Beyond Theta

Ravistara
Chapter #11

A Heroine Riding Cybership 2

Dinar tersentak. Ketika ia mengangkat kepala, Celica sudah berdiri di hadapannya dan memandang angkuh dengan sorot penuh hasrat membunuh. Gadis itu membungkuk menjajari wajahnya hingga menerbitkan ketakutan seketika di hatinya.

“Heh, pandang aku jika sedang bicara!” Celica mencekal pipi Dinar yang berusaha menghindar. Anehnya, pada saat itu juga, sebuah percikan menjalari segenap indra Celica. Gadis itu buru-buru melepaskan tangan darinya untuk menetralkan sensasi tersebut, seolah ada dilema yang sedang berkecamuk di raut wajah cantik, tapi kejam itu.

Dinar bingung ketika Celica malah mundur dan menjaga jarak darinya, Ia tidak tahu bahwa Celica sedang berjuang menyingkirkan setiap cuplikan memori milik Luz yang berputar cepat di kepala gadis itu. Ia mendadak gentar ketika sebuah pedang besar tiba-tiba muncul tergenggam di tangan Celica. Permukaan mengilap bak cermin perak dari bilah logam merefleksikan sempurna bayangan wajah Dinar yang memucat.

“Bukankah Luz sudah bilang padamu kalau kau tidak punya kesempatan untuk menang dalam mimpi orang lain? Semua yang kaulakukan sekarang, sia-sia saja!” Suara Celica sejernih dawai, tetapi nada berangnya sungguh menciutkan nyali.

“Aku tahu!” Dinar menentang mata Celica dengan keberanian yang sekarat, tetapi ia keras kepala.

“Kenapa tetap kaulakukan?” imbuh Celica jengkel.

“Karena aku ingin menyelamatkan Luz!” jawab Dinar lantang tanpa setitik pun nada keraguan. Hanya saja, sorot matanya berbicara ketakutan dan mengirimkan gelombang penuh isyarat bahaya.

Selarik kilat terbias di bola mata Celica sebelum sepasang manik beriris perak miliknya mengeruh. Gadis itu tampak berusaha menggenggam gagang pedang lebih kuat. Padahal, hanya butuh satu tebasan bagi Celica untuk menghabisi Dinar. Namun, ia kemudian hanya mampu menarik dan menghela napas dengan susah payah, seolah ada sesuatu yang tak terelakkan menghalangi. Perlahan, naluri Luz terbangun. 

Selama detik-detik menegangkan, Celica berhasil menguasai diri. Mata pedang lantas teracung ke udara, siap menyerang. Dinar pun melakukan satu tindakan genting dengan menghambur menubruk gadis itu, tidak mengacuhkan bahaya yang kini tepat di depan mata. Ia rengkuh erat kedua bahu Celica seraya menatap sepenuh tekad.

"Celica, kumohon. Kembalikan Luz!”

Celica terpaku karena Dinar ada dalam radius serangannya. Tidak butuh pedang segala untuk mengakhiri riwayat gadis itu, tinggal ia puntir saja batang leher berkulit penuh bintik miliknya. Sayang, tubuh Celica berkhianat. Ia tidak berdaya membalikkan ledakan kimiawi yang menyerbu. Perasaan Luz yang ia lawan mati-matian mulai meracuni dirinya tanpa kendali.

Bunyi logam berdentang ketika Celica membiarkan pedang di tangannya jatuh menghantam tanah. Sebagai ganti, tangannya terentang ke leher Dinar, lantas bergerak turun menyusuri rambut bergelombang di balik punggung, hingga berhenti di lekuk pinggang gadis itu, yang lantas ia remas dengan kuat.

“Aku ingin dirimu,” desis Celica pelan dengan tatapan lapar. Gadis ini sudah gila.

Rangkaian pikiran berproses cepat dalam benak Dinar. Ia baru saja terhindar dari serangan maut Celica, tetapi kini malah terancam akan menjadi mangsanya. Dinar berontak. Ia langsung mencekal kedua sisi tengkuk Celica untuk menahan gerakan gadis itu. Dengan sorot mata penuh amarah, Dinar membentak, “Luz, aku benci dirimu yang seperti ini! Jangan pernah berpikir untuk melakukan sesuatu yang berengsek atau aku akan menendang bokongmu hingga kamu tidak sempat menyesal!”

Bagai diterpa gelombang pasang, gejolak dalam diri Celica padam seketika. Umpatan yang terlontar dari mulut Dinar bagai sebaris mantra pembeku. Setiap jengkal tubuhnya perlahan mengkristal dan gadis itu menjelma menjadi maneken bisu. Dinar pun amat terkejut menyaksikan perubahan yang sangat cepat itu. Namun, kini ia mampu bernapas lega karena telah terbebas dari situasi mengerikan barusan. 

“Apa yang terjadi?” Di suatu tempat, Ikram kebingungan karena ular besar yang diciptakan oleh Celica lenyap setelah pemilik energinya tidak aktif.

“Kita sudah mengalahkan Celica,” jawab Dinar gembira melalui alat komunikasi jarak jauh mereka. Ia segera melepaskan diri dari lengan Celica yang kaku mematung.

“Benarkah?” Ikram tak kalah girang. Reaksinya ketika kembali bergabung, sama seperti Dinar; cyborg itu terkesima mendapati kondisi Celica yang mengherankan.

"Wow, ini keren!” Ikram langsung memeriksa setiap jengkal, termasuk menjentik di depan mata gadis itu, dan tentu saja Celica tidak merespons.

“Apa yang kaulakukan padanya?” tanya Ikram penasaran.

“Hanya permainan dominasi pikiran,” jawab Dinar dengan tampang tidak yakin. Ia sendiri tidak punya petunjuk pasti apa yang telah terjadi.

“Kau punya kekuatan Medusa?” Ikram mengejek tidak percaya akan penjelasan Dinar yang kedengarannya terlalu mudah.

“Tentu saja tidak!” Dinar kesal.

“Duh, kita satu tim dan kau mencoba berbohong pada rekanmu?”

“Sungguh, aku tidak menyembunyikan apa-apa. Celica membeku begitu saja saat aku berusaha menghipnotis pikirannya.”

“Itu sungguh aneh.”

Lihat selengkapnya