Beyond Theta

Ravistara
Chapter #36

Kulminasi

“Apakah kau yakin memilih yang ini?”

Dinar mengangguk. Di antara dua pilihan kimono yang ditawarkan oleh Reina, ia lebih memilih furisode dan uchikake hitam berpotongan leher rendah daripada furisode klasik serba putih yang cantik dengan tudung kepala. Bukan karena soal pertimbangan penampilan, tetapi Dinar merasa tidak pantas mengenakan kimono pengantin shiromuku sebagai perlambang kesucian. Semoga Luz tidak keberatan.

Hasilnya, Reina mendesah puas. Wanita itu memeluk dirinya penuh haru.

“Terima kasih untuk tetap tinggal bersama Luz, Dinar. Kami sangat menghargainya. Ini pasti pilihan yang sangat sulit untukmu dan saya menyesal ini harus terjadi kepada orang tuamu. Namun, Luz sungguh membutuhkanmu. Maaf. Sekali lagi, terima kasih.”

Dinar menyembunyikan perasaan dengan rapi. Apa pun yang terjadi, ia harus tetap terlihat tegar. Dengan diantarkan oleh Reina, ia berjalan menuju aula, ruangan terluas di lantai dua yang telah disulap menjadi taman wisteria buatan penuh lampion merah berkat sentuhan ajaib para penata panggung drama relasi Reina. Tidak ada tamu maupun pesta, yang ada hanya pengantin pria dan wanita.

Pintu ganda besar di depan mereka dibukakan oleh pelayan rumah tangga. Hanya sampai di sana, Reina lalu pamit bergabung dengan sang suami dan penghuni rumah lain untuk merayakan pernikahan mereka di ruangan terpisah.

Begitu pintu ditutup, Dinar tahu ia terlarang untuk berubah pikiran. Luz telah menunggu di pusat ruangan yang sudah ditata seperti taman. Pria itu duduk di depan sebuah meja berkaki rendah dan ada sebuah lagi alas duduk kosong yang diperuntukkan bagi pengantin wanita. Luz berdiri menyambut kedatangannya.

Dinar nyaris lupa, ia masih sungguh muda, bahkan tanpa diiringi oleh restu orang tua yang menyerahkan anak gadis mereka. Rencana pernikahan ini terasa gila. Namun, sudah terlambat untuk menyesali keputusan yang ia ambil karena pintu keluar mungkin telah digerendel. Itu adalah permintaan Dinar kepada Reina agar ia tidak mengacaukan pilihannya sendiri.

Dinar takut. Ruangan besar itu bagaikan mulut raksasa yang siap menelan hidupnya. Ia seolah ditarik ke persimpangan jalan tanpa ujung. Masa depannya … bisa jadi itu adalah kebahagiaan atau justru sebuah kuburan.

Saat pria tampan dalam montsuki hitam mengulurkan tangan ke arahnya, kaki Dinar bagai terpancang di tempat. Beginikah perang batin setiap pengantin wanita di hari pernikahan mereka? Jika prosesi sederhana itu bisa dibilang sebagai pernikahan. Nyatanya, Dinar hanya menyerahkan status secara simbolis kepada seorang pria asing yang bahkan ia ketahui tidak punya kehidupan di luar sana. Bulir bening lolos dari pelupuk mata gadis itu.

Sebelum akal pikirannya tersesat, Dinar kembali ke jalan setapak bertabur kelopak mawar. Detak geta di kaki gadis itu menggema ke langit-langit aula. Sementara di ujung jalan, Luz telah menanti dengan senyum dan tangan terbuka. Saat tiba di hadapan pria itu, pinggang Dinar langsung direngkuh. Namun, kali ini, Dinar enggan berontak.

“Kau menangis?”

Lihat selengkapnya