Sebelum Dinar tertidur, sepertinya gadis itu sempat berciuman dengan lantai sebentar, tetapi sekejap kemudian, telapak kakinya terasa agak perih bergesekan dengan alas akar yang kasar, tebal, dan berduri. Tubuh Dinar tengah terbenam sampai ke pinggang dalam hamparan permadani ilalang. Sejauh mata memandang, pucuk-pucuk malai berwarna pucat memantulkan lembut sinar lentera di langit Alpha. Ia kini berada di tengah prairi ketika pagi perawan baru saja bersolek.
Untuk sesaat, Dinar merasakan kekacauan ruang dan waktu Melompat terlalu cepat dari satu potongan ke potongan adegan lain sungguh membuat bingung pancaindra. Otak Dinar pun selalu saja menjerit setiap kali eksistensi dan kesadarannya diekstraksi paksa ke luar realita.
Akan tetapi, ada seseorang yang sangat ingin ia temui di sana.
Dinar memutar badan ketika sebuah sentuhan lembut mengusap lengan atasnya. Sesosok kesatria tampan sedang menatap gadis itu lekat penuh perasaan. Luz. Orang inilah yang ingin Dinar temui sekarang meski harus menentang dimensi fisik dan waktu yang ia kenal.
Dinar langsung disambut oleh sepasang lengan kokoh hingga wajah gadis itu terbenam pada permukaan padat logam di atas dada bidang. Ia merasakan dekapan Luz yang nyaman selagi jari-jari mereka saling menyelusup di antara helai rambut masing-masing. Ketegangan di bahu Dinar mulai mengendur, begitu pula tekanan jemarinya di punggung Luz. Saat itu, ia hanya ingin sang kesatria menarik ia sepenuhnya ke dalam Theta, lalu bersembunyi dengan aman, jauh dari jangkauan Gathan beserta masalah yang diciptakan cowok itu di dunia nyata.
Belaian mesra Luz di punggung Dinar sontak membeku. Kesatria itu tidak sengaja mendengar isi pikiran gadis itu dan Luz tidak mungkin mengabaikan begitu saja. Ketika pintasan-pintasan memori celaka milik Dinar mulai berlarian, Luz tak urung menyesali kemampuan terkutuk yang dianugerahkan kepada dirinya.
Di sisi lain, wajah Dinar mengisyaratkan sebuah tanda tanya besar. Bunyi degup jantung Luz terdengar berderap cepat dan membuatnya heran—reaksi sistemis tubuh Luz setelah diracuni oleh rahasia yang harusnya ia simpan.
Apakah Luz bisa mengetahui apa yang kupikirkan tadi?
Tentu saja, Bodoh! Ceroboh sekali kamu memikirkan soal Gathan saat sedang bersamanya!
Astaga …, malah kuulangi lagi! Jangan pikirkan, jangan pikirkan!
Terlambat. Senandika kacau yang berkecamuk dalam benak Dinar telanjur terbaca oleh Luz tanpa sensor; Gathan, entah siapa namanya, yang pasti, orang itu telah mengganggu gadisnya. Luz geram. Apa pun yang telah dilakukan oleh Gathan, ia akan membuat Dinar melupakannya ....
Tangan Luz turun ke pinggang Dinar dan memeluk erat area itu, sementara sebelah tangannya menyelusup di antara akar rambut dekat tengkuk gadis itu lalu menariknya hingga wajah Dinar menengadah. Kesatria itu lalu menunduk dan menyerang dengan cepat sehingga Dinar tidak mampu menolak. Sebaliknya, gadis itu malah terhanyut tanpa ampun dan memejamkan mata pasrah. Jika itu adalah usaha Luz untuk meredakan gejolak pikiran Dinar, maka kesatria itu berhasil. Namun, jika itu adalah sebuah hukuman, maka sungguh membingungkan.
Dinar pun tidak dapat mengendalikan diri. Secara naluriah, ia membalas sehingga mereka berdua tenggelam menyesap dimensi rasa yang dalam. Waktu seakan berhenti sampai Dinar tidak bisa lagi mengingat kejadian sebelumnya. Yang tertinggal hanyalah secarik sensasi aneh. Kepalanya bagai dicelup ke dasar samudra yang dingin, lalu semua memori buruk seakan lenyap menjadi buih tanpa arti.
Lantas, Dinar tersadar apa yang sedang mereka lakukan. Kenapa tiba-tiba ia terperangkap dalam aktivitas ciuman yang seru bersama Luz? Mata Dinar membelalak dan tangannya otomatis mendorong dada kesatria itu menjauh agar tidak melanjutkan permainan.
“Luz, apa yang kamu lakukan?” desis Dinar terkejut.
Luz tersenyum sambil menyeka bibir yang basah. Dinar pun mengikuti jejak kesatria itu untuk menghilangkan sisa-sisa ciuman mereka yang terasa manis dan lengket. Bukan itu saja, bibirnya bahkan terasa hangat dan berdenyut-denyut seakan habis digigit. Dinar tidak habis pikir apakah pengakuan Luz bahwa kesatria itu tidak punya keinginan seksual adalah kebohongan? Perlakuan Luz barusan padanya jelas-jelas penuh gelora dan hasrat. Nyaris saja akal sehat Dinar tidak terselamatkan.
Luz hanya tertawa membaca pikiran gadis itu, sekaligus lega mengetahui bahwa Dinar yang normal telah kembali.
“Kenapa? Kau menyukainya, bukan?”
Dinar mendelik marah pada Luz. Jika kesatria itu bicara seperti tadi sekali lagi, ia bersumpah akan menendang bokongnya! Namun, ah, ada hal yang jauh lebih penting.