Beyond Theta

Ravistara
Chapter #27

Transducer

Luz menghilang.

Malam tadi, Dinar nyaris tidak bisa tidur, apalagi mengerjakan sesuatu karena asyik termenung di kamar meski jarum jam menunjukkan angka sebelas. Gadis itu tidak tahu apa yang salah. Sejak pertengkaran terakhir mereka, tidak ada lagi jam Theta yang berlaku. Malam-malam seakan berlalu cepat digerus waktu. Tahu-tahu, ia telah terbangun sebelum ayam berkokok dan keadaan itu sudah berlangsung hampir seminggu. Setelah masa-masa yang ia habiskan bersama sang kesatria, kesendirian itu terasa ganjil dan asing.

Dinar, sudah berkemas buat pindahan lusa?

Tatkala sedang merenung di pinggir danau depan Pos Sekre UNPAD, sebuah pesan masuk dalam gawai. Ia segera membalas. Semua benda sudah dirapikan dan tinggal diangkut. Akhirnya, Dinar menemukan indekos dekat kampus. Biasa saja, letaknya pun di gang dekat jalan tikus, tetapi jauh lebih menghemat waktu untuk berjalan kaki, dan yang pasti, jauh dari Gathan juga.

Selamat tinggal, Gathan. Selamat tinggal, Jembatan Cincin, dan …, ah. Dinar menggigit bibir getir. Ia takkan pernah siap mengucapkan selamat tinggal kepada Luz. Di mana kesatria itu?

Keadaan itu sebenarnya tidak terlalu buruk. Ia bisa lebih fokus pada kegiatan perkuliahan dan tidak melupakan hal-hal penting lagi. Namun, tetap saja Dinar merasa ada yang salah. Apakah mungkin terjadi sesuatu pada Luz? Dinar sungguh tidak sabar untuk mencari tahu hingga hari kepindahan lusa. Dinar sadar bahwa kesempatan untuk memasuki mimpi Luz mustahil diprediksi, jauh lebih susah daripada menghidupkan Pangeran Torri dalam imajinasinya, lalu terbawa tidur hingga ke alam mimpi. Luz bukanlah khayalan. Namun, masih ada satu cara yang bisa ia pikirkan untuk mengobati rasa rindu.

Maka, Dinar pun berbaring dengan gugup di ranjang malam itu. Bantal di bawah kepala seakan turut menenggelamkan pikirannya untuk segera berkelana. Ia berkata lirih, “Resonansi Dinar-Luz diaktifkan".

Pikirannya lantas dibawa ke sebuah ruangan. Di mana ini? Dinar pikir, ia akan kembali ke kamar besar serbaputih yang pernah ia kunjungi dulu, tetapi perkiraan gadis itu keliru. Kini, ia berada dalam ruang petak dengan kondisi mengerikan seperti bilik penjara. Peturasan dan wastafel di satu sisi dinding dan sebuah ranjang sempit di seberang.

Semua berlangsung serba tak terduga. Ia mengarahkan telunjuk pada gagang hingga pintu terbanting terbuka, lalu keluar dan berlarian di lorong. Lantas, Dinar menyadari bahwa sosoknya menjadi lebih pendek dari yang terakhir ia ingat. Tapak kakinya juga jauh lebih mungil. Luz kecil?

Situasi di luar dirinya terasa mencekam ketika teriakan-teriakan bergema di belakang. Dinar merasa sosok ini sedang panik luar biasa. Setelah berlarian tak tentu arah dan berbelok di banyak tikungan, ia terpojok dalam sebuah ruangan besar berkubah. Banyak lelaki berkacamata mengilap tiba-tiba mengepung dari segenap penjuru. Suasananya kacau. Ia melawan, disergap, lalu tersentak hebat, hingga sesuatu terjadi—ia melayang di udara!

Selanjutnya, Dinar merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Napasnya pun berkejaran. Ia kembali ke realita tepat saat adegan berdarah di hadapannya baru saja dimulai. Dinar tidak sanggup menyaksikan hingga selesai. Mengerikan. Sungguh mengerikan. Darah di mana-mana. Tampaknya, ia baru saja menyentuh kilasan kelam yang tak boleh terungkap.

Dinar gagal memejamkan mata barang sekejap malam itu hingga pagi menjelang.

-=-

Dinar adalah seorang pelajar yang rajin dan gelar itu berhasil ia pertahankan hingga ke bangku kuliah. Namun, ini pertama kalinya Dinar membolos dalam sejarah. Gadis itu merasa tidak sanggup bangun dari ranjang lantaran syok. Ia bahkan harus menyeret diri ke kamar mandi hanya untuk sekadar mencuci muka dan menggosok gigi, sedangkan jam sarapan ia lewatkan begitu saja akibat kehilangan selera. Akhirnya, Dinar menghubungi salah seorang teman kuliah untuk menyampaikan izin sakit meski agak terlambat, sisanya akan dibereskan nanti lusa dengan sepucuk surat keterangan sakit dari dokter.

Beragam pikiran buruk tentang Luz menghantui Dinar sejak tadi malam. Ingin sekali ia pergi ke Theta sekarang, lalu menginterogasi Luz atas memori yang ia saksikan di masa lalu demi menuntaskan rasa penasaran. Namun, Dinar takut malah akan membuat ia semakin terpuruk. Kadang, Dinar berpikir bahwa Luz kejam. Siapa sangka, ia justru melihat versi Luz yang lebih mengerikan. Kendati demikian, ia berharap resonansi tadi malam adalah halusinasi belaka.

Halusinasi itu mulai menggema dalam telinga dan berubah wujud menjadi bunyi ketukan di pintu yang terdengar semakin keras. Astaga, ia melamun. Seseorang benar-benar sedang mengetuk pintu kamarnya sekarang. Dengan malas, Dinar bangkit dari ranjang, tak lupa menyeka kulit wajah yang kuyu.

“Hai, Cute Pear, kata temanmu, kamu sakit.” Gathan sigap menghalangi pintu dengan siku dan berhasil merangsek ke dalam kamar.

“Kamu mau apa?” protes Dinar tidak berdaya. Kelelahan dan stres membuat respons gadis itu sungguh buruk. Gathan pun terkejut mendapati keadaan kamar Dinar yang setengah kosong dan ada kotak-kotak kardus rapi berjajar di satu sudut.

“Kamu serius mau pindah rupanya.” Gathan terdengar kesal.

“Keluar, Gathan!” perintah Dinar marah, tetapi cowok itu bergeming.

“Aku saja yang keluar kalau begitu!”

Gathan menggagalkan niat Dinar dengan merebut kartu akses di tangan gadis itu, lalu dimasukkan ke dalam kantong belakang celananya.

“Ga-Gathan!” Tangan Dinar terulur pasrah, terlambat untuk mempertahankan barang miliknya. Lagi-lagi, Gathan berbuat sesuka hati.

Cowok itu menyeringai licik. “Ambil sendiri kalau mau.”

Tangan Dinar mengepal di udara, tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Naluriah saja, ia segera berlari ke dalam kamar mandi, lantas mengunci diri di sana.

“Dinar, keluar!” Gathan mengetuk di balik pintu dan tentu saja tidak beroleh respons. “Baiklah, cepat atau lambat, kamu pasti keluar dan aku akan menunggumu di sini.” Terdengar bunyi pegas berderak, sepertinya Gathan menghempaskan diri ke atas kasur.

Gadis itu hilang akal sekarang. Dengan putus asa, ia tersandar di balik pintu. Tidak ada yang bisa dilakukan dan Dinar tidak berani keluar selagi masih ada Gathan di kamar. Entah apa yang akan cowok itu perbuat padanya. Satu-satunya harapan adalah menunggu kedatangan orang tuanya nanti malam dan itu masih lama. Gadis itu pun meringkuk frustrasi.

“Dinar Sayang, aku baru saja memesan delivery dan sebentar lagi akan datang. Ayolah, keluar dan kita makan bersama.” Terdengar bujukan Gathan samar-samar.

Persetan! Meskipun Dinar memang lapar, tetapi ia tidak berani memercayai Gathan. Salah-salah, dirinya yang akan jadi santapan. Sial, mana ia tidak memegang gawai, jadi Dinar tidak bisa menghubungi siapa-siapa untuk meminta bantuan.

Tepat pada saat ia berpikir begitu, terdengar nada dering pesan masuk yang berasal dari gawai Dinar di kamar, lalu suara Gathan memberi tahu. "Cute Pear, aku barusan balas SMS Tante Reva kalau kamu batal pindah.”

“Gathan!” Dinar tak ayal terpancing dan menyerbu keluar. Cowok itu berhasil mengelabui gadis itu dengan gagasan licik, hingga Dinar segera menyesali tindakannya yang gegabah. Gathan menangkap dan menyeretnya ke tempat tidur, lalu mengunci posisi gadis itu di bawah.

“Jangan, Gathan! Please!” Air mata Dinar mulai luruh menggenang.

“Jangan apa?” tanya cowok itu teramat puas.

“Jangan sentuh aku!”

“Kamu sudah bikin aku marah, Dinar. Aku sudah cukup bersabar selama ini!” Napas cowok itu menerpa muka Dinar, membuat gadis itu merinding seketika. Otot wajah Dinar kontan menegang ketika merasakan sapuan hidung Gathan menyusuri garis rambut di keningnya.

"Enggak mau!” Tangis Dinar pecah. Namun, cengkeraman Gathan membuat ia tidak berdaya. Tenaganya belum terisi sejak pagi dan ia kalah kuat. Terdorong oleh rasa putus asa, Dinar kemudian memanggil nama Luz berulang-ulang sehingga konsentrasi Gathan terpecah di antara rasa geli.

Lihat selengkapnya