Ubin yang dingin mengecup pipi Dinar. Kesadaran gadis itu perlahan kembali ke kepala dan kelopak matanya terbuka setengah hati. Bibir Dinar lantas menguncup melancarkan desah protes karena seluruh ototnya terasa berdenyut. Ketika penglihatan gadis itu mulai jernih hingga mampu memproses situasi kamar yang ganjil, barulah Dinar sadar kalau ia tidur di lantai! Dinar segera mengerjap berulang kali seolah meyakinkan diri atas apa yang terjadi semalam.
Dinar terduduk kaget lantas melirik ke pangkuan, lalu pandangannya beredar gelisah ke segala arah seakan mencari sesuatu yang hilang. Hal terakhir yang ia ingat kemarin malam adalah membuka cokelat pemberian Gathan dan tampaknya, Dinar langsung jatuh pingsan setelah mencicipi sebutir. Astaga, jangan bilang kalau Gathan telah memasukkan sesuatu ke dalam cokelat itu.
Setelah pulih dari keterkejutan, ia lalu beranjak memeriksa seisi kamar. Dinar kemudian menemukan kaleng cokelat tersebut nangkring di atas nakas tempat ia biasa menaruh buku-buku bacaan, sedangkan benda-benda lain yang dikirim bersama hadiah itu telah berpindah ke kotak sampah. Nah, mungkin Dinar tidak sengaja membuangnya. Bukan bermaksud meremehkan perasaan Gathan yang tertuang dalam surat, hanya saja, tidak bersambut dengan perasaannya.
Penasaran, Dinar meraih dan membuka kaleng berbentuk hati tadi. Namun, jantung Dinar seakan mau copot ketika menemukan isi kaleng telah kosong dan hanya menyisakan remah-remah cokelat yang menempel pada kemasan plastik. Kapan Dinar menghabiskan semua cokelat lezat itu?
Sungguh tak masuk akal, seperti ada bagian yang hilang. Dinar pun mencoba me-reka ulang kejadian kemarin, semenjak ia dan Gathan pulang bersama. Ada cokelat di depan pintu, pertengkaran kekasih antara ia dan Luz, taman bermain, bertengkar lagi karena Luz tahu tentang Gathan, lalu ciuman-oh, lupakan bagian itu!-lalu semua diakhiri dengan Loca Primavera.
Tunggu, Luz tahu tentang Gathan dan Dinar tidak mengerti kenapa bisa begitu! Seingat Dinar, ia tidak pernah mengungkapkan rahasia sepenting itu dan tidak mungkin ia nekat berbuat demikian. Pasti pikirannya yang kacau tidak sengaja terbuka hingga rencana makan malam pun terbaca oleh sang kekasih. Hebat.
Dinar terduduk lemas di sisi ranjang dengan leher tertunduk. Ya, ya, ya. Cepat atau lambat, Luz pasti akan tahu juga. Sekarang, pikirkan bagaimana cara untuk menolak ajakan Gathan, sedangkan ia sudah menghabiskan cokelat pemberian cowok itu!
Oh, tidak ada waktu untuk cemas sekarang. Jarum panjang pada jam dinding baru saja melewati angka dua belas, sedangkan waktu menunjuk angka tujuh. Setengah jam lagi, Dinar harus berangkat kampus. Fokus. Fokus.
Dinar melakukan segalanya serbacepat. Mandi, berpakaian, juga sarapan dengan sepotong roti tawar, dan secangkir sereal instan. Ia tampil rapi dalam blus dan rok lipit besar selutut. Setelah berbalik mengunci pintu, tiba-tiba Gathan berdiri di hadapannya.
“Sori, Gathan. Aku buru-buru.”
Bodoh, seharusnya ia langsung pergi saja. Gathan memojokkan Dinar ke dinding dengan kedua lengan memagari gadis itu.
“Apa malam tadi kamu gila?”
“Maaf, aku makan cokelatmu, tetapi terima kasih, aku benar-benar tidak bisa pergi malam ini.” Dinar mendengkus ketakutan, berusaha mendorong Gathan sekuat tenaga untuk menyingkir, tetapi cowok itu bergeming
Lucu sekali. Gathan tertawa sumbang.
“Kepalamu terbentur? Aku sedang membicarakan makan malam. Kenapa kamu buru-buru pergi?”
“Sudah kubilang, nggak bisa. Aku punya banyak urusan kalau malam.”
"Oh, ya? Urusan apa yang lebih penting daripada pertemuan keluarga kita? Really? Kamu bikin aku tampak bodoh malam tadi!”
“Aku minta maaf soal cokelat.”
“He, jangan mengalihkan pembicaraan, Cute Pear!”
Demi Tuhan, Dinar tidak paham apa yang Gathan bicarakan, juga soal pertemuan keluarga yang cowok itu sebut-sebut barusan. Gathan kelihatan kesal sekali dan Dinar dapat merasakan dengkusan kasar napas cowok itu menyapu wajahnya.
“A kiss.” Ucapan Gathan mengaktifkan alarm peringatan di kepala Dinar seketika. “Hanya itu cara untuk menebus kesalahanmu.”
“Kamu ngomong apa, sih?” Dinar makin gemetar merapat ke dinding, lebih-lebih ketika Gathan memaku kedua tangannya di samping. Nyaris saja cowok itu melancarkan niat bejatnya andai pintu di seberang kamar Dinar tidak berisik terbuka. Sang pemilik, seorang mahasiswi, langsung terkejut mendapati adegan tersebut terjadi tepat di depan mata.
“Dasar liar, tidak punya kamar, apa?” Perhatian Gathan dan Dinar otomatis teralih. Dinar pun memanfaatkan kesempatan itu untuk membebaskan diri dengan merangsek maju menerobos kungkungan lengan yang mengendur. Gathan lengah hingga terlambat bereaksi--masih sensitif juga saraf malu cowok itu setelah kena tegur si penyela tadi. Dinar segera kabur menyerbu tangga setelah berterima kasih kilat kepada sang penyelamat.
Gathan gila! Kepingin ia umpankan cowok itu ke tangan Luz agar dikurung di lubang hitam. Ah, mungkin, terlalu kejam. Kedalaman Delta pun tampaknya sudah cukup untuk memberi Gathan pelajaran.