Satu kata untuk Dinar hari ini: badai.
Terlambat masuk praktikum, mengulang pre-test yang susahnya bikin bolong kepala, dan membayar denda. Bayar denda? Ya, sebagai hukuman karena ini sudah sekian kali bagi Dinar datang terlambat.
Ini semua karena, siapa lagi kalau bukan kekasihnya yang setia menunggu di Theta?
Setengah jam menjelang praktikum ....
Dinar berlari kencang menyusuri halaman kampus Fakultas Kedokteran Gigih untuk kembali ke kampusnya. Hidup mati Dinar sekarang dipertaruhkan dalam lima menit ke depan. Jika ia sampai telat masuk praktikum, gawat.
Deg.
Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Apakah karena ia kebanyakan berlari hari ini?
Deg.
Debaran itu datang lagi dan membuat dadanya tidak nyaman. Sabarlah, gedung kampus masih jauh. Dinar melecut pikirannya.
Deg!
Sentakan berikutnya bagai tombol yang langsung menggelapkan pandangan Dinar, daratan yang ia pijak seolah runtuh. Dinar merasa tubuhnya meluncur deras tanpa ampun ke bawah.
Sosok kesatria berzirah gelap dengan rambut panjang keperakan tiba-tiba muncul di hadapan. Kekasihnya yang tampan. Dinar ingin berteriak, tetapi suara yang keluar dari mulutnya malah gumam tidak jelas, lalu ia sadar Luz sedang membekap mulutnya.
Lepaskan aku, protes Dinar dalam hati.
“Berjanjilah untuk tidak berteriak, Sayang,” pinta Luz. Telinga kesatria itu memang sensitif terhadap kegaduhan di atas enam puluh skala desibel. Lucu sekali, padahal kesatria itu adalah penghasil gelombang supersonik.
Gagal berteriak, Dinar melompat-lompat gelisah penuh isyarat.
“Kenapa kau? Mau poop?”
Dinar menggeleng kesal. Luz pasti sengaja mengabaikan suara dalam kepalanya dengan berpura-pura tidak mendengar. Argh. Setidaknya, beri ia kesempatan satu kali untuk bicara. Napas Dinar sesak.
Pikiran itu pun berhasil membuat Luz melepaskan tangan dari mulut Dinar.
“Luz, kamu berniat membunuhku?” tuduh gadis itu kesal.