Beyond Theta

Ravistara
Chapter #33

Final Encounter 1

Apakah isi surat dari Wisteria keliru? Tidak ada orang bernama Ikram di laboratorium yang terlihat sederhana dari luar itu, tetapi suasana futuristik langsung terasa begitu ia masuk ke dalam lobi. Ruangan bernuansa monokrom dengan perabot-perabot metal seperti dalam film memanjakan mata Dinar. Baunya tercium amat bersih, sebersih Kota Kitakyushu yang modern dan bebas polusi.

Setelah berdebat cukup lama dengan seorang front officer lokal berbahasa Inggris pas-pasan, akhirnya ia dipersilakan untuk menunggu di sebuah ruangan kecil. Cukup lama Dinar berada di sana dan merasa ada yang memperhatikan. Mata gadis itu lantas menyusuri setiap sudut tempat yang hanya dilengkapi sepasang kursi dan meja persegi dengan cermat untuk memeriksa apakah ada kamera pengawas, tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Ah, mungkin hanya perasaan Dinar saja.

Sret!

Dinar panik. Tiba-tiba saja, pandangannya ditutupi oleh benda berwarna hitam yang lantas menyelubungi seluruh wajah dan kepala. Sehelai kain. Belum sempat ia berteriak, mulutnya dilakban dari luar. Tangannya pun dipiting dan diikat ke belakang hingga tidak mampu berontak, hanya kakinya yang sempat meronta-ronta sesaat sebelum akhirnya mengalami nasib yang sama. Dinar lalu merasa ia didudukkan di sebuah benda sempit yang tampaknya kursi roda karena benda itu kemudian berdecit saat tubuhnya seolah melaju ke depan.

Dinar hanya bisa melenguh atas perlakuan yang ia terima. Pusat keseimbangan gadis itu dibuat kacau ketika badannya terhempas berkali-kali pada kursi roda yang didorong dengan kasar. Hanya sedikit cahaya yang lolos ke balik kain. Benda itu mengembang kempis seiring napas cepat Dinar yang tidak teratur akibat syok. Situasi menakutkan itu bagai adegan film thriller. Apakah ia akan dibawa ke semacam tempat penyiksaan? Dinar mulai menangis ketakutan.

Kursi roda lalu berhenti. Sementara ia meringkuk pasrah dengan bahu berguncang akibat isak teredam, terdengar derap masuk ke dalam ruangan dan suara pria berbicara dengan seorang wanita dalam bahasa asing yang tidak ia pahami. Mereka sepertinya berdebat keras hingga suasana lantas senyap dan keheningan itu terasa lebih mencekam daripada semua keributan tadi. Suara tapak kaki terdengar tergesa keluar dari ruangan, lalu pintu ditutup di belakang.

Sesaat kemudian, Dinar merasakan lakban mulutnya dibuka dan kain tudungnya ditarik ke atas. Matanya mengerjap sebelum mendapati sesosok pria asing dengan kulit dan rambut yang sangat pucat beranjak ke hadapannya. Jantung Dinar seakan berhenti berdetak. Pria itu sungguh tampan dengan gurat Kaukasia yang kental, tetapi bukan itu saja masalahnya. Wajahnya seakan tidak asing lagi. Bibir Dinar bergerak otomatis.

“You are ….”

“You!” Mata pria itu balas menyipit.

“Ikram?”

Pria itu tertawa geli karena nama itulah yang langsung tercetus dari bibir Dinar. Gadis itu betul-betul tidak percaya dan takjub. Si cyborg terlihat asli tanpa tubuh mesinnya. Ikram seperti pria biasa dalam jubah laboratorium melewati lutut-Tunggu …, Ikram seorang ilmuwan?

“Anda salah, Nona. Aku bukan Ikram,” ujar pria itu dengan aksen Inggris yang asing.

“Jangan pura-pura bodoh, Ikram. Kamu pasti mengenaliku, bukan?”

“Tentu saja, terutama untuk yang satu ini.” Ikram mengecup bibir Dinar sekilas. Lagi, tetapi kali ini benar-benar nyata. Ciuman pertama Dinar.

Beragam makian sontak terlontar dari mulut gadis itu atas tindakan semena-mena yang ia terima. “Lepaskan aku!” Dinar menjerit marah.

“Lalu, kau akan menghajarku?”

Sial! Pria itu selalu saja berhasil membuat darah Dinar mendidih.

"Cukup bermain-mainnya, Ivo!”

Tiba-tiba, ada teguran dalam bahasa Inggris dari pengeras suara yang menempel di dinding hingga membuat pria itu berhenti. Kemarahan Dinar pun berganti menjadi tanda tanya karena agaknya percakapan mereka diawasi dari suatu tempat.

“Kau dengar sendiri, bukan? Aku bukan Ikram.” Pria bernama Ivo bersedekap angkuh. 

“Jadi, di mana Ikram?” Dinar bertanya putus asa.

Lihat selengkapnya