Kiara ingat betul betapa canggung kala ia mengenalkan diri pada orang tua Dinar. Berempat bersama Gathan, mereka turut ikut dalam ambulans yang membawa sahabatnya ke rumah sakit. Tante Reva tak henti-hentinya menangis dan ditenangkan oleh Om Ferizal, sementara Gathan bertukar pandang dengannya; sang sepupu kelihatan tidak rela atas keberadaan Kiara bersama mereka. Bagaimanapun juga, Kiara tidak bisa menahan diri untuk tidak menaruh curiga pada cowok itu. Dinar tiba-tiba saja ditemukan tidak sadar saat Gathan juga bolos kuliah.
Setelah beragam pemeriksaan cepat di rumah sakit, mereka tidak memperoleh keterangan apa-apa atas kondisi Dinar selain diagnosis sementara dari dokter bahwa sahabatnya kelelahan. Lantas, dokter meminta orang tua Dinar untuk melanjutkan pembicaraan lebih serius. Ia dan Gathan ditinggal berdua dengan kecamuk dalam pikiran masing-masing. Tahu-tahu, ayah Dinar kemudian keluar dalam keadaan sangat marah dan memulai kericuhan di ruang tunggu IGD.
Kiara tidak berkutik menyaksikan Om Ferizal menghajar keponakannya sendiri hingga babak belur. Drama keluarga itu diwarnai oleh isak tangis Tante Reva dan kegaduhan paramedis yang berusaha melerai. Situasinya sungguh kacau, sekacau tampang Gathan kemudian.
-=-
Kiara tidak berminat meneruskan kilas balik itu. Kini, ia datang ke Tangerang khusus untuk menjenguk Dinar, bukannya mengenang insiden lampau. Untunglah, ia disambut baik oleh Tante Reva yang langsung mengenalinya.
“Sebenarnya, apa yang terjadi sama Dinar, Tante?” tanya Kiara heran akan kondisi Dinar yang tidak mengalami kemajuan hingga sekarang dan hanya terbaring di atas ranjang.
“Dokter tidak menemukan kelainan apa-apa. Mereka mendiagnosis kasus Dinar sebagai gangguan tidur. Kami bahkan juga ke paranormal, tetapi hasilnya nihil. Dinar hanya tertidur, kata mereka.” Tante Reva memberikan jawaban yang sama seperti saat Dinar pertama kali dibawa ke rumah sakit.
Kiara pun mengernyit. Tidur, kok, berminggu-minggu? Nasib sahabatnya seperti dongeng Briar Rose saja, di luar nalar. Anehnya lagi, kondisi Dinar baik-baik saja kendati hanya mendapat asupan cairan dari larutan infus yang menetes sangat pelan ke pembuluh darah di tangan gadis itu. Mungkinkah cadangan lemak di tubuh Dinar sudah cukup sebagai sumber energi? Sebuah pikiran bodoh menghinggapi Kiara.
Kiara tidak tahu bagaimana cara menghibur hati sang ibu yang sedang gundah menatap wajah putrinya. Namun, ia lantas teringat sesuatu. “Tante, saya baru ingat. Dinar pernah pingsan mendadak satu kali di kampus. Tante tahu soal itu, bukan?” Wanita itu langsung tertarik dan mendengarkan penuturan Kiara dengan cermat.
“Sungguh? Dinar tidak pernah cerita sama saya.”
Kiara terperanjat. "Oh. Dinar nggak cerita, Tante?”
Wanita itu menggeleng. Mereka pun saling berpandangan, agaknya sepakat ada yang tidak beres.
“Duh, maaf, saya bingung, Tante. Gimana cara menjelaskannya, ya? Dinar kadang tertutup seolah menyimpan rahasia,” aku Kiara serba salah.
“Tolong, katakan semua yang kamu tahu tentang Dinar selama di Jatinangor.”
Kiara pun tidak dapat menolak ketika wanita itu memohon kepadanya. Mengalirlah cerita tentang keganjilan sikap Dinar yang terpantau di mata Kiara, tetapi pada bagian cerita Gathan, Kiara mulai merasa tidak enak.
“Tante, apa Gathan pernah cerita waktu dia terakhir kali ketemu Dinar?”
“Maksud kamu?” Ekspresi Tante Reva seketika digelayuti mendung. Namun, Kiara sudah kadung bercerita.
“Seingat saya, Gathan pernah bolos praktikum dan bertepatan sebelum kejadian itu.”
Wanita itu pun menangkup jemari Kiara sesaat dengan setengah meremas. “Betulkah yang kamu bilang?” Kiara mengangguk penuh keyakinan sehingga ia bisa melihat kegusaran di wajah Tante Reva.
“Tante …, Tante tahu, kan, kalau Gathan suka sama Dinar?”
Otomatis mata wanita itu membulat. “Apa yang kamu tahu?”
“Maaf, saya hanya tahu sedikit, tetapi saya memang pernah mencemaskan Dinar gara-gara itu.”
“Kiara, tolong ceritakan dengan jelas!”
“Tante ....” Gadis itu benar-benar merasa jengah. “Gathan pernah bilang kalau ...,” Kiara menjilat bibir, “Dia akan melakukan apa saja untuk memiliki Dinar.”
Tante Reva terperenyak di tepi ranjang. Wanita itu tertunduk dengan bahu lunglai dan tangan bertumpu pada kasur. Guncangan di bahunya menandakan bahwa Kiara telah mengatakan sesuatu yang salah dan melukai perasaannya.
“Tan, maaf, saya tidak bermaksud ....”
“Kiara!” Wanita itu kembali menangkup jemari Kiara, kali ini lebih kuat hingga gadis itu turut menegang.
“Siapa orang misterius itu? Apakah kamu tahu?”
“Maksud Tante?” Pertanyaan aneh Tante Reva membuat Kiara bingung. Ibu dari sahabatnya itu seakan menanggung beban yang luar biasa untuk bercerita. Namun, pada satu titik tidak tertahankan dan meluap juga.
“Ketika Dinar dibawa ke rumah sakit, kami dikabari sebuah kecurigaan dari dokter. Mereka …, menemukan bahwa Dinar mengalami trauma fisik seperti rudapaksa.”
Mata Kiara nyaris mencelat dari rongga. Apa yang Tante Reva katakan? Karena alasan itukah Om Ferizal dulu melakukan tindak kekerasan pada Gathan? Pantas saja cowok itu bersikap aneh setiap kali ditanya soal Dinar. Jadi, itulah sebabnya!