Loca Primavera? Masih ada tempat selain Theta dan Delta? Kekasihnya penuh dengan kejutan! Ada saja hal baru yang diungkapkan oleh Luz, seperti petualangan berseri yang tidak tamat-tamat macam sinetron ratusan episode.
“Apa kau berubah pikiran?” tanya Luz geli. Tiba-tiba saja, Dinar menyesali pilihannya. Gadis itu baru memikirkan arti sebuah pengasingan yang mungkin saja serupa dengan penyekapan atau penculikan. Sebelum Dinar mengangguk, Luz lekas berseloroh.
“Kupikir, kau adalah seorang penulis fantasi yang haus akan petualangan.”
Dinar tercenung. Memang benar. Namun, petualangan yang ia ciptakan bersama Pangeran Torri adalah cerita klasik tentang dunia naga yang masih berada dalam jangkauan imajinasi, sedangkan petualangan bersama Luz lebih seperti membuka kotak Pandora yang penuh jebakan misteri.
“Luz, bolehkah aku menuliskan petualanganku bersamamu dalam sebuah novel?”
Alis tajam Luz bertaut mendengar pertanyaan darinya. “Don't you dare ...,” ancam kesatria itu memperingatkan. “Aku bukan Pangeran Torrimu, Sayang. Jangan coba-coba membagi kisahku pada dunia.”
Seakan ada tombak takkasatmata menghunjam dada Dinar. Tampaknya, ia telah mengucapkan keinginan yang keliru. Ia masih diam terpana ketika tangan Luz yang berada di balik sarung logam dingin menyentuh pipinya penuh tuntutan. “Aku tidak sabar ingin membawamu ke Loca Primavera.” Perkataan kesatria itu berhasil membuat Dinar bergidik.
“Nah, sekarang, mana yang kaupilih?”
Mata Dinar membulat takjub tatkala sekonyong-konyong udara di sekitar mereka memuai, lalu ia sadar seluruh badan Luz juga berpendar lembut. Lalu kemudian, dua buah hologram mulai menampakkan wujud dan bertransfigurasi menjadi dua jenis “Benda" yang sangat berbeda dan mungkin hanya bisa ia lihat dalam film-film fantasi dan fiksi ilmiah.
Baiklah, Dinar tidak heran kenapa tiba-tiba ada seekor pegasus muncul di hadapan mereka, tetapi kenapa makhluk itu bertanduk seperti unicorn? Kuda seputih salju itu jelas-jelas bersayap, tetapi Luz agak berlebihan dengan menambahkan tanduk di depan kepalanya.
"Unipeg. Persilangan keduanya,” jelas Luz ketika membaca kebingungan Dinar. Dasar …, seenaknya saja me-reka ulang makhluk fantasi, protes Dinar jengkel. Luz hanya menyeringai lebar karena berhasil mengerjai gadis itu.
“Aku pilih ini saja,” cetus Dinar mendekati si peg—errr, baiklah, si unipeg putih gagah. Dinar bermaksud menyentuh makhluk mengagumkan itu. Namun, belum sempat tangannya mencapai sasaran, makhluk itu tiba-tiba meringkik nyaring mengangkat kedua kaki depan tinggi. Dinar refleks menjatuhkan diri ke tanah untuk menghindar.
“HIEEE!”, “Aaa!”
Keduanya menjerit bersamaan dan tidak ada yang lebih menyebalkan daripada mendengar gelak tawa Luz saat itu.
“Luz!” Dinar bersungut. Pasti Luz menganggap adegan tadi lucu sekali. Dasar kekanakan!
Dinar bangkit dengan marah menuju benda kedua yang sama sekali tidak menarik perhatian. Ia tepuk benda itu dengan keras sebelum Luz sempat memberi peringatan.
“Kenapa jet tempur? Apa kita akan pergi berperang? Ack!” Dinar pun meringis karena benda logam besar itu menyetrum. Sebagian rambut halus di puncak kepala Dinar berdiri kaku saat arus listrik bertegangan rendah mengaliri segenap tubuhnya. Sejenak, ia tidak bisa bergerak hingga tangannya tersentak lepas. Tangan itu kebas lalu mati rasa. Ia pun jatuh terjengkang sekali lagi ke tanah dan mendarat di atas bokong seraya meringis.
“Luz, apa kamu berniat membunuhku?” Lelucon Luz kali itu sungguh keterlaluan. Dinar tidak mau menyambut uluran tangan Luz yang bermaksud membantu. Sungguh tidak lucu.
Maka, gadis itu hanya bisa memekik ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat ke udara, lalu meluncur ke arah sang kesatria. Luz menangkap tubuh Dinar lantas memberi tatapan menghunjam.
“Kau menyesal sekarang karena tidak memilih sebuah ciuman?”
“Kenapa aku merasa sedang dihukum?” celetuk Dinar sinis. Dinar tidak tahu kenapa kekasihnya tiba-tiba menunjukkan sisi kejam. Apakah ia baru saja melakukan kesalahan?
Oh, ya …, Gathan.
“Berhentilah menyebut nama orang itu, juga membanding-bandingkan aku dengannya!”
“Luz, kamu …, cemburu?”
“Kau akan menyesal telah bertanya begitu padaku, Sayang. Sepertinya, kau tidak tahu batasan dalam dunia pria. " Luz menunduk hingga manik perak berkilatnya memantulkan bayangan Dinar, “Bila kau tidak patuh, maka kau akan kehilangan kepercayaanku.”
Ada rasa takut beriak dalam dada Dinar. Dulu, Ikram. Kini, ia tidak tahu kenapa Luz terpicu sedemikian rupa oleh seorang Gathan. Sorot mata kesatria itu bagai sembilu yang menyayat hati Dinar tajam.
“Aku pastikan, tidak ada selain dirimu, Luz.” Dinar menyuarakan isi hati cepat karena dari cara Luz bicara, kekasihnya itu seolah bisa menghilang kapan saja dan Dinar tidak ingin itu terjadi.
“Kalau begitu, buktikan sekarang dan jalani hukumanmu.”