Luz memandangi Dinar yang bergeming dalam dekapan. Gadis itu jatuh tertidur dan mata-mata rantai telah dilepaskan dari tubuhnya. Mereka berdua bergulung rapat dalam sayap hologram yang kini beralih fungsi menjadi selimut.
Kesatria itu menarik bibir penuh makna. Ada yang tidak beres dengan kepalanya. Meskipun telah membaca isi pikiran Dinar yang putus asa, tapi tidak ada rasa bersalah atas apa yang ia perbuat terhadap gadis itu. Ia merasa layak mendapatkan semua itu. Dinar, cinta, beserta kehidupan gadis itu adalah miliknya. Luz seakan bisa mendengar tawa Celica dari pojok kegelapan. Ego state itu telah menguasainya.
Luz menanggalkan sayapnya. Ia biarkan objek hologram itu tetap melingkupi Dinar yang pasti tidak senang menyadari penampilannya sendiri waktu terbangun. “Lihatlah, kau seperti mahakarya Yunani, Sayang.” Luz bergumam dengan mata berbinar sembari mengusap bibir gadis itu dengan ibu jari. Puas karena telah menjadikan Dinar miliknya seutuhnya.
Setelah itu, ia beralih pada Ikram. Tanpa tubuh mesin, cyborg itu sekarang lebih mirip kepala boneka yang diamputasi. Mata Ikram terpejam rapat, meskipun tanda-tanda kehidupan masih berembus lemah dari hidungnya. Luz menjambak rambut cyborg itu dan mengangkatnya ke depan wajah seolah mengajak berbicara. “Nah, mari lanjutkan urusan kita yang belum selesai, Tuan Mesin.”
-=-
“Ini aneh, Nona Lindberg. Seolah ada yang mengunci pikirannya.” Dokter Cho yang mengepalai tim medis di laboratorium, menunjukkan sebuah laporan ke hadapan seorang wanita. Kedengaran tidak masuk akal. Lindberg lantas membaca diagram berwarna dalam berkas yang dilempar ke atas meja. Cetak digital aktivitas kelistrikan otak menunjukkan sinyal aktif terisolasi di salah satu bagian lobus. Dokter Cho benar.
“Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?” Wanita itu menatap penuh selidik.
Pria paruh baya di hadapannya mendesah dan menggeleng. “Baru kali ini.”
“Aku ingin melihat kondisinya sekarang.” Wanita itu berjalan cepat keluar dari ruangan, meninggalkan meja kerja yang dipadati oleh lembaran film berserakan. Langkahnya diikuti oleh Dokter Cho di samping. Setelah menempuh perjalanan satu blok dan berbelok di lorong, mereka tiba di sebuah ruangan luas penuh monitor dan pekerja yang bergantian bersiaga tiap dua belas jam. Wanita itu kemudian bersedekap mengamati sebuah kapsul di balik bilik kaca. Seorang pria muda berbaring di dalamnya, terlihat tidur dengan damai tanpa bergerak sama sekali.
“Ivo, sebenarnya apa yang terjadi padamu?” desis wanita itu gusar.
“Nona Lindberg.” Kepala Dokter Cho menyembul di balik bahu si wanita jangkung. Sang dokter berbicara dengan pelan. “Kasus ini berada di luar jangkauan kita. Sesuatu yang supranatural sepertinya sedang bekerja pada Ivo.”
Wanita itu pun mendelik. “Tidak ada hal semacam itu, Dokter!” Ia adalah seorang yang skeptis. Meskipun tumbuh besar dalam lingkungan yang lekat dengan animisme, ia tidak percaya dengan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. "Omong kosong.”
Dokter Cho mengedikkan bahu. “Semoga keajaiban segera terjadi,” kata pria itu pasrah. “Ini sudah berminggu-minggu, Nona. Ivo akan butuh banyak rehabilitasi setelah bangun, kalau ia beruntung dan tidak mati.” Pria itu pun memperoleh tatapan tajam dari wanita di sisinya. Namun, ia hanya menyambung, “Akuilah kalau penelitian ini sudah berakhir kaos, Nona Lindberg. Nyawa Ivo dalam bahaya sewaktu-waktu. Ikram harus dihentikan secepatnya.”
“Kami sedang berusaha, Dokter. Sedang.” Wanita itu tampak kesal.
“Dok, Anda harus melihat ini.”
Seorang operator menyela obrolan mereka. Perhatian Lindberg dan Dokter Cho segera teralih pada salah satu layar monitor yang menampilkan grafik lobus otak dengan beragam area warna. Gurat-gurat usia pada wajah Lindberg semakin tegas. Tampak jelas ketegangan meliputi sepasang mata yang dikelilingi oleh zona suram itu. Wanita itu menggosok dagu tidak sabar dengan jempol.
“Kenapa bocah sombong ini belum kembali juga?” desis wanita itu, lantas dijawab oleh gerakan kepala dan cibiran tak tahu sang operator.
Alarm lalu berbunyi memekakkan telinga dan menggemparkan tempat itu.
“Dokter Cho, cepat lakukan sesuatu!”
Teriakan Lindberg tidak memperbaiki kepanikan yang mulai melanda. Paramedis berlarian memasuki bilik berusaha memberi pertolongan pertama pada pria dalam kapsul yang dibuka paksa. Perhatian semua orang kini tertuju pada aktivitas di balik lapisan kaca tebal yang menjadi pembatas antara ruangan pengawas dan area steril berwujud kubah di depan mereka.
“Bagaimana keadaannya?” Dokter Cho berbicara lewat interkom kepada salah seorang petugas.
“Kejangnya tidak berhenti, Dokter!” Laporan awal mulai masuk, sementara sang dokter tampak berkonsentrasi di depan monitor untuk mengamati lonjakan gelombang yang tiba-tiba muncul, padahal sebelumnya relatif tenang. Subjek penelitian mereka mengalami bangkitan tonik hebat yang nyaris melumpuhkan otot diafragma.
“Berikan dosis kedua!” perintah pria itu cepat.
Advis itu segera dilaksanakan oleh paramedis yang bergerak dengan ketepatan penuh perhitungan. Akhirnya, mereka dapat bernapas lega ketika Dokter Cho memberitahu lewat interkom bahwa lonjakan listrik patologis yang terekam di monitor mulai melambat, hingga akhirnya stabil.
“Ikram sialan, akan kumusnahkan kau sekarang juga!”
Kini, giliran orang-orang itu mengamankan Lindberg yang mengamuk marah ke dalam bilik, bermaksud menyerbu kapsul di sana. Untunglah, ulah wanita itu berhasil dicegah. Dokter Cho segera merenggut satu spuit injeksi penenang dari dalam kotak medis dan ia suntikkan ke lengan Lindberg untuk mengatasi kegaduhan tersebut.
“Biarlah ia beristirahat untuk saat ini. Nona Lindberg terlalu lelah,” kata sang dokter seraya menatap si wanita yang segera terkulai lemas dalam rengkuhan seseorang. Tubuh Lindberg sempat ditangkap sebelum ambruk ke lantai.
“Lalu, tolong, amankan Ikram. Jangan sentuh apa pun sebelum kita tahu persis apa yang terjadi. Tunggu sampai ada perkembangan signifikan selanjutnya.” Semua orang pun mengangguk pada Dokter Cho yang mengambil alih kendali sementara.
Tidak ada seorang pun dari mereka mengetahui bahwa sedang terjadi sesuatu yang dahsyat di dalam kapsul, dalam kepala pria sang probandus yang tidak terdeteksi oleh peralatan canggih di sekelilingnya.