Belum selesai Dinar menamatkan kalimatnya, Gathan yang sedang menyeruput gelas minuman, terbatuk. Mata cowok itu sampai berair.
“Apa maksud kamu, Dinar?”
“Kenapa kamu?”
Mama dan Tante Ratna berbicara serempak, lalu punggung Gathan diusap-usap oleh ibunya dengan cemas.
“Ada laki-laki yang dekat denganmu, Dinar?” Itu adalah suara Papa yang meninggi. Mama segera menenangkan lelaki di sampingnya agar tidak lepas kendali. Segera saja situasi memanas. Gathan turut melemparkan pandangan tajam seolah tidak suka. Hei, punya hak apa, dia? Duh, Luz …, inilah yang kuhadapi di dunia nyata selagi kamu bersantai di Theta!
Tentu bukan hal itu yang bisa ia sampaikan sekarang. Dinar harus meluruskan kesalahpahaman itu.
“Maksudku, aku sekarang punya teman cewek.”
Urat-urat wajah di leher Papa yang mengeras, kembali rileks. Mama pun menarik napas lega.
“Jadi, kamu mau pindah hanya karena punya teman baru? Jangan bilang kalau kamu berniat pindah ke tempatnya, ya, Sayang?” Mama seolah beretorika.
“Bukan begitu, kok, ceritanya, Ma.” Dinar menggeleng cepat.
“Lantas?”
“Aku ingin menjaga perasaan temanku itu karena dia suka sama Gathan.”
“HAH?”
Dinar menyaksikan ekspresi bermacam-macam yang terpampang di wajah setiap orang. Pertemuan keluarga kali itu sungguh luar biasa. Ia merasa seperti sedang berada dalam tayangan sinetron “Ikan terbang” saja.
"Oalah, dikira apa. Rupanya, teman kamu itu cemburu, ceritanya.” Tante Ratna tergelak karena penuturan Dinar sempat bikin tegang suasana.
“Tapi, enggak segitunya juga, kali, sampai harus pindah apartemen segala.” Mama turut berpendapat.
“Iya, tapi masalahnya ....”
"Cewek itu cemburu karena aku sukanya sama Dinar!” Gathan yang sedari tadi diam saja, keburu mendahului kalimatnya. “Dinar, aku sudah bilang sama kamu, tidak perlu memikirkan orang lain, fokus hubungan kita ke depannya saja.”
Dinar bangkit dari kursi lantaran emosi mendengar sandiwara Gathan. “Gathan!” bentaknya, lalu tersadar kalau mereka sekarang sedang berada di kafe. Keributan yang ditimbulkan mulai menarik perhatian pengunjung lain dan kesan terusik gagal ditutupi oleh para pelayan. Dengan berat hati, Dinar duduk kembali di kursi, berusaha menekan lonjakan emosi dalam dada dengan mengatur napas perlahan. Sementara itu, jangan ditanya bagaimana reaksi keempat orang tua mereka yang seolah baru saja disambar geledek.
“Baiklah, tolong ceritakan semuanya dengan jelas, Anak-anak!” Om Ndaru berupaya menenangkan kegelisahan para orang tua dengan pembawaannya yang karismatik.