Beyond Theta

Ravistara
Chapter #32

Wisteria

“Astaga, Dinar. Ini sungguh nostalgia!”

Setelah sempat menolak mentah-mentah, ternyata Kiaralah yang paling antusias begitu mereka menginjakkan kaki di Bandara Haneda, Tokyo. Untunglah, orang tua mereka masing-masing mengizinkan dan Dinar dilepaskan dengan ringan oleh ayah dan ibunya. Kiara telah merebut kepercayaan di hati mereka karena pernah ke Tokyo sebelumnya.

“Pelan-pelan, Kiara!” keluh Dinar seraya menarik koper kecil di sisi tubuh. Langkah gadis itu kadang masih tertatih dan butuh adaptasi.

“Ini Jepang, Dinar! Semuanya serbacepat!” Kiara berjalan di depan menceramahi. Dinar berdecak protes karena sahabatnya bertransformasi menjadi gadis yang berbeda setelah mencium aroma Tokyo. 

Mereka segera menemukan penjemput dari pihak KBRI yang ternyata sopir lokal. Dinar pun merasa bersyukur karena telah mengajak Kiara.

“Kamu bisa bahasa Jepang?” Dinar terkejut mendengar Kiara berbicara lancar dalam Japanese.

“Kamu seperti enggak tahu keenceran otakku saja. Makanya, Dinar, kalau belajar di SMA itu yang betul.”

Uh, bukan salahnya kalau ia tidak terlalu tertarik untuk mempelajari bahasa Jepang. Lagi pula, ia baru tahu kalau Kiara juga membaca manga. Kiara berada di dunia yang sangat berbeda dengan dirinya, hingga Dinar menyesal telah bertanya dan terpaksa mendengar Kiara yang menyombong. Namun, yang Dinar rasakan malahan rasa rindu yang membuncah kepada Luz karena kesatria itu sama angkuhnya dengan gadis ini.

Telah ada seorang pria dengan wajah pribumi yang kental dan seorang wanita Jepang menunggu di KBRI. Dinar bertambah bingung ketika mereka, lebih tepatnya Kiara, disambut dengan hangat. Usut punya usut, ternyata orang-orang itu salah mengenali Kiara sebagai dirinya. 

Dinar hanya bisa gigit jari. Dengan wajah cantik dan bentuk tubuh ideal, tentu saja Kiara menarik perhatian. Dinar memang sengaja tidak memasang fotonya di buku demi alasan pribadi. Jadi, Miss Noriko yang kemudian diperkenalkan oleh pihak KBRI sebagai pemesan asli juga merangkap pemrakarsa acara, cukup merasa bersalah. Berkali-kali, wanita itu membungkukkan badan atas kesalahpahaman yang ia perbuat. 

Lalu, bukan itu saja kejutan yang Dinar temui hari itu. Mereka berbincang sebentar satu jam sebelum bedah buku diadakan. Dinar melongo tidak percaya ketika Miss Noriko menawarkan untuk mengadaptasi novelnya menjadi komik.

“Dinar, kamu mikir apa lagi, sih!” Kiara berbisik pada sahabatnya. Sedari tadi, ialah yang menjadi penerjemah selagi orang dari Kedubes pamit sebentar.

“Tapi, aku nggak punya niat mengakuisisi novelku ke pihak selain penerbit di Tangerang, Kiara.” Dinar keberatan.

“Dinar …, coba kamu pikir, deh. Kalau novelmu itu diadaptasi jadi manga, bakal lebih banyak orang yang baca, 'kan?”

Yah, memang itu impian Dinar. Ceritanya menjadi terkenal, meskipun penulis aslinya tenggelam. Sebenarnya, Miss Noriko memberikan penawaran menggiurkan dengan mencantumkan nama Dinar sebagai penulis asli. Namun, masih ada satu hal yang belum ia pahami.

“Bagaimana Miss Noriko tahu novelku? Dia bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia, Kiara,” bisik Dinar bingung.

“Apa itu penting?”

Lihat selengkapnya