“Bagaimana petualanganmu kemarin?”
“Lancar dan aku pulang dalam keadaan utuh, bukan?”
Kiara menoleh heran selagi pinggang gadis itu dililit dengan obi bermotif cerah oleh seorang perias kimono. Jawaban Dinar terlalu singkat untuk sebuah perjalanan seharian penuh, tetapi Kiara tidak ingin mempermasalahkan. Wajah sahabatnya jelas-jelas mengatakan sedang tidak ingin berbagi cerita. Lagi pula, acara hari itu terlalu bagus untuk dirusak oleh perdebatan yang berpotensi buntu.
Untuk menikmati momen terakhir di Tokyo, mereka berencana menjelajahi jalanan Harajuku dengan cara khas Jepang menyambut musim panas. Kiara begitu manis dalam kimono bergaya lolita, sedangkan Dinar menganggap lebih cocok untuk memilih gaya gotik yang didominasi oleh warna gelap, dilengkapi hiasan penutup kepala berbentuk sangkar burung untuk menyamarkan separuh wajah bundar gadis itu. Kendati tidak sepakat karena menurut Kiara aura Dinar terlalu kelabu bagai sedang berkabung, tetapi Kiara hanya menyimpan keberatan itu dalam hati.
Maka, Kiara pun diam saja mengamati perilaku Dinar selama perjalanan tur Kota Tokyo dengan kapal sepanjang rute Sungai Sumida di siang hari. Tidak ada senyum apalagi tawa lepas di wajah Dinar, Jepang seakan menyedot seluruh inti sari kebahagiaan gadis itu. Meskipun merasa aneh, Kiara sadar kalau bukan sekali ini saja Dinar bersikap begini. Sedikit banyak, ia juga merasa bersalah karena asyik sendiri hingga melupakan sahabatnya. Kiara akan minta maaf setelah pulang nanti.
Dengan energi tersisa, mereka pun menghabiskan malam di Tokyo Disneyland. Seluruh persendian Dinar dan Kiara didera pegal luar biasa saat kembali ke hotel sehingga malam terakhir itu berlalu tanpa diselingi obrolan berarti. Mereka berdua lebih memilih beristirahat untuk mengejar penerbangan pulang ke tanah air besok pagi.
-=-
“Dinar?” Berkali-kali Kiara memanggil sahabatnya yang cuma bengong. “Sejak tadi, aku perhatikan kamu nggak fokus. Kenapa, sih?” Sementara menunggu jadwal boarding, Kiara bersemangat menunjukkan foto perjalanan mereka yang terakhir, tetapi Dinar tidak memberi respons seperti patung. Gadis itu pun tidak sanggup lagi membendung rasa penasaran yang sudah membuncah semenjak kemarin. Sikap Dinar bukan seperti pelancong yang sedang menikmati liburan, padahal Dinarlah yang dulu antusias mengajak ia serta.
“Nggak kenapa-kenapa. Aku cuma capek.” Dinar berbohong. Saat itu, segenap jiwanya sedang bermuram karena kepulangan mereka ke Indonesia masih menyisakan misteri "Wisteria" yang belum terjawab dan itu berarti kesempatan untuk bertemu Luz mungkin tidak akan pernah terjadi selama-lamanya.
“Kiara, aku jalan-jalan sebentar.”
“Ke mana?” Kiara terkesiap karena sebentar lagi waktu boarding tiba.
Terserah mau ke mana. Dinar hanya ingin mengambil napas sejenak karena di dalam bandara terasa sesak. Kiara pun tidak mampu membendung niat Dinar yang telah menggunung. Setelah berjanji kembali secepatnya, Dinar berkeliling tanpa arah tujuan. Kaki gadis itu seolah dituntun otomatis oleh kesadaran yang menumpul. Namun, ketika orientasinya mulai pulih, Dinar telah berada di area luar bandara. Langkah gadis itu pun terhenti oleh gerimis musim panas yang mendadak turun dari langit tak berawan.
Apa yang ia lakukan? Kiara pasti cemas.
Dinar memutuskan untuk segera kembali. Namun, ada seseorang memanggil namanya. Dinar menoleh, lantas terpaku. Tatapan gadis itu jatuh pada seorang wanita cantik yang sedang berdiri di seberang, menjulang anggun bak Gunung Fuji, tetapi kecantikan yang melekat pada wajah wanita itu serupa aktris latina yang menghiasi tayangan telenovela di layar kaca. Penampilan eksotis sang wanita membius Dinar. Langkahnya juga sungguh anggun, seolah sedang meniti satu garis imajiner di lantai dan melayang begitu ringan. Tahu-tahu, wanita itu telah berdiri di hadapannya.
“Dinar Ferizal?” Sekali lagi wanita itu menyebutkan namanya untuk meyakinkan.
-=-
“Dinar?”
Kiara beranjak dari kursi untuk menyongsong kedatangan gadis itu. Panggilan boarding untuk penerbangan mereka sudah berkumandang bermenit-menit lalu. Kiara bermaksud menggamit Dinar agar bergegas, tetapi terkejut karena tangannya malah ditepis. Ketika ia berpaling, Dinar menggeleng.
“Kiara, kembalilah tanpaku.”
“Apa maksud kamu, Dinar?” Kiara membelalak karena ucapan Dinar terdengar gila.
“Aku nggak bisa pulang sekarang.” Mata Kiara makin melebar mendengar jawaban lirih Dinar..
“Jangan bicara macam-macam! Ayo, cepat!”
“Aku nggak bisa, Ra. Aku mau tetap di sini.” Dinar melerai genggaman jari Kiara.
“Kamu ngomong apa, sih?” Nada suara Kiara meninggi. Panggilan boarding untuk mereka terus diulang-ulang pertanda waktu kian menyempit. Dinar pun menghambur memeluk Kiara penuh haru. Firasat buruk Kiara mulai menjelma menjadi kenyataan. Ia melepaskan pelukan Dinar dan menatap ke dalam mata sahabatnya untuk menuntut jawaban.
“Maaf, aku nggak bisa bicara sekarang, Ra. Tolong sampaikan pada mama dan papaku kalau aku baik-baik saja. Aku harus melakukan ini agar bisa melanjutkan hidup ….”
“Nar, kamu serius?” Panas di hati Kiara turun mengembun lantas membasahi kelopak mata. Keputusan mendadak Dinar membuat ia berada dalam posisi sulit. Sebagai seorang sahabat, ia dipaksa untuk memahami dan mendukung sesuatu yang tidak ia ketahui.
“Karena itu, aku mohon, Kiara. Maafkan aku. Maaf, kalau ini egois dan tidak adil buatmu. Aku harus pergi! Pulanglah!” Dinar mendorong Kiara untuk menjauh, sementara gadis itu melangkah tergesa-gesa meninggalkan sahabatnya.
“Dinaaar!”
Dinar dapat mendengar suara Kiara sayup-sayup hilang ditelan keramaian penumpang yang juga sama bergegas seperti dirinya. Ia terpaksa mengorbankan Kiara untuk mengambil keputusan tersebut. Air mata Dinar jatuh dalam senyap. Langkahnya menjadi setengah berlari walau ia yakin Kiara tidak akan berpikir untuk mengejar. Dinar hanya ingin berlari dari keraguan yang kapan saja mampu membuat kakinya berbalik arah.
Ulu hatinya serasa diremas. Dinar masih bisa merasakan ketakutan Kiara, juga ketakutannya sendiri. Kasihan sekali, Kiara tidak paham apa-apa dan tiba-tiba saja gadis itu harus kembali sendirian. Entah apa yang harus dikatakan oleh Kiara kepada orang tuanya nanti karena yang pulang hanya kopernya saja, sementara ia kini berada dalam shinkansen dengan tujuan Fukuoka bersama seorang wanita di balik sosok Wisteria.
Dinar tertunduk jengah ketika menyadari wanita itu terus tertarik memandangi dirinya. Gadis itu merasa sedang dinilai total. Mereka tidak banyak bicara sampai tiba di stasiun, lalu sebuah mobil pribadi menjemput di sana. Setelah sekat mobil tertutup, barulah wanita itu buka suara.
“Kau persis seperti yang digambarkan oleh Luz.” Jantung Dinar kembali dipompa kencang seperti kali pertama wanita itu menyebut nama Luz di Haneda dan Luz tidak berbohong kalau wanita cantik yang ia lihat dalam “Resonansi" adalah ibunya.
“Semua perjalanan ini, Miss Noriko, dan petunjuk tentang Ikram, Luzkah yang mengatur?” tanya Dinar berusaha merunut. Reina, wanita itu, tersenyum.
“Ini di luar skenario yang disiapkan oleh Luz setelah dia menemukan titik keberadaan Ivo. Kau sudah bertemu dengan orang itu, bukan?”
Dinar tercengang dengan penuturan wanita tersebut.
“Namun, kedatanganmu ke sini di luar rencana Luz. Saya sendiri yang mengambil keputusan ini setelah pikiran Luz terkunci.” Wanita itu kemudian memberi tahu bahwa Luz baru saja bangun dari tidur panjang kemarin, tepat setelah Dinar berhasil menuntaskan misi.
“Bagaimana keadaan Luz?” tanya Dinar cemas.
“Dia kini sudah pulih. Terima kasih atas pertolonganmu.”
Ah, Dinar tidak akan bertanya bagaimana Luz bisa pulih secepat itu, mengingat kekasihnya adalah seorang manusia pemindai dan pemulih super.