Dinar tidak bisa selamanya bersembunyi dari rasa bersalah, sehingga rasa itu menyeret ia kembali ke tempat ini. Seorang kesatria sedang menatap laut dari pinggir tebing, seekor paksi tak jauh di sisinya. Bulan raksasa—supermoon—yang kemudian Dinar sadari sebagai gerbang portal Theta, berada di puncak kemilau tanpa cela dengan cahaya berpendar terang pada permukaan Delta.
Itu bukanlah mimpi biasa. Itu adalah alam bawah sadar sang kesatria. Banyak hal baru yang Dinar pelajari di dunia Luz. Di antara sekian, tak ada angin berembus di Theta. Kepak senyap paksi yang lantas mengangkasa seolah makhluk itu baru saja diperintah pergi lantaran kehadiran Dinar, seolah membeku dalam waktu. Ilalang bergerak bagai ilusi di bawah terpaan sayapnya. Luz melenyapkan sensasi itu entah karena alasan apa.
Makin dalam menjelajahi Theta, Dinar merasa makin tenggelam dalam surealisme. Luz telah me-reka cipta segala sesuatu penuh tipu daya. Seandainya itu juga bisa berlaku pada Dinar hingga keberadaan gadis itu takkasatmata atau pikirannya tak mampu terbaca, percuma saja. Dinar tahu bahwa Luz sekarang dapat merasakan kehadirannya. Tanpa ragu, ia peluk punggung sang kesatria, lalu menyandarkan kepala di sana untuk menumpahkan perasaan berkecamuk dalam sanubari. Luz sama sekali tidak menolak, bahkan mengunci pelukan Dinar dengan memeluk balik kedua lengan gadis itu. Apakah Luz telah memaafkan dia?
“Tidak perlu merasa bersalah. Akulah yang memutuskan untuk menyimpan rahasiaku darimu sehingga tidak berhak menuntutmu untuk memahamiku.” Luz menjawab suara hati Dinar. Selalu saja kesatria itu yang menerjemahkan isi pikiran gadis itu. Luz memang istimewa.
“Hei, apa punggungku begitu nyaman?” Nada geli Luz membuat Dinar makin mengeratkan pelukan. Dinar tidak menjawab, justru terpejam dalam buaian. Ia akui, punggung Luz adalah tempat bersandar yang lebih nyaman dari apa pun. Tak menyesal kiranya mereka bertemu. Pengorbanan Dinar terasa sepadan.
“Dinar, aku ada untuk membuatmu bahagia.” Luz kembali menimpali pikiran gadis itu. Sebagai seorang pemimpi dan penulis romansa, tak terhitung lagi ragam untaian kata romantis yang pernah Dinar reka. Namun, jika diucapkan langsung oleh orang yang ia cintai, sukacita itu sungguh tak terlukiskan. Cinta memang menghanyutkan, Dinar tidak keberatan andaikata Luz membawa ia tenggelam serta. Kegelapan di balik romantisme kadang menyamar dalam bentuk yang manis.
“Luz, bawa aku bersamamu ....”
“Kau mungkin akan menyesal.”