Incubus yang asli?
Bayangan kesatria tampan bersayaplah yang lantas melintas di benak Dinar. Di manakah kesatria itu sekarang? Dinar berharap pria itu akan muncul menolongnya dari cengkeraman si incubus karena efek serangan makhluk ini makin terasa berat dan melelahkan.
Perlahan-lahan, sosok di depannya mulai memadat hingga Dinar bisa merasakan kehangatan bibir yang menyentuhnya. Sementara, lengannya membeku oleh sensasi logam yang dingin. Dinar tidak berdaya untuk mendorong makhluk itu. Beruntung, ia dilepaskan sebelum nyaris kehilangan kesadaran. Lidahnya pun kelu melihat sosok penyerang barusan.
Seorang pria bertubuh logam tampak menyeringai puas ketika Dinar berhasil memfokuskan tatapan yang nanar dengan napas terengah. Kepala gadis itu terasa pusing, tetapi wajah menarik di hadapannya bagai penawar ampuh yang seketika bekerja. Dengan rambut pirang sepucat jagung dan warna kulit serupa, Tuan Logam itu tidak kalah tampan dari kesatria. Penampilan sosok itu mengingatkan Dinar akan cyborg di film-film fiksi ilmiah.
Astaga. Apakah Dinar tengah tersesat ke Negeri Dongeng Para Pria Tampan?
"Energimu lumayan juga. Apakah kau memperolehnya dari Luz?”
“A-apa maksudmu?” Dinar tergagap menyadari betapa aneh isi percakapan mereka setelah apa yang terjadi. Cyborg itu baru saja mencuri ciuman pertamanya dan nyaris membuatnya pingsan! Jadi, pantas kalau ia merasa marah, bukan? Namun, Dinar terlalu bingung untuk bereaksi.
“Jadi, kau sungguh tidak tahu?” Cyborg itu balik bertanya dan Dinar menggeleng.
"Untuk bertahan lama di dunia ini, kau harus memiliki energi yang besar. Kalau tidak, eksistensimu akan menghilang. Karena itu, kau harus mendapatkannya dari sumber lain.” Ia mengitari Dinar dengan sendi-sendi logam yang bergerak kaku.
“Apa yang akan terjadi jika eksistensi kita menghilang?” Tak urung Dinar bingung. Cyborg itu malah menertawakan pertanyaannya.
“Kau akan mencapai Epsilon dan …, mati.” Cyborg itu berhenti dan berbisik di telinga Dinar, sementara jemari logam miliknya bertengger pada pundak gadis itu. Wajah mereka nyaris tanpa jarak, hingga Dinar dapat melihat manik mata si cyborg berkedip-kedip dan berubah warna.
“Kau harus bergabung denganku.” Dinar dapat merasakan kekuatan jemari logam yang kini meremas pundaknya.
"Omong kosong. Aku tidak tertarik,” tolak Dinar tegas. Ia memang gampang terhanyut dan dibuat kagum oleh sosok pria setampan pangeran, kesatria, robot ganteng, atau siapalah itu, tetapi bukan berarti tolak ukur fisik adalah segalanya, hingga mau-maunya saja ia bergabung dalam tawaran si cyborg.
“Bagaimana kalau dengan energimu saja?” Si cyborg membujuk.
“Kamu ingin energiku?” Nah, Dinar takut sekarang. Si cyborg malah menyeringai melihat rona wajahnya yang memudar.
“Aku akan berhati-hati agar tidak membahayakanmu. Kau tahu? Sudah lama aku tidak bertemu dengan manusia. Aku pikir, aku cukup menyukaimu dan ingin merasakanmu.”