Pria itu mengerjap silau akibat cahaya dari senter kecil yang diarahkan kepadanya. Ia disorientasi sesaat. Di hadapannya, ada seorang pria dan wanita memandang ke arahnya takjub.
“Ia sudah sadar, Nona Lindberg.” Dua orang itu bertatapan, lalu sang wanita berpaling menyapa dengan wajah tak kalah lega. “Selamat datang kembali, Bocah Besar.”
-=-
Kenapa ia bisa mengingat semua hal tentang Luz? Namun, Dinar merasa biasa-biasa saja, meskipun ia telah kehilangan sesuatu yang berharga dari dirinya yang telah diambil oleh kesatria itu. Kiara bilang, hebat karena Dinar tidak kehilangan berat badan walaupun tidak makan berminggu-minggu. Mama bilang, ia telah menghabiskan berlusin-lusin diaper. Oh, kasihan sekali Mama harus merawat ia seperti bayi lagi, Dinar merasa amat bersalah sekaligus malu.
Dinar memperoleh kembali persahabatannya dengan Kiara yang sempat runyam. Gadis itu bahkan rutin berkunjung tiap akhir pekan, padahal jarak Jatinangor dan Tangerang jauh. Namun, terlepas dari penampilan luar, Dinar tidak bisa menipu diri sendiri bahwa ia baik-baik saja. Lambat laun, ada kekosongan besar yang melubangi perasaan dan mulai membuat gadis itu berilusi.
“Ra, apa kamu pernah bermimpi menjadi seorang kesatria?” tanya Dinar suatu saat.
“Kamu bicara apa, sih?” Kiara bingung mendengar pertanyaan aneh sahabatnya.
“Menurutku, kamu mirip seorang kesatria.” Entah kenapa, pembawaan Kiara mengingatkan Dinar pada Luz, bahkan kadar perhatian gadis itu untuk Dinar sudah patut dihargai dengan piala penghargaan.
Kiara menepuk pipi Dinar dengan jengkel. “Hello? Kamu jangan mengigau, Dinar. Pikiran dari mana itu? Apa karena aku selalu ada buat kamu jadi kamu menganggap aku seorang kesatria?”
“Lantas, kenapa kamu rajin sekali mengunjungiku?”
“Karena kamu temanku. Jujur, aku masih waswas kalau kamu tiba-tiba tertidur lagi. Apa kamu merasa terganggu kujenguk? "
“Bukan begitu maksudku.” Dinar menggeleng serbasalah. “Ra, apa kamu punya perasaan spesial sama aku?”
Kiara pun terkejut akan arah obrolan yang menjadi liar. Ia menyikut Dinar dengan gusar. “Tolong, deh, Dinar. Jangan berpikir bukan-bukan! Kamu memang spesial, tetapi aku masih normal!”
Duh, konyol sekali jika ia menganggap Kiara adalah Luz. Di mata Dinar, Gathan bahkan terasa mirip Ikram. Kedua orang itu sering bertengkar untuk alasan yang tidak jelas, seperti halnya Luz dan Ikram. Namun, mungkinkah Luz seorang gadis? Jelas-jelas, Luz bilang bahwa ia bukan berasal dari Indonesia. Makin lama tidak bertemu Luz, Dinar jadi gila berasumsi.
Dinar menolak untuk percaya bahwa Luz sudah mati. Kesatria itu pasti masih hidup di suatu tempat, kendati “Resonansi" tidak bisa diaktifkan lagi seperti yang ia duga. Memori itu lenyap bersama Luz dan kiamat Theta.
Akan tetapi, bagaimana jika Luz benar-benar mati? Memikirkan kemungkinan itu membuat Dinar menangis kembali seperti gadis kecil cengeng yang kehilangan mainan berharga. Dinar sampai lupa akan luka yang pernah ditorehkan oleh Luz padanya dulu.
-=-
Get well soon, Dinar.
Tahun depan, kamu jadi adik tingkatku, dong.