“Ada yang lucu?” tanya Dinar kesal ketika Luz tertawa geli mendengar cerita gadis itu. “Aku tidak tahu kenapa hari ini semua orang menyinggung tentang makan malam. Makan malam apa? Aku saja sudah berniat menolak Gathan. Kok, bisa mereka kompak nge-prank begitu? Jangan bilang kalau kamu juga.”
“Lupakan saja.” Luz tersenyum. “Jadi, ibumu sedang bersamamu sekarang?”
"Ya dan jangan berpikir macam-macam, Tuan Kesatria!”
“Misalnya?”
Apa saja.
“Aku sedang tidak ingin menerjemahkan pikiran, katakan saja.”
Luz bodoh.
Kesatria itu menautkan alisnya yang tebal. Biasanya, Luz hanya tertawa menanggapi, tetapi kali ini tidak. Kata-kata Dinar menampar wajah Luz hingga semakin kaku. Duh, sepertinya gadis itu telah salah bicara.
“Tidak perlu meminta maaf. Kau benar, mungkin aku bodoh karena hanya bermain-main di sini, sementara dunia di luar sana mungkin sedang kacau.”
Dinar tidak sanggup bereaksi. Luz berbicara dengan sangat serius dan ia merasakan ada nada terluka dalam untaian kalimat kesatria itu.
“Aku tidak bermaksud begitu ....”
“Kau cuma bercanda, 'kan? Aku paham, tetapi aku tidak pernah bercanda tentangmu, Dinar. Meskipun tampaknya mustahil, tetapi aku serius soal hubungan kita.”
“Mak-sud-mu?”
Tubuh Luz berpendar terang memancarkan cahaya putih menyilaukan yang melingkupi seluruh tempat dan sekejap kemudian mereka berada di sebuah lanskap indah penuh bunga, danau, dan istana-istana kristal mencakar biru angkasa. Loca Primavera. Dinar disorientasi sesaat, lalu menyadari sesuatu hingga terbelalak.
“Jadi, sebenarnya kamu bisa membawaku ke sini tanpa unipeg dan jet?”
“Apa aku perlu terikat dengan peraturan yang kubuat sendiri?”
Ah, Luz benar-benar bodoh! Apa artinya semua ini?
Dinar membuang muka kesal dan berusaha menghindar, lalu kesatria itu mendadak muncul di hadapan dan tiba-tiba saja gadis itu terperangkap dalam kedua lengan Luz.
“Luz …, aku benar-benar marah kepadamu!”
“Ssst, Dinar,” sorot mata Luz menatap sayu, “Di dunia ini, hanya kau yang nyata bagiku, sedangkan yang lain semu.”
“Luz …, jangan coba merayuku.” Dinar segera disergap rasa canggung, apalagi ketika sepasang sayap hologram milik kesatria itu terkembang lebar, lalu Luz membopong dan membawa gadis itu terbang di atas Loca Primavera. Sekali lagi, Dinar dibuat takjub oleh panorama di bawah mereka. Sejauh mata memandang, keindahan terhampar membentang luas, dan tatkala ia berpaling pada sang kesatria, keindahan tadi berpadu sempurna dengan wajah bak lukisan di depan mata. Tanpa sadar, Dinar menyentuh sisi wajah Luz lalu membingkainya dengan kedua telapak tangan penuh rasa kekaguman.
“Harap jangan menyentuh apa pun, Princess. Ibumu tepat di samping, 'kan?”
Dinar menggeram kesal. “Kenapa Anda tidak membawaku berteleportasi saja, Tuan Kesatria?”
“Sejak kapan kau bicara formal seperti itu pada kekasihmu?”
“Sejak Anda menipuku.”
“Ayolah, Sayang. Kau sungguh pendendam.”
“Siapa yang tahu jati dirimu? Di balik wajah tampan itu, bisa saja kamu seorang kakek tua penipu, bukan?”
“Apakah kulitku terlihat keriput dalam Resonansi Dinar-Luz?”
Sejenak Dinar kehabisan kata, lalu teringat sesuatu dan berseru, “Kamu bersama seorang wanita!”