“Luz, kau membuatku takut!” Dinar tersentak melepaskan diri dari pelukan kesatria itu, tetapi gagal.
“Kau takut padaku?”
“Kamu seperti Celica saja!”
"Celica juga bagian diriku, ingat?”
“Jangan bercanda, Luz! Tidak lucu!” Dinar makin berontak dan gelisah.
“Apa kau mau tahu?” Kesatria itu berbisik penuh misteri di telinga Dinar, hingga gadis itu mendadak kaku disergap rasa takut-Ia takut terhadap kekasihnya sendiri?
“Sayang, buka matamu baik-baik dan lihatlah siapa aku.” Luz tiba-tiba muncul di hadapannya. Di antara mereka, terentang semacam jarak yang gagal Dinar pahami. Di matanya, Luz terasa asing. Iris perak milik Luz berkilat seraya bibir kesatria itu bergumam lirih. “Theta, the beginning ....”
Bagai ditelan gelombang cahaya, segala sesuatu yang ada di sekeliling mereka binasa. Tanah terbelah, daratan sirna; batu-batu beterbangan dan awan badai luluh lantak menjadi kepulan gas. Semua kekacauan itu mengorbit ke satu pusat, sang kesatria.
Kepala Dinar seolah ingin meledak dan melihat Luz seakan ada dua. Sudah tidak jelas lagi siapa yang sekarang ada di hadapan gadis itu: Luz atau Celica. Dinar terjaga hingga saat-saat mengerikan itu berakhir dengan degup jantung yang menggila dalam rongga dada.
Panorama biru satin kemudian membentang pada fokus retina Dinar, cakrawala yang dulu menyambut ia pertama kali di langit Alpha. Lalu kemudian, Dinar merasakan sesuatu yang ganjil. Meskipun berada di awang-awang, ia tidak melayang atau pula terbang. Gaya gravitasi di sekitar gadis itu membeku layaknya panggung bisu. Punggung Dinar lantas membentur sebidang tubuh kokoh dan sepasang lengan logam mengelilingi area pinggangnya. Dinar mendongak dan melihat wajah Ikram dalam jarak dekat.
“Nah, apa kau sekarang percaya bahwa di tempat ini ada monster?” Cyborg itu bertanya pada Dinar seolah mengejek. Kemunculan Ikram sontak membangkitkan amarah pada diri sang kekasih. “Kau mencari masalah di waktu yang salah, Mesin Hina! Serahkan Dinar padaku!” bentak Luz.
“Itukah namamu, Nona Misteri?” Ikram terkekeh hambar dan kering. Namun, cyborg itu tidak menggubris gertakan Luz sedikit pun. Sebaliknya, si cyborg memperlihatkan sikap makin menantang dan menahan Dinar di sisinya.
“Kembalikan dulu ayahku, Pembunuh!”
"Omong kosong!”
“Apa yang kalian bicarakan?” Suara Dinar bergetar syok. Ikram mengangkat dagu gadis itu dengan ujung jari dan telunjuk, sengaja mempermainkan Dinar dalam sebuah teka-teki. “Kau sungguh tidak tahu siapa Luz sebenarnya, Nona Misteri? Sungguh? Apakah kalian benar-benar sepasang kekasih?”
“Hentikan! Jangan libatkan gadisku!”
Dinar memekik ketika tubuh gadis itu bergerak cepat dalam dekapan Ikram untuk menghindari tebasan rantai Luz yang menyasar mereka-tepatnya, si cyborg.
“Lepaskan aku, Ikram.” Dinar memohon.
“Setelah aku susah payah menyelamatkanmu?” Ikram menolak dengan sinis. Cyborg itu kemudian beralih mencela Luz. “Hei, Monster. Kau pasti menginginkan Dinar, bukan? Nah, penuhi dulu permintaanku. Apa kau sanggup mengembalikan ayahku?”
“Itu bukan urusannya, Ikram.” Luz mulai terdesak oleh ancaman Ikram yang memanfaatkan Dinar sebagai tameng.
“Jika seorang pria menghilang, maka pria lainnya akan datang, Monster.”
Luz menyeringai marah. “Jadi, sekarang kau menjadikan seorang gadis untuk mengecohku? Tidak akan berhasil, Tuan Kaleng.”
“Tunggu saja hingga dia kuhancurkan berkeping-keping. Kau pasti akan menangis.”
“Tipuan murahan!” Bentakan Luz dan ancaman Ikram membuat Dinar tersentak. Ia kini terjebak dalam perdebatan sengit dan lebih memilih untuk menutup mata di bawah pasungan Ikram yang makin kuat dan mulai terasa menyakiti.
“Fokus saja pada urusan kita, Mesin Bodoh! Lepaskan Dinar!”
“Lalu, kau akan membunuhku seperti membunuh ayahku?” Tatapan Ikram berkobar.
“Bukan aku yang menginginkannya, tetapi merekalah yang memaksaku!”
“Kuanggap jawaban itu sebagai iya.”
“KENAPA KAU MENCARIKU!” Kesabaran Luz memuncak. Luapan emosi terpancar dari seluruh tubuhnya. Dengan rambut berkibaran dan mata perak berkilat, penampilan Luz sekarang memang menyerupai monster. Mulut Ikram lantas berhasil terkunci sesaat oleh sentakan energi yang menerpa wajah cyborg itu. Bahkan, Luz kelihatan tidak segan maupun perhitungan lagi. Serangan kesatria itu juga turut dirasakan oleh Dinar yang langsung meringis kesakitan.
"Energi terkutukmu itu tidak mungkin kuabaikan, Bocah! Karena itukah kau merasa kuat dan berkuasa atas nyawa orang lain? Kau-telah-membunuh-ayahku.” Ikram tak kalah meradang. Getar suara si cyborg merambat di punggung Dinar dan menimbulkan sensasi yang sungguh tidak nyaman.