Dinar memandangi pantulan sosok dalam cermin. Rambut sebatas belikat yang telah disisir rapi, tergerai di atas minidress yang berpadu dengan celana denim gelap menyamarkan bentuk badan. Namun, ia sedang tidak mematut diri. Dinar sedang berkomunikasi dengan gadis di dalam sana, seakan mempertanyakan kebenaran tindakannya yang telah menerima undangan makan malam dari Gathan.
Dinar tertegun. Ia terikat aturan serius soal jam malam. Dinar sampai memohon agar janji temu mereka dimajukan dengan asumsi bahwa acara akan selesai paling lambat sebelum pukul sembilan. Rencana itu tidak boleh berantakan atau ia akan tersandung masalah. Tentu saja Dinar tidak ingin jatuh pingsan. Orang-orang akan mengira dia punya narkolepsi atau kemungkinan yang lebih buruk …, entah apa yang akan diperbuat oleh Gathan pada dirinya dalam situasi demikian.
Sudah cukup menggeramnya, Dinar. Sekarang, hadapilah kenyataan dengan penuh tanggung jawab!
Ah, ya …, satu lagi. Dinar berbicara keras pada cermin. “Sumpah, Luz. Aku tidak berkhianat. Aku harus mendapatkan benda itu, lalu segera pulang menemuimu di Theta. Tolong, maafkan aku ....” Beres.
Tak lama berselang, terdengar ketukan di pintu. Gathan menepati janji untuk menjemput pukul 7.30. Oh, ayolah. Cowok itu tinggal di sebelah, cuma beberapa langkah.
"Ck. Really?”
Gathan menyeringai ketika mengamati penampilan Dinar tanpa terlewat. Tampak jelas raut kekecewaan pada wajah cowok itu tatkala tatapannya jatuh pada bagian kaki Dinar yang tertutup oleh celana denim.
“Apa kamu punya fetish dengan kaki berlemak?” sindir Dinar. Ia mendadak merasa muak. Jangan bilang kalau cowok itu masih suka memikirkan yang tidak-tidak saat memandang bagian tubuhnya.
Gathan malah meringis lebar. “Duh, aku tidak akan memakanmu, Nar.”
“Memangnya, kita mau makan di mana?” Dinar mengalihkan pembicaraan yang ujung-ujungnya berpotensi merusak suasana dan memperlambat urusan mereka.
“Nggak perlu buru-buru. Apa kamu mau kita lanjut saja makan malam di kamarmu?” seloroh Gathan sambil melongok ke arah pintu di belakang Dinar yang terbuka.
Ada apa sebenarnya dengan isi otak sepupunya ini? Belum lima menit bertemu, sudah membuat tensi naik dan kening berkerut saja.
“Kidding. Yok. Keburu malam, suhunya mulai dingin.” Gathan memberi isyarat dengan gerakan kepala agar mereka segera pergi. “Tapi …, makin dingin justru tambah asyik, 'kan?” Gathan kembali menggoda sebelum berjalan menuju tangga. Sikap cowok itu berhasil memancing kekesalan Dinar. Adrenalin terpompa ke seluruh tubuh gadis itu, hingga muncul desakan untuk segera menyusul. Bunyi kaki mereka berderap di anak tangga.
“Gathan, kita sebenarnya mau ke mana, sih?” Susah payah Dinar mengejar langkah-langkah panjang di sampingnya.
“Hm. Ke mana, ya? Di sini, kan, jauh dari peradaban.”
Dinar mendelik, berharap cowok itu serius dengan ucapannya. Gathan pun tampak senang telah membuat ia terpancing. “Ayo, dekat-dekat sini, biar hangat!” Gathan menarik tangan Dinar agar merapat, lalu diselipkan ke dalam saku pea coat yang dikenakan cowok itu di atas kemeja kasual. Pipi Dinar bersemu merah. Lekas gadis itu menolak dengan menarik kembali tangannya.
“Nggak usah sungkan begitu, Dinar. Seingatku, kita sering gandengan dulu waktu kecil.” Nah, itu dia masalahnya. Mereka bukan anak kecil lagi. Sikap Gathan terlalu mesra.
“Bilang saja kita mau ke mana sekarang,” ujar Dinar gelisah melirik arloji. Gathan mengerutkan kening hingga sepasang alis tebalnya nyaris bertemu. Keberadaan benda yang melingkari tangan Dinar sontak merusak suasana. Jangan bilang Dinar kepingin acara kencan mereka segera berakhir sebelum dimulai.
“Take our time, Cute Pear. It's a long long night anyway ...,” tukas Gathan santai, sengaja mengulur waktu Dinar yang berharga.
"Cukup, Gathan!” Dinar hilang kesabaran lantas memaki sepupunya dengan jengkel. Ia berbalik arah kembali ke apartemen.
“Hey, Cute Pear!” panggil Gathan, tetapi Dinar tidak acuh. “Kamu mau ini, tidak?” Terdengar sebait nada lagu kekanakan dengan musik riang. Begitu Dinar memutar badan, Gathan sedang menggoyang-goyangkan sebuah gawai di tangan.