Beyond Theta

Ravistara
Chapter #9

Gasp 2

Oh, rasanya senang sekali bisa kembali ke permukaan. Dinar menghirup hangatnya jumantara Alpha yang sebiru lapis lazuli. Terasa hidup, bertolak belakang dari Delta yang mampu membutakan pikiran.

Mendadak, langit di atasnya terhalang oleh pemandangan serbaputih dan penuh sensasi menggelitik.

Luz. Lagi-lagi, Dinar berada di atas pangkuan kesatria itu. Sebagian rambutnya jatuh ke wajah Dinar.

“Masih marah?” selidik Luz. “Baiklah, aku pantas menerimanya.” Kesatria itu menunjukkan kedua belah pipi yang memerah akibat tamparan dari Dinar agar Dinar merasa puas, tetapi gadis itu merasa bersalah dan menangkup kedua pipi Luz dengan tangan. “Maaf.”

“Semua sepadan. Aku tidak keberatan kalau kita bertengkar lagi seperti tadi untuk membunuh rasa bosan sesekali,” timpal Luz antusias.

“Luz, tolong jangan bicara aneh-aneh,” pinta Dinar kesal. Mereka harus menghentikan kegilaan ini sekarang juga. Dinar tidak ingin melanjutkan selera hubungan Luz yang aneh karena bagaimanapun juga, ia masih memiliki bagian dirinya yang normal, sementara Luz tidak. Oh, ya, jangan lupakan juga insiden jari-jari tadi.

“Kalian seperti kembali dari pertempuran hebat.” Seseorang menyela obrolan mereka—sesosok cyborg mendarat, hingga Dinar menoleh pada Luz penuh tanda tanya. Ikram sepertinya punya keistimewaan untuk datang berkunjung kapan saja. Namun, sepertinya si tuan rumah tidak menyukainya. Ia bisa melihat otot-otot rahang Luz mengeras amat kentara

“Apa yang terjadi padamu, Luz? Wajahmu seperti sedang jatuh cinta.”

Luz bangkit dan membantu Dinar berdiri, lalu mendekap gadis itu dari belakang. Dinar tersipu karena Luz sengaja melakukannya di depan si cyborg yang kini memutar bola mata remeh.

“Kau tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di bawah sana antara kami berdua.”

Ikram langsung tertawa lebar karena Luz menyambut pancingannya. “Tidak. Tidak mungkin kau bisa. Aku bahkan ragu bagian tubuhmu yang itu berfungsi. Atau, kau sama sekali tidak punya?”

“Tentu saja aku bisa ... dengan jari-jariku--argh!” Kesatria itu tiba-tiba mengerang karena Dinar menginjak kakinya kuat-kuat.

Hei, Tuan Kesatria yang tidak punya keinginan seksual! Berhentilah bicara omong kosong! Dinar sengaja meneriakkan kalimat itu keras-keras dalam kepala hingga Luz meringis mendengarnya.

“Aku suka bila kau sedang galak begini,” bisik kesatria itu di telinga Dinar sehingga gadis itu tersengat. Ia berbalik mencubit hidung Luz dan menariknya dengan keras.

“Argh, Princess. Rupanya, kau senang bermain kasar, ya? Tolong, jangan kau rusak properti berhargamu, terutama ini,” Luz menunjuk bibirnya, “Ini adalah senjata utama untuk memuaskanmu.”

Huh? Muka Dinar memerah padam karena lagi-lagi ia menjadi objek pelecehan Luz.

“Perveeert!” Dinar berteriak sekencang-kencangnya di kuping Luz, sengaja melakukannya sebagai pembalasan. Ia memanfaatkan kelemahan kesatria itu dari pengalaman di Delta.

“Diamlah! Jangan berteriak di kupingku!” Luz menutup kedua telinganya dengan gusar, tetapi Dinar kembali mengulangi aksinya dan membuat kesatria itu mengernyit terganggu.

“Payah.” Ikram bersila dengan santai menonton mereka. “Kau hanya buang-buang waktu bersama dia, Nona. Luz tidak punya apa-apa untukmu. Bagaimana jika kau jadi gadisku saja?” tawar Ikram pada Dinar yang sedang melompat-lompat untuk mengerjai Luz, sementara kesatria itu berusaha menjauhkan kupingnya dari jangkauan Dinar. Perhatian Dinar pun teralih dan si cyborg lanjut berbicara. “Aku bisa memberikanmu kebahagiaan sejati.”

Luz terbakar mendengarnya. Ia menghilang tanpa jejak dari sisi Dinar, lalu sekonyong-konyong muncul di hadapan Ikram. Jantung Dinar seakan melompat menyaksikan, sedangkan si cyborg tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun ketika Luz berdiri tepat di depan hidungnya.

“Apa masalahmu, Mesin Hina?”

“Kaulah masalahku, Monster.”

Ikram sengaja melakukannya! Dinar bersenandika ngeri. Sebentar lagi, Luz pasti akan meledak.

“Aku yang akan memberimu kebahagiaan sejati.” 

Ikram malah melemparkan senyum menantang ketika mendengar ancaman tersebut. Luz mencengkeram leher Ikram kuat, lalu di depan mata Dinar, ia mencium si cyborg. 

Kaget luar biasa, perut Dinar serasa diaduk-aduk menonton adegan sinting tersebut. Di matanya, ciuman mereka terlihat seru dan Luz tampak sangat menikmati.

Ya, Luz memang sangat menikmati karena kesatria itu sekarang sedang puas menyiksa Ikram. Luz menggigit bibir, kemudian lidah lawannya, sehingga Ikram mengerang kesakitan. Terdengar keributan denting logam yang beradu saat Ikram meninju-ninju Luz dengan panik. Cyborg itu berontak untuk melepaskan diri, tetapi sial …, ia kalah kuat. Luz menyerangnya tepat di bagian tubuh yang paling rentan. Darah pun mengalir deras dari mulutnya selagi pergumulan mereka berlangsung makin intens karena Luz kemudian menjatuhkan Ikram ke tanah.

Mati, kau, Bocah Supersadis!

Makian Ikram menghentikan serangan Luz. Kekeh kepuasan lolos dari bibirnya, sementara Ikram terbatuk meludahkan darah segar yang mulai mengental di mulut. Cyborg itu terengah-engah, nyaris kehabisan napas. Tak kuasa menahan sakit, Ikram tertelungkup di tanah, kalah, dan tidak sanggup bicara.

Kemudian, ada yang menarik perhatian Luz. Aura kegelapan mulai menyelubungi Dinar. Sedari tadi, isi kepala gadis itu meneriakkan kalimat “Tidak suka" akan dirinya.

“Princess ....” Luz memanggil gadis itu.

Lihat selengkapnya