Beyond Theta

Ravistara
Chapter #5

Encounter <3>

Hasta la vista, di sinilah ia sekarang, sedang mencermati seorang gadis dalam dekapan. Si Tuan Logam telah dipukul mundur, tetapi masih ada seorang penyusup lagi. Namun, penyusup yang satu ini sepertinya bukanlah sebuah ancaman. Gadis itu tampak rapuh dan memiliki pemikiran tiada henti yang sungguh menggelikan.

Ia gagal menelusuri jejak ras dari kulit bening bertabur bintik bak serbuk kakao, sementara bingkai dari iris cokelat gelap milik si gadis mengingatkannya akan mata orang-orang Asia bernetra bundar yang dinaungi kelopak sedang, tidak terlalu tebal maupun tipis. Bibir penuh itu seperti milik gadis-gadis di kepulauan Pasifik. Secara keseluruhan, wajahnya semenjana saja, tetapi enak dipandang. Kala gadis itu mendongak menatap, ia memutuskan bahwa binar teduh dalam mata beriris gelap itu berpendar bak rembulan mengintip di langit malam.

“Terima kasih,” ujar gadis itu karena diselamatkan sekali lagi olehnya.

“Tidak perlu,” sanggahnya. “Kau nyaris celaka gara-gara aku.”

“Benarkah?” Gadis itu tertawa. “Ini semua, kan, cuma mimpi, bagaimana mungkin aku bisa celaka?”

Jadi, gadis itu menganggap kata-katanya barusan sekadar gurauan?

“Kau sungguh berpikir demikian?”

“Baiklah, apa buktinya?” Gadis itu malah menantang.

“Kau ingin cara yang halus atau kasar?”

“Apa bedanya?” Lagi-lagi perkataannya dianggap main-main saja, tetapi ia masih meladeni gadis itu dengan sabar.

“Tunggu, aku harus menurunkanmu lebih dulu.” Ia melepaskan gadis itu perlahan dari dekapan ke dataran berumput setinggi paha, yang berarti sepinggang gadis itu.

Duh, manisnya, pria ini sungguh sopan dan lembut.

Ia tersenyum mendengar bisikan di kepala si gadis maupun melihat pipi berbintik itu merona karena menyadari isi pikiran yang telah terekspos oleh dirinya.

“Aku pikir, kamu memang orang yang baik,” kata gadis itu seolah menimpali praduganya sendiri.

“Simpan dulu pendapatmu dan ulurkan tanganmu.” Ia menunggu dengan telapak tangan terbuka dan mengabaikan pujian yang tertuju untuknya. Wajah bundar menggemaskan di hadapannya lantas mengernyit saat merasakan betapa dingin kulit tangannya. Ketika jemari mereka bertautan erat, ia pikir gadis itu nyaris pingsan. Sungguh rapuh ibarat lilin yang langsung meleleh dalam nyala api atau diakah yang menganggap segala sesuatu di luar dirinya lemah?

“Kau yakin ingin melanjutkan?”

“Tentu saja. Cepat lakukan sebelum aku terbangun!” perintah gadis itu kecut dengan ekspresi menahan sakit perut yang melilit.

Sebaris kecaman pun terlontar dari bibirnya. “Sudah terlambat untuk menyesal.”

-=-

Ya, sudah terlambat bagi gadis itu untuk menyesal.

Dinar merasakan getaran hebat mengguncang tubuhnya. Bukan hanya itu, segala hal dalam penglihatan melebur menjadi riak mozaik kacau. Jeritan ngeri pun terlepas ketika matra di luar dirinya berubah acak dalam acuan detak yang membuat kepala siapa pun pusing untuk mencerna. Orientasi gadis itu hilang dalam ruang dan waktu. Rasanya jauh lebih buruk daripada menaiki wahana penguji nyali terdahsyat di dunia.

Akan tetapi, tadi baru permulaan. Semua guncangan syok saraf itu mendadak lenyap, sebaliknya Dinar dapat merasakan tubuhnya sekarang mengambang tanpa bobot di suatu tempat kelabu yang samar. Meskipun begitu, sensasi yang terasa sungguh tidak nyaman karena setiap jengkal tubuhnya seakan ditekan dari segala arah. Otot-otot yang gemetar akibat sensasi sebelumnya, lantas dipaksa untuk berhenti, bagai sedang dimampatkan.

Dinar panik. Tiada sesuatu pun yang mengepungnya, tetapi kenapa ia merasa seperti tenggelam? Napasnya terasa berat sehingga lubang hidungnya kembang kempis kepayahan mengisap udara. Agaknya, sesuatu yang halus dan ringan sedang mencoba membuat ia mati lemas.

Lalu, otak Dinar bekerja keras memproses cepat segenap sensori yang mengacaukan pancaindra. Ia memang sedang ditenggelamkan, tetapi bukan dalam air. Sensasi yang terasa basah dan lembab mengingatkan ia akan udara berkabut. Ah, apa pun itu, otak Dinar sekarang menjerit-jerit untuk segera melepaskan diri dari situasi menakutkan tersebut.

Bernapaslah, Dinar. Perlahan .... Ia kumpulkan keberanian dan menata debar jantung. Lambat laun, paru-parunya kembali mengembang dengan sempurna dan segala sesuatu yang mencekik tadi tersingkirkan oleh sebuah stimulus bernama sugesti.

Oke, kini rasanya jauh lebih baik. Ia sudah bisa mengatur napas yang sebelumnya sempat menyiksa diafragma, kendati masih meraba-raba tidak keruan dalam kegelapan. Andai boleh meminta untuk diberi jeda meski sejenak, ingin sekali ia memohon, tetapi mimpi buruk yang menimpa masih saja berlanjut.

Gaya gravitasi berkali-kali lipat sontak memberati tubuh Dinar. Namun, sensasi yang ia rasakan menjadi jauh lebih ganjil. Bukannya terimpit oleh tekanan bobot, ia malah tersedot ke atas. Dinar sampai lupa bagaimana cara untuk menjerit ketika tubuhnya memelesat secepat kilat ke atmosfer. Tiba-tiba saja, ia sudah berada di antariksa; nyaris bertubrukan dengan bulan, lalu merasakan lidah api di permukaan matahari yang menjilat garang. Semua benda-benda langit seolah ingin menciumnya seakan-akan ia adalah kumparan magnet.

CUKUP! Dinar memohon dengan putus asa. Bintang-bintang berlarian membentuk formasi spiral Bima Sakti yang kian jelas, lantas mengecil dalam pandangan. Sekonyong-konyong, ia mampu menyaksikan gugus-gugus supergalaksi berpadu indah dan rapi di antara kekosongan mahaluas Laniakea.

Pemandangan dahsyat itu melahirkan perasaan takut sekaligus takjub yang tidak terbendung dalam rongga dada. Dinar mencoba menutup mata karena merasa mulai gila menyadari bahwa ia sedang berada sendirian di tepi jagat raya. Tiada yang lebih ia inginkan selain bangun dari mimpi aneh dan luar biasa menakutkan. Ia ingin kembali pada alam kesadaran.

Bagaikan sebuah tombol yang dipencet, semua ilusi tadi tiba-tiba berakhir. Dinar berdiri terpaku dalam posisi masih menggenggam jemari sang kesatria. Detak jantungnya yang bertalu kencang, perlahan mulai merayap pelan.

Hal pertama yang ia sadari adalah seringai penuh kepuasan di wajah sang kesatria, sementara kedua lututnya gemetar hebat. Dinar runtuh. Ilusi-ilusi tadi mungkin hanya berlangsung sekejap, tetapi rasa mencekamnya seakan tiada akhir.

Lihat selengkapnya