Beyond Theta

Ravistara
Chapter #37

Beyond Theta

Meringkuk di salah satu sudut lemari buku ruang perpustakaan memang tidak nyaman, tetapi Dinar sedang ingin menikmati ketenangan dalam kesendirian sejenak, merenungi nasibnya yang bisa dibilang beruntung sekaligus tidak.

Baru hitungan bulan menjadi bagian dari rumah ini, Dinar telah merasakan bosan dan kesepian. Mengamati tangan ajaib milik Yuuto bekerja menggores pena di atas manuskrip, tidak cukup lagi menghibur dirinya. Ya, Dinar kini tahu dari mana imajinasi Theta berasal. Yuuto adalah wajah sejati di balik nama besar Wisteria, sosok mangaka misterius yang penuh bakat cemerlang. Setidaknya, satu di antara sekian tebakan Dinar betul.

Hingga kini, pemberitaan mengenai dirinya yang hilang di berbagai media masih sesekali mencuat ke permukaan. Spekulasi yang muncul beragam, termasuk dugaan ia diculik oleh yakuza, sampai oni, monster jahat. Semua tempat yang berkaitan dengan kedatangannya ke Jepang diperiksa, lantas kecurigaan terbesar berhenti di Miss Noriko yang tidak tahu apa-apa karena wanita itu sebenarnya hanyalah pion Reina. Namun, pemberitaan itu justru mendongkrak penjualan komik “Puer Draco” yang kini telah diadaptasi ulang oleh wanita itu. Mungkin para pembaca penasaran dengan jejak karya seorang penulis yang raib tanpa kabar.

Apa pun yang terjadi di luar sana, ada bagian dalam diri Dinar yang selalu gagal untuk mengendapkan peristiwa sulit tadi ke alam bawah sadar. Itu adalah rasa bersalah kepada kedua orang tuanya. Dinar masih belum bisa berdamai. Jika ia kini terluka menanggung dosa itu, maka ayah dan ibunya pasti jauh lebih nelangsa. Tanpa tahu kabar putri semata wayang mereka hidup atau mati, perasaan orang tuanya mungkin hancur. Memikirkan itu saja membuat Dinar tertelungkup dan menangis. Ah, belakangan ia memang sarat emosi.

“Aqui ta! (cilukba)" Suara seseorang mengagetkan dirinya. Dinar lekas menundukkan wajah untuk menyembunyikan air mata, tetapi Yuuto telanjur melihatnya.

“Menangis lagi?” Pria itu ikut bersandar di sebelah. Dinar tertangkap basah dan bingung harus menjawab apa. Inilah alasannya bersembunyi, Yuuto selalu berusaha mengendus ketidakberesan di antara mereka. 

“Maaf-"

“Maaf, karena dirimu harus menanggung penderitaan ini untuk bisa bersamaku, tapi terima kasih, Dinar. Aku sangat menghargainya.”

"Yuu-kun, boleh aku bicara jujur kepadamu?” Dinar menyandarkan beban berat yang menggelayut ke pundak suaminya.

“Katakanlah. Aku tidak bisa membaca pikiranmu lagi, tahu?” Nada suara Yuuto, anehnya, terdengar lega. Bisa merasakan menjadi pria normal memang impian suaminya sejak lama.

“Ternyata, romantisme menyimpan sisi kegelapan yang tidak kita ketahui.”

“Tunggu, apa kau merasa terjebak bersamaku?”

Lihat selengkapnya