Beyond Theta

Ravistara
Chapter #13

Deep Dive 2

Hawa panas di dalam angkot kian menyengat. Dinar tidak menghiraukan keringat yang mengalir deras di pelipis karena ia terlalu cemas bolak-balik mengamati jarum panjang yang bergulir pada jam tangan.

“Pak, bisa lebih cepat? Saya sudah hampir terlambat,” keluhnya pada sopir di depan. Ia adalah penumpang terakhir, hingga Dinar merasa sangat gelisah.

“Maaf, Neng, kayaknya cuma bisa sampai di sini. Aki saya mati,” jawab sopir itu setelah berkali-kali gagal menghidupkan starter. Dinar tak punya waktu lagi, jadi ia tergesa-gesa turun dari angkot setelah membayar seadanya.

“Neng, uangnya kurang!” teriak Pak Sopir memanggil, tetapi Dinar tidak menghiraukan. Ia berlari dengan cepat menyusuri jalan setapak agar lekas tiba di tempat tujuan.

Akhirnya, bangunan sekolah itu tampak juga dari kejauhan dan ia bisa menata napas yang megap-megap. Dinar berlari melewati lapangan, lalu masuk ke dalam salah satu ruangan. Semua orang sudah duduk dengan rapi di dalam. Uh, terlambat masuk kelas lagi, deh.

Pak Guru kelihatan tidak senang, tetapi beliau langsung menyuruhnya duduk. Dinar bengong sesaat karena semua tempat sudah terisi. Ia harus duduk di mana?

“Di sini saja.” Seorang cowok bergeser ke sisi jendela untuk memberikan bangku yang semula ia duduki pada Dinar.

Ternyata, Dinar salah. Masih ada satu tempat kosong di dalam kelas yang tidak pernah ia lirik. Alasannya, karena cowok itu.

“Kenapa diam saja? Cepat duduk!” hardik Pak Guru. Oh, ia tidak punya pilihan. Dinar pun menempati bangku itu dengan ragu. Ia berkeringat hebat karena telah berlari sepanjang jalan. Ditambah lagi senyum cowok di bangku sebelah mampu membuat jantung Dinar melorot ke bawah. Dinar mengendus tubuhnya, kalau-kalau saja ia bau. Semoga saja deodoran andalan yang ia pakai tidak mengecewakan. Ia tidak pernah bermimpi akan berada di situasi secanggung itu.

Lamunan Dinar terputus ketika seseorang membagikan kertas soal ke meja mereka. Ah, iya, hari ini ada UTS. Inilah alasan kenapa ia tidak boleh terlambat masuk kelas. Dinar mencoba berkonsentrasi mengerjakan ujian, tetapi gagal lantaran terlalu sadar dengan keberadaan cowok di samping. Cowok itu tampak mengerjakan soal-soal dengan mudah. Saat menyadari Dinar sedang memandangi dirinya, cowok itu kembali melemparkan senyum maut yang mampu membuat perasaan Dinar kebat-kebit tidak keruan.

Kertas jawaban di depan Dinar masih kosong melompong begitu bel berbunyi tanda waktu ujian berakhir. Padahal, ujian kali itu tidak begitu sulit, tetapi otaknya seperti disabotase sehingga tidak sanggup berpikir. Ini pasti gara-gara si dia, Dinar melirik cowok di sebelah yang kini sudah melengkapi seluruh jawaban.

“Kamu baik-baik saja?” Cowok itu bertanya pada Dinar dengan khawatir karena kertas milik gadis itu masih bersih tanpa coretan.

“Apakah ujiannya terlalu susah?” tanyanya lagi dengan nada tidak percaya.

Dinar mengangguk sebagai jawaban pertanyaan yang pertama, kemudian menggeleng untuk menjawab pertanyaan kedua. Ia tampak kebingungan karena harus menjawab dua pertanyaan sekaligus. Cowok itu malah tertawa menyaksikan tingkah konyolnya.

“Berhenti bermain-main, kumpulkan jawaban kalian sekarang!”

Dinar tidak sempat protes dan hanya memandangi kertas jawaban yang diambil tiba-tiba darinya dengan pasrah. Habislah sudah.

Akan tetapi, cerita horor itu belum selesai. Terdengar bunyi ketukan di pintu yang memecah keributan seisi kelas. Wajah Dinar langsung berubah pias ketika melihat sopir angkot yang ia tumpangi pagi tadi sedang berbicara serius dengan Pak Guru sambil menunjuk-nunjuk ke arah dirinya.

Bagaimana sopir itu bisa menemukannya di sini? Apakah lelaki itu mencarinya hanya untuk menagih sisa bayaran yang kurang? Ekspresi di wajah Pak Guru kemudian berubah garang dan Dinar tahu bahwa ia sedang dalam masalah. Pak Guru berteriak lantang.

“DINAR FERIZAL! Berdiri di depan kelas, sekarang!”

-=-

Lihat selengkapnya