Ra.” Dinar meraih Kiara, bermaksud memeluk, tetapi gadis itu membentangkan tangan dan mendorong Dinar menjauh.

“Lupakan saja semuanya.”

Dinar menggeleng cepat. Kiara adalah sahabat terbaiknya. Ia tidak rela bila akhirnya hubungan mereka jadi renggang karena sebuah kesalahpahaman.

“Aku dan Gathan cuma saudara.”

“Sudah kubilang, ini bukan tentang Gathan, tapi tentang sikap kamu yang tidak aku pahami.” Kiara berkeras. “Kamu adalah orang yang paling tidak aku pahami di dunia ini, Dinar.”

Ya ampun, perdebatan itu bisa berlangsung selamanya. Waktu yang tersisa bagi Dinar tidak banyak.

“Pergilah sekarang,” perintah Kiara tegas pada Dinar yang kehabisan akal. Dinar pun tidak punya pilihan selain meninggalkan tempat itu dan berlari kembali ke kampus.

Ada perasaan bersalah sekaligus lega ketika Kiara menatap punggung gadis itu. Ah, sudahlah. Ia dan Dinar tidak punya kepentingan apa-apa sekarang. Persahabatan yang mereka jalani memang rapuh laksana lapisan es tipis. Sewaktu-waktu mereka bisa tenggelam akibat perasaan masing-masing.

Dari lobi, Kiara naik ke lantai dua menuju ruang kuliah. Ia nyaris bertabrakan dengan Gathan yang tampak panik di depan pintu, lalu cowok itu pergi tergesa-gesa.

Ke mana lagi cowok itu? Kuliah berikutnya akan segera dimulai. Jangan bilang kalau ia bermaksud pergi mengejar Dinar. Ah, sudahlah. Mereka berdua bukan urusannya lagi. Namun, Kiara mulai merasa aneh ketika menyaksikan teman-temannya berkerumun di pinggir jendela seperti sedang menonton sesuatu. Penasaran, Kiara ikut-ikutan melongok mencari tahu apa yang menarik perhatian mereka.

Lihat selengkapnya